<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sent</title>
	<atom:link href="http://fajrinrasyid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com</link>
	<description>just one way I can think to send messages</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 07:32:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fajrinrasyid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>sent</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fajrinrasyid.wordpress.com/osd.xml" title="sent" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fajrinrasyid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menuruti pasar atau membuat pasar menuruti kita?</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/06/06/menuruti-pasar-atau-membuat-pasar-menuruti-kita/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/06/06/menuruti-pasar-atau-membuat-pasar-menuruti-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 16:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat ketika sedang di dalam bus dari Jakarta menuju Pekalongan. Saya terpikir setelah tidak tahu lagi harus berbuat apa karena setelah saya naik, hingga satu setengah jam kemudian pun bus belum berangkat melihat penjual makanan ringan yang entah sudah berapa kali lewat. Bagi pembaca yang biasa naik bus atau kendaraan umum lainnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=238&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini saya buat ketika sedang di dalam bus dari Jakarta menuju Pekalongan. Saya terpikir setelah <del>tidak tahu lagi harus berbuat apa karena setelah saya naik, hingga satu setengah jam kemudian pun bus belum berangkat</del> melihat penjual makanan ringan yang entah sudah berapa kali lewat. Bagi pembaca yang biasa naik bus atau kendaraan umum lainnya, atau mengunjungi terminal, pasti familiar dengan makanannya: hampir selalu mereka menjual tahu sumedang, lontong, telur puyuh, kacang, nangka, dan beberapa jenis makanan kecil lainnya.</p>
<p>Pertanyaan lantas muncul, kenapa hampir di semua tempat mereka kompak menjual makanan kecil tersebut (kalaupun ada variasi, tidak banyak) – bukankah jenis makanan kecil lain masih banyak? Apakah mereka menurut kemauan pasar (saya memang suka tahu Sumedang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tapi saya tidak tahu seberapa persen pengguna kendaraan umum yang suka) atau mereka memang inginnya membuat itu sehingga pasar menurut mereka?</p>
<p>Saya tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut – saya tidak sempat menanyakan kepada mereka karena ternyata bus berangkat tidak lama setelah saya mulai menulis <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Tapi saya ingin melanjutkan tulisan ini pada dua kemungkinan di atas yang dapat berlaku di industri lain – yaitu menuruti pasar dan membuat pasar menuruti kita.</p>
<p>Strategi menuruti pasar merupakan strategi yang sangat umum dalam memberikan layanan kepada pelanggan (entah itu produk ataupun jasa). Mudahnya, juallah barang yang memang dicari pelanggan – contohnya orang yang menjual paying di musim hujan dan beralih menjadi penjual kacamata hitam atau topi lebar di musim kemarau / panas. Strategi ini merupakan strategi yang low risk (karena produk kita hampir pasti dicari oleh konsumen) namun tentu saja karena akan banyak orang yang berpikiran seperti ini, maka kita akan berhadapan dengan banyak sekali pesaing.</p>
<p>Sebaliknya, strategi membuat pasar menuruti kita merupakan strategi yang sangat berisiko dan jarang dilakukan orang. Berbeda dengan orang kebanyakan, orang yang menjalankan strategi ini tidak terlalu memedulikan hal yang saat ini disukai oleh pasar / masyarakat. Sebaliknya, ia hanya berfokus pada membuat suatu layanan yang ia yakini akan digandrungi oleh masyarakat. Steve Jobs dengan salah satu produknya iPad merupakan salah satu contoh paling jelas. Saat ia meluncurkan iPad, orang lebih familiar dengan notebook. Namun, karena ia yakin iPad dapat diminati oleh banyak orang, ia tetap meluncurkannya dan benar saja, iPad cukup laris dan bahkan banyak perusahaan lain yang meluncurkan produk serupa.</p>
<p>Lantas, mana yang lebih baik? Tiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menuruti pasar memang cara yang lebih mudah namun karena itulah akan timbul banyak pesaing – oleh karena itu untuk bisa sukses dengan cara ini, kita harus unggul entah itu dalam hal kualitas, biaya, ataupun waktu. Sebaliknya, membuat pasar menuruti kita merupakan cara yang lebih sulit dan lebih berisiko – karena bisa saja ternyata produk yang dikembangkan ternyata tidak diminati oleh masyarakat. Untuk bisa sukses dengan cara ini, yang terpenting adalah bisa mengatasi masalah yang melanda kebanyakan masyarakat saat ini, atau yang lebih sulit lagi, yaitu menciptakan kebutuhan masyarakat akan produk tersebut.</p>
<p>Selamat mengembangkan produk / jasa yang digunakan masyarakat banyak! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=238&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/06/06/menuruti-pasar-atau-membuat-pasar-menuruti-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bunga Berbunga dan Menghitung Kebutuhan Pensiun</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/23/bunga-berbunga-dan-menghitung-kebutuhan-pensiun/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/23/bunga-berbunga-dan-menghitung-kebutuhan-pensiun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 01:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Albert Einstein pernah berujar, “The most powerful force in the universe is compound interest.” Sedikit banyak saya sepakat dengan itu, meskipun saya bukan fisikawan #abaikan. Jadi sejak beberapa bulan terakhir saya semakin concern soal perencanaan keuangan terutama setelah penghasilan turun karena gak lagi kerja di BCG Oke, intinya kita semua tahu bahwa biaya hidup itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=232&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Albert Einstein pernah berujar, “<em>The most powerful force in the universe is compound interest</em>.” Sedikit banyak saya sepakat dengan itu, meskipun saya bukan fisikawan #abaikan.</p>
<p>Jadi sejak beberapa bulan terakhir saya semakin concern soal perencanaan keuangan <del>terutama setelah penghasilan turun karena gak lagi kerja di BCG</del> <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Oke, intinya kita semua tahu bahwa biaya hidup itu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun, saya punya pertanyaan yang lebih spesifik, seberapa naik sih? Misalnya biaya hidup saya <strong>2 juta rupiah per bulan</strong> (ini misalnya saja ya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  dan anggap saja usia saya saat ini 25 tahun), berapa biaya hidup saya per bulannya ketika saya pensiun kelak – ketika usia saya 55 tahun? Menurut saya kita perlu mengetahui informasi ini supaya bisa mempersiapkan dana pensiun agar nantinya kita bisa hidup layak ketika tua.</p>
<p>Masih belum tahu jawabannya? Oke, katakanlah kenaikan biaya hidup – dalam bahasa kerennya inflasi – besarnya 10 persen per tahun (meskipun bang Aidil Akbar sang perencana keuangan tersohor itu menyarankan menggunakan angka 12,64 persen per tahun, tapi mari kita coba di angka 10 persen agar memudahkan perhitungan). Sudah bisa dihitung? Apakah biaya hidup saya nantinya menjadi 2 juta ditambah 10 persen x 30 tahun (55 – 25 tahun) atau sekitar 8 juta rupiah?</p>
<p>Nope. Mungkin banyak diantara pembaca yang tahu bahwa perhitungan ini salah karena hal ini mengasumsikan kenaikan 10 persen per tahun itu tetap secara absolut. Padahal, kenyataannya kenaikan 10 persen per tahun itu selalu dihitung berdasarkan biaya di tahun sebelumnya. Artinya besar absolut kenaikan itu akan semakin besar setiap tahunnya. Sebagai contoh, misalnya biaya hidup saya saat ini 2 juta rupiah, maka kenaikan biaya hidup saya tahun depan adalah 200 ribu rupiah. Sementara itu, 2 tahun berikutnya kenaikan biaya hidup saya tidak lagi 200 ribu rupiah melainkan 10 persen dari (2 juta + 200 ribu) atau 220 ribu rupiah.</p>
<p>Kembali ke pertanyaan semula: berapa biaya hidup saya ketika saya pensiun 30 tahun lagi? Jreng jreng.. <strong>35 juta rupiah per bulan</strong>. Bercanda nih? Gak kok. Seperti disebutkan Einstein di awal, itulah hebatnya konsep yang disebut <em>compound interest </em>atau bunga berbunga atau bunga majemuk, dimana semakin tinggi bunga atau kenaikan, maka nilai yang terjadi akan berkali-kali lipat lebih besar dari nilai semula. Contoh lagi nih, kalo saya gunakan asumsi Aidil Akbar yang 12,64 persen dan bukan 10 persen, maka biaya hidup saya ketika pensiun yaitu <strong>71 juta rupiah per bulan</strong>. Wow!</p>
<p>Hehe.. udah mulai kepikiran buat menyisihkan penghasilan buat hari tua kelak? Gimana dong caranya biar pas hari tua punya dana 71 juta rupiah per bulan padahal sudah gak kerja lagi? Jawabannya ya tetap bunga berbunga lagi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Kalau dengan asumsi kenaikan 10 persen maka biaya hidup kita dari 2 juta menjadi 35 juta rupiah, maka jawaban paling sederhana adalah, pikirkan bagaimana caranya penghasilan Anda bisa berkembang lebih dari 10 persen tersebut. Menabung di bank baik dalam bentuk tabungan ataupun deposito jelas bukan solusi, karena pertumbuhannya “hanya” 8 persen atau bahkan kurang. Oleh karena itu, putarlah dana Anda di tempat lain jika ingin bertujuan agar uang Anda tumbuh, entah itu di saham, reksa dana, emas, properti, maupun yang paling saya anjurkan namun paling sulit – usaha riil <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di bawah ini saya lampirkan link dokumen simulasi menghitung kebutuhan dana pensiun yang bisa pembaca gunakan untuk mengatur dana yang perlu disisihkan per bulannya agar bisa hidup nyaman ketika sudah tidak bekerja. Pembaca bisa memasukkan sendiri data-data seperti biaya hidup per bulan, investasi yang dibutuhkan per bulan, kenaikan biaya hidup, kenaikan investasi, usia saat ini, usia mulai investasi, usia pensiun, dan usia harapan hidup. Lalu pembaca dapat melihat apakah investasi yang disisihkan per bulan cukup untuk membiayai pensiun kelak <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a title="Dana Pensiun" href="http://www.4shared.com/document/WErQ4siL/FR_dana_pensiun.html">http://www.4shared.com/document/WErQ4siL/FR_dana_pensiun.html</a></p>
<p>Selamat mempersiapkan diri dan silakan bertanya atau berkomentar (apabila ada yang kurang jelas atau merasa ada yang keliru).<strong></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=232&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/23/bunga-berbunga-dan-menghitung-kebutuhan-pensiun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/09/semoga-pt-kai-dapat-membenahi-metode-penjualan-tiket/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/09/semoga-pt-kai-dapat-membenahi-metode-penjualan-tiket/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 13:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life Experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini baru saya alami beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 2011. Saya bermaksud pulang ke Pekalongan dari Jakarta dengan menaiki kereta Argo Anggrek dengan jadwal keberangkatan pukul 21.30. Saya tahu, akan lebih baik jika memesan kereta api beberapa hari sebelumnya karena sangat riskan untuk memesan tiket langsung pada hari H karena ada risiko [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=229&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian ini baru saya alami beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 2011. Saya bermaksud pulang ke Pekalongan dari Jakarta dengan menaiki kereta Argo Anggrek dengan jadwal keberangkatan pukul 21.30. Saya tahu, akan lebih baik jika memesan kereta api beberapa hari sebelumnya karena sangat riskan untuk memesan tiket langsung pada hari H karena ada risiko tidak kebagian tiket, calo, dan sebagainya. Namun, dikarenakan kesibukan dan lain hal (ciee yang baru pindah kerja <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), saya baru bisa ke stasiun sekitar 1 jam sebelum jam keberangkatan kereta.</p>
<p>Nah, di sanalah, untuk pertama kalinya saya mengalami secara langsung “dikerjai” oleh pihak-pihak yang berusaha memungut keuntungan dari calon penumpang seperti saya – meskipun saya tetap tidak mau mengikuti permainan mereka <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Silakan pembaca membaca sampai habis dan menilai, apakah hal seperti ini memang wajar terjadi di perusahaan sekelas PT KAI?</p>
<p>Jadi, saya tiba di stasiun sekitar 20.45 dan menanyai petugas berpakaian hitam berhelm putih (petugas keamanan?) mengenai ketersediaan tiket Argo Anggrek malam itu. Dia mengatakan sudah habis dan mempersilakan saya untuk melihat ke layar besar yang menampilkan ketersediaan semua tiket kereta api untuk hari itu dan beberapa hari ke depan. Surprisingly, disitu tercantum jelas bahwa masih ada 3 tiket kosong tersisa. Saya lantas menanyakan hal ini dan dia nampak bingung, lantas mendatangi petugas lain dan berdiskusi entah apa.</p>
<p>Karena saya merasa saya harus segera memesan tiket karena takut kehabisan, saya langsung mendatangi loket yang saat itu kosong untuk memesan tiket tersebut. Ternyata si petugas di loket tersebut langsung menjawab bahwa tiket tersebut habis. Saya komplain dengan menyebutkan bahwa di layar besar disebutkan masih ada 3 tiket tersedia. Dia lantas mengetik sesuatu di komputer lagi (entah apa, saya tidak dapat melihatnya), menelepon entah siapa, lalu kembali mengatakan kepada saya bahwa tiket tersebut memang habis. Dia lantas mempersilakan saya untuk kembali melihat layar besar tadi.</p>
<p>Ternyata di layar besar terpampang bahwa tiket sudah habis. Oke, saya mulai merasa aneh. Namun saya tetap mencoba berpikir positif bahwa mungkin 3 tiket tersebut terjual di sela waktu antara ketika saya melihat layar besar pertama kali dan ketika saya memesan tiket (meskipun selang waktunya kurang dari 3 menit dan seingat saya saat itu loket kosong). Nah, di tengah kebingungan saya dalam memutuskan alternatif untuk pulang, petugas lain yang berpakaian kuning (petugas pembawa barang?) menawarkan apabila saya mau membeli tiket. Dia meminta saya mengikutinya menuju ke temannya di luar stasiun, dan berhubung saya memang perlu pulang ke Pekalongan, saya coba mengikuti mereka. Ternyata mereka menawarkan tiket seharga 450 ribu rupiah dari harga normal 280 ribu rupiah. Tanpa menjawab sepatah kata pun, saya berbalik meninggalkan mereka :p</p>
<p>Saya kembali ke layar besar, dan memutuskan untuk mengambil kereta terpagi keesokan harinya. Saya lantas menuju loket untuk memesan tiket tersebut – saat itu pukul 21.15. Namun, alangkah terkejut ternyata sang petugas loket menanyakan kepada saya, apakah saya mau naik kereta malam itu juga, dia bilang masih ada tiket. Saya refleks bertanya, mengapa tadi dibilang habis? Dia tidak bisa memberikan jawaban selain bahwa ternyata masih ada tiket <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hahaha. Baru kali ini saya dipermainkan dalam hal pengurusan tiket ini, meskipun mohon maaf saja, saya tetap tidak mau membayar lebih. Apa yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini? Lagi-lagi mohon maaf kepada PT KAI, tetapi sekarang yang ada di dalam benak saya adalah, apabila calon penumpang memesan tiket kereta api di hari H terutama di jam-jam menjelang keberangkatan, tiket akan dianggap habis supaya calon penumpang hanya membeli melalui pihak lain dengan harga yang jauh lebih mahal. Nah, baru jika tiket tersebut tidak laku, di menit-menit terakhir tiket tiket akan kembali dijual di loket, untuk meladeni calon penumpang yang desperate (termasuk saya ketika itu, akhirnya saya tetap naik kereta api malam itu dengan harga normal <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Itulah yang saya alami malam itu, dan mungkin saja banyak dialami oleh calon penumpang lain.</p>
<p>Oh ya, saya tegaskan disini saya tidak mendiskreditkan pihak manapun. Siapa yang mengambil keuntungan pun saya tidak tahu. Saya hanya mengemukakan fakta yang terjadi kepada saya malam itu, yang melibatkan pihak-pihak tersebut diatas. Apabila pembaca ada yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih parah, silakan dishare. Akhirnya, semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=229&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/05/09/semoga-pt-kai-dapat-membenahi-metode-penjualan-tiket/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Konsultan, Tentang BCG (Boston Consulting Group)</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/24/tentang-konsultan-tentang-bcg-boston-consulting-group/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/24/tentang-konsultan-tentang-bcg-boston-consulting-group/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 17:36:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu coba deh daftar BCG” Begitu kata salah satu sahabat terbaik saja, Zaky, ketika kami mengobrol-ngobrol sekitar 2 tahun lalu, soal pilihan apa yang ingin ditempuh setelah lulus dari ITB. Saat itu saya tidak tahu apa itu BCG – yang belakangan saya ketahui merupakan singkatan dari Boston Consulting Group. Yang saya pikirkan soal opsi buat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=221&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Kamu coba deh daftar BCG”</em></p>
<p>Begitu kata salah satu sahabat terbaik saja, Zaky, ketika kami mengobrol-ngobrol sekitar 2 tahun lalu, soal pilihan apa yang ingin ditempuh setelah lulus dari ITB. Saat itu saya tidak tahu apa itu <a href="http://www.bcg.com">BCG</a> – yang belakangan saya ketahui merupakan singkatan dari Boston Consulting Group. Yang saya pikirkan soal opsi buat saya ketika itu adalah bekerja di perusahaan IT (terutama yang besar) agar dapat memperoleh banyak pengalaman sebelum melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan kembali untuk membagikan ilmu dan pengalaman tersebut di tanah air.</p>
<p>Akhirnya saya telusuri situs BCG (saya benar-benar telusuri setiap halaman dan dokumen yang ada disana), bertanya-tanya kepada rekan dan senior (kebetulan saat itu ada senior yang bekerja disana) hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa BCG adalah salah satu perusahaan terbaik di dunia yang bergerak di bidang konsultan manajemen strategis, yaitu memberikan jasa konsultasi dalam mendesain dan implementasi berbagai strategi bisnis, misalnya meningkatkan pendapatan, ekspansi ke bidang industri atau negara lain, akuisisi, dan sebagainya.</p>
<p>Awalnya saya sedikit ragu untuk mencoba karena latar belakang pendidikan yang sepertinya kurang nyambung (IT). Meskipun demikian, sepertinya disana banyak analisis mendalam (mengolah data, mengambil kesimpulan, dsb) yang perlu dilakukan dalam pekerjaan yang sepertinya pun bisa mengasah otak saya, dan ini menbuat saya tertarik. Hal lain yang membuat saya condong untuk mendaftar yaitu informasi bahwa konsultan akan terekspos dengan pimpinan perusahaan-perusahaan besar (terutama klien), hal yang langka untuk seorang lulusan S1.</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar BCG. Mungkin ada yang bertanya, kenapa saya tidak consider perusahaan konsultan manajemen lainnya seperti McKinsey, AT Kearney, dsb? Sederhana saja, selera <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Saya menelusuri situs BCG, datang ke presentasi mereka di Shangrilla, bertanya ke orang-orang disana, dan akhirnya merasa ini gue banget hehe. Maka setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan persiapan untuk masuk kesana. Saya akan menceritakan soal persiapan ini pada kesempatan lain (beserta tips yang saya tahu), namun intinya itu bukan proses yang gampang, sehingga pastikan kalau Anda ingin masuk BCG, lakukan persiapan matang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/bcg.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-222" title="bcg" src="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/bcg.jpg?w=600" alt=""   /></a></p>
<p>Dan bulan November 2009, saya memulai perjalanan saya di BCG – dan apa yang saya duga sebagian besar ternyata benar. Kalau saya boleh rangkum, ada dua hal yang membuat BCG perusahaan yang menurut saya sangat baik untuk menjadi pilihan teman-teman yang baru lulus S1. <strong>Poin pertama adalah eksposur yang sangat tinggi</strong>. Setelah dua hari pertama orientasi, saya langsung ditempatkan di proyek bagi perusahaan dunia yang bergerak di bidang consumer goods (bagi yang belum tahu, perusahaan ini membuat produk makanan/minuman/alat perawatan diri yang dapat ditemukan di supermarket/warung). Dan dalam proyek tersebut, saya berinteraksi dengan kepala perusahaan dunia tersebut untuk cabang Indonesia, dan pada akhirnya dengan kepala cabang Asia Pasifik. Wow, saya tidak membayangkan saya dapat berinteraksi dengan mereka pada usia demikian apabila saya bekerja di bidang lain.</p>
<p>Contoh lainnya adalah ditempatkan dalam proyek bagi salah seorang terkaya di Indonesia. Pada akhir proyek, saya beserta tim BCG duduk satu meja dengan orang tersebut (yang saya sering dengar namanya, namun baru pertama kali ini melihat dalam jarak dekat). Dan yang lebih istimewa, kami berdiskusi dalam konteks sejajar, artinya bukan hanya saya mendengarkan beliau berbicara, melainkan saya dan tim BCG mempresentasikan hasil proyek kami, lalu beliau menanggapi dan berdiskusi. Sekali lagi, ini kesempatan langka yang saya yakin sulit ditemui di perusahaan lain.</p>
<p><strong>Poin kedua adalah mobilitas yang tinggi</strong>, baik dalam bidang pekerjaan maupun dalam wilayah pekerjaan. Dalam bidang pekerjaan, selama 1,5 tahun ini saya sudah menangani proyek di bidang industri consumer goods, industrial goods, sektor publik, IT, retail, dan perbankan. Saya merasa beruntung karena saya saat ini, meskipun tentunya masih jauh dari ahli, tetapi cukup familiar dengan tiap bidang industri tersebut – bagaimana bisnis berjalan, apa-apa yang harus diperhatikan dalam tiap industri, dan sebagainya.</p>
<p>Mengenai wilayah pekerjaan? Semenjak kerja di BCG, saya lumayan familiar dengan penerbangan beberapa kali dalam satu minggu hehe. Pernah dalam satu proyek, saya harus mewawancarai dua orang berbeda di dua kota berbeda – Medan dan Denpasar – dengan selisih satu hari! Jadilah saya pada hari Rabu malam terbang dari Jakarta ke Denpasar, lalu melakukan wawancara di hari Kamis, lalu malam harinya terbang dua kali – dari Denpasar ke Jakarta lalu dari Jakarta ke Medan, dan pada hari Jumat saya melakukan wawancara di Medan, lalu malam harinya kembali ke Jakarta. Pada proyek lainnya, saya bahkan harus berada di tiga negara dalam tiga hari (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) – kurang mobile apa coba <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Menurut saya dua poin tersebut sangat bermanfaat terutama bagi orang-orang yang baru lulus S1 karena hal tersebut tidak akan membuat bosan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Malahan, saya dituntut untuk selalu belajar cepat (terutama ketika memulai proyek baru yang pasti akan sangat berbeda dengan proyek sebelumnya). Karena tiap proyek rata-rata berdurasi 3 bulan, besar kemungkinan setelah kita familiar dengan proyek tersebut (sehingga mulai jenuh), kita akan ditempatkan di proyek lain dengan tantangan dan hal yang sama sekali baru.</p>
<p>Apakah ada trade-off? Tentu saja tidak ada pekerjaan yang sempurna. Pekerjaan di BCG menuntut hasil kerja berkualitas tinggi, sehingga waktu kerja kami cenderung lebih tinggi daripada pekerja kantoran pada umumnya. Tetapi hey, karena saya menyinggung orang yang baru lulus S1, bukankah sudah terbiasa dengan tuntutan seperti ini? Hehe.</p>
<p>Sampai kapan saya berencana untuk bekerja di BCG? Untuk saat ini, bulan ini adalah bulan terakhir saya di BCG. Bukan, bukan karena ada hal yang tidak saya sukai di BCG. Malahan, saya merasa sangat bersyukur bisa kerja di BCG, dan saya merekomendasikan BCG sebagai tempat kerja bagi mereka yang ingin tantangan karir terutama terkait dua poin diatas (dan remunerasi tinggi hehe <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ). Namun, ternyata saat ini saya memiliki passion lain yang ingin saya kembangkan, yaitu merintis usaha sendiri. Ke depannya, mulai Mei 2011 saya akan menjadi direktur di <a href="http://www.suitmedia.com">http://www.suitmedia.com</a> bersama sahabat saya Zaky yang saya sebut di awal dan teman-teman lain disana (cerita tentang perusahaan yang satu ini pun akan saya tulis pada kesempatan lain <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada BCG, terutama cabang Asia Tenggara, dan lebih khusus lagi cabang Indonesia, untuk pengalaman yang luar biasa selama 1,5 tahun ini. Semoga BCG bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Untuk saat ini, adios!</p>
<p><a href="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/thanks.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-223" title="thanks" src="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/thanks.jpg?w=600" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=221&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/24/tentang-konsultan-tentang-bcg-boston-consulting-group/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/bcg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bcg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/04/thanks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thanks</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghitung kerugian macet Jakarta</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/12/menghitung-kerugian-macet-jakarta/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/12/menghitung-kerugian-macet-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 18:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan: Sebenarnya versi ringkas postingan ini pernah saya tweet beberapa waktu lalu, namun saya tuliskan kembali disini supaya memperjelas) Oke, resolusi saya tahun ini adalah menulis minimal tiap dua minggu, jadilah saya sekarang menulis soal satu kata yang tidak enak didengar ini. Macet. Siapa sih yang tidak kenal. Apalagi bagi penduduk Jakarta, macet sudah menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=214&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<em>Catatan: Sebenarnya versi ringkas postingan ini pernah saya tweet beberapa waktu lalu, namun saya tuliskan kembali disini supaya memperjelas</em>)</p>
<p>Oke, resolusi saya tahun ini adalah menulis minimal tiap dua minggu, jadilah saya sekarang menulis soal satu kata yang tidak enak didengar ini. <strong>Macet</strong>. Siapa sih yang tidak kenal. Apalagi bagi penduduk Jakarta, macet sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Jarak yang seharusnya ditempuh selama 15-30 menit dapat menjadi 2-3 jam. Bahkan menurut saya, macet nampaknya adalah salah satu masalah terbesar yang melanda ibukota (selain masalah kemiskinan dan pemukiman).</p>
<p>Sebelumnya saya hanya merasakan kerugian emosional akibat macet ini. Kesal karena kendaraan yang saya naiki tidak jalan-jalan, khawatir datang terlambat karena waktu tempuh yang diluar perkiraan, dan semacamnya. Saya lantas berpikir (sambil meratapi nasib terkurung di tengah kemacetan), bahwa macet ini pasti juga menimbulkan kerugian materi.</p>
<p>Akhirnya saya mencoba menghitung-hitung dan terpikir akan dua kerugian utama yang ditimbulkan oleh kemacetan. <em><strong>Pertama</strong></em>, waktu produktif, yaitu waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja/beraktivitas yang terpotong gara-gara kemacetan. <em><strong>Kedua</strong></em>, pemborosan bensin, yaitu bensin yang terbuang gara-gara kendaraan terjebak di dalam kemacetan. Mari kita lihat satu per satu – oh iya, saya disini tidak mencari data di luar yang saya tahu (karena hanya hasil menghitung-hitung sambil nunggu si kendaraan bergerak). Kebanyakan berupa asumsi, jadi kalau ada yang keliru, silakan dikoreksi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, mengenai <span style="text-decoration:underline;"><strong>waktu produktif yang terbuang</strong></span>. Seorang rekan kerja dari pinggiran Jakarta bilang dia membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di kantor (padahal biasanya di akhir pekan dia hanya menghabiskan sekitar 20 menit untuk jarak yang sama). Dengan demikian, ada 1 jam 40 menit waktu yang terbuang di setiap perjalanan, atau 3 jam 20 menit di setiap harinya (dikali dua karena setiap hari tentunya bolak balik). Mari kita buat asumsi rata-rata menjadi 2 jam (karena ada orang-orang yang tidak separah itu mengalami kemacetan, ”hanya” sekitar 45 menit hingga 1 jam setiap perjalanan).</p>
<p>Dengan asumsi setiap hari orang rata-rata bekerja 8 jam, dan gaji rata-rata penduduk Jakarta lebih kurang 2,5 juta rupiah per bulan, berarti per bulan terdapat kerugian waktu efektif dari kemacetan senilai 2 jam / 8 jam x 2,5 juta rupiah atau sebesar 625.000 rupiah. Apabila kita asumsikan ada 5 juta penduduk Jakarta yang bekerja, berarti total waktu efektif yang terbuang dalam setahun adalah 625.000 rupiah x 12 bulan x 5 juta jiwa = <strong>37,5 triliun rupiah</strong>. WoW. Saya kaget.</p>
<p>Hitungan belum selesai. Sekarang mari kita hitung kerugian  yang ditimbulkan akibat <span style="text-decoration:underline;"><strong>pemborosan bensin</strong></span>. Mari kita asumsikan terdapat 10 juta kendaraan di Jakarta (ada yang tahu jumlah pastinya?) dan rata-rata kendaraan memboroskan 0.5 liter per hari akibat kemacetan (ada yang punya data pastinya lagi?). Dengan kedua asumsi tersebut, maka bensin yang terbuang per tahun adalah 10 juta x 0.5 liter x 250 hari kerja = 1,25 miliar liter. Dengan harga premium sebesar 4500 rupiah per liter, ini berarti sekitar <strong>5,6 triliun rupiah</strong>. WoW lagi.</p>
<p>Artinya, jika dijumlahkan berarti total kerugian akibat macet di Jakarta dalam satu tahun itu <strong>43,1 triliun rupiah</strong>. Jumlah yang sangat besar. Sebagai gambaran, jika jumlah rakyat miskin di jakarta ada 1 juta orang, maka uang 43,1 triliun dapat digunakan untuk memberi subsidi kepada rakyat miskin di Jakarta sebesar 43,1 juta rupiah per tahun. Sangat sangat Wow. Bayangkan potensi yang dapat disalurkan apabila kemacetan Jakarta dapat diatasi. Saya pasti akan mendukung gubernur yang memiliki program jelas untuk mengatasi masalah ini (berhubung tahun depan Pilkada DKI, mohon kepada para calon untuk sangat-sangat memikirkan hal ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Oh, sebagai penutup, sebelum saya mempublish postingan ini, saya mencoba googling dan menemukan artikel-artikel yang menyatakan kerugian Jakarta berkisar antara 28 hingga 46 triliun. Bahkan setelah membaca artikel ini <a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/09/05/29/53013-kerugian-kemacetan-jakarta-rp-43-t">http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/09/05/29/53013-kerugian-kemacetan-jakarta-rp-43-t</a> ternyata ada pengamat politik yang mengeluarkan estimasi kerugian yang sama dengan saya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Jadi yah, estimasi saya tidak keliru-keliru amat lah, meskipun tentu saja berapa jumlah pastinya, hanya Yang Di Atas yang tahu. Meanwhile, mari yuk berkontribusi untuk mengurangi kemacetan, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke sarana transportasi umum atau sepeda <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=214&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/04/12/menghitung-kerugian-macet-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa emas? (Bagian 2 dari 2)</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/28/mengapa-emas-bagian-2-dari-2/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/28/mengapa-emas-bagian-2-dari-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 15:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Di postingan sebelumnya saya sudah menjelaskan alasan emas menjadi salah satu pilihan berinvestasi yang cocok untuk pemula, yaitu return yang cukup tinggi namun tidak diperlukan terlalu banyak ilmu untuk memulainya. Disini saya akan membahas pilihan investasi emas sehingga Anda dapat memilih mana yang paling cocok. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam investasi emas, sama seperti jual [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=207&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di postingan sebelumnya saya sudah menjelaskan alasan emas menjadi salah satu pilihan berinvestasi yang cocok untuk pemula, yaitu return yang cukup tinggi namun tidak diperlukan terlalu banyak ilmu untuk memulainya. Disini saya akan membahas pilihan investasi emas sehingga Anda dapat memilih mana yang paling cocok.</p>
<p>Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam investasi emas, sama seperti jual beli uang asing, terdapat perbedaan harga jual dan harga beli yang disebut dengan spread<em>. </em>Besar spread itu sendiri bervariasi antara 1-30% tergantung jenis emasnya. Hal ini menjadi penting karena ketika Anda berinvestasi di emas, kenaikan harga emas hanya berarti bagi Anda setelah dikurangi spread. Sebagai contoh, apabila Anda membeli emas dengan spread 4% lalu setelah setahun harga emas naik 20%, maka keuntungan yang Anda peroleh jika menjual emas tersebut adalah 16%.</p>
<p>Nah, secara umum terdapat tiga pilihan investasi emas sebagai berikut:</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>1. Emas perhiasan</strong></span></p>
<p>Sesuai dengan namanya, emas perhiasan berbentuk perhiasan yang digunakan oleh wanita – kalung, gelang, dan sebagainya. Tentu saja, kelebihan emas jenis ini adalah dapat dipergunakan sebagai aksesori untuk mempercantik penampilan. Namun, menurut saya emas jenis ini kurang tepat apabila digunakan sebagai sarana investasi. Hal ini disebabkan dalam perhiasan emas, biaya pembuatannya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk spread yang tinggi, terutama jika perhiasan tersebut memiliki model yang langka atau sulit dibuat. Spread emas perhiasan bisa berkisar antara 6 – 30% tergantung kerumitan pembuatannya.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>: Emas bertipe perhiasan hanya cocok apabila Anda ingin sekaligus menggunakannya, namun konsekuensinya imbal hasil investasinya tidak setinggi emas lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>2. </strong><strong>Emas batangan</strong></span></p>
<p>Merupakan emas yang dijual dalam bentuk batang/koin dengan ukuran bervariasi dari 1 hingga 1000 gram. Emas batangan memiliki spread bervariasi tergantung dari ukurannya, semakin besar maka spreadnya akan semakin kecil. Sebagai contoh, koin 1 gram memiliki spread ~12%, sedangkan batangan 100 gram atau lebih besar memiliki spread ~1%.</p>
<p>Kelebihan emas batangan adalah spread yang rendah terutama untuk batangan yang berukuran besar. Namun, tentu saja untuk memiliki emas batangan yang besar tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.</p>
<p>Emas batangan memiliki kelemahan soal likuiditas. Apabila Anda bermaksud berinvestasi dengan cara mencicil per bulan, tentu yang bisa Anda lakukan adalah membeli dalam ukuran kecil (misal 5 gram) dan oleh karena itu spread yang diperoleh cukup tinggi. Nah, apabila Anda mengumpulkan 10 koin 5 gram misalnya, dan ada teman Anda yang ingin membeli emas 50 gram, maka teman Anda tidak akan tertarik membeli 10 koin 5 gram. Ia akan lebih tertarik untuk membeli satu batang emas 50 gram. Dengan demikian, emas yang Anda beli akan sulit Anda jual kepada pihak lain selain toko emas.</p>
<p>Kesulitan likuidas juga akan muncul apabila Anda memiliki emas batangan berukuran besar (misal 250 gram). Jika Anda butuh mencairkan dana sebesar 10 atau 50 gram emas misalnya, maka Anda tentu tidak dapat menguangkan sebagian dari batangan 250 gram tersebut. Anda harus menjualnya terlebih dahulu, menarik sebagian uangnya, lalu membeli emas kembali seberat sisanya. Hal ini akan menyebabkan Anda harus menanggung spread yang timbul.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>: Emas batangan cocok jika Anda memiliki dana dalam jumlah besar (sebesar 100 gram emas atau lebih) yang benar-benar menganggur sehingga Anda tidak harus menjual hanya sebagian di masa yang akan datang.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>3. Dinar</strong></span></p>
<p>Dinar merupakan koin emas 22 karat seberat 4.25 gram yang digunakan sebagai standard dalam perekonomian Islam di masa lampau. Meskipun demikian, tentu saja siapa saja dapat menggunakan sarana investasi ini. Dinar memiliki spread sebesar 4% (lebih rendah daripada koin emas berukuran kecil, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan emas batangan berukuran besar).</p>
<p>Kelebihan dinar adalah soal likuiditas. Apabila Anda berinvestasi dengan mencicil per bulan, Anda dapat membeli 1-2 dinar per bulan. Setelah terkumpul cukup banyak dan Anda bermaksud menguangkan sebagian, Anda dapat menjual dinar sebanyak yang diperlukan.</p>
<p>Kelemahan dinar adalah spread yang lebih tinggi dibandingkan emas batangan. Namun, karena dinar adalah sebuah standard, maka dinar dapat dijual kepada teman Anda. Cara ini menguntungkan kedua belah pihak (Anda maupun teman Anda) karena dinar dapat diperjualbelikan dengan harga antara. Sebagai contoh, apabila Anda menjual dinar ke toko emas dengan harga 1,7 juta dan toko emas menjual dinar kepada teman Anda dengan harga 1,78 juta, maka Anda sebenarnya dapat langsung menjual dinar kepada teman Anda dengan harga 1,74 juta. Dengan cara seperti ini, spread yang semula 4% akan menjadi 2%.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong>: Dinar cocok jika Anda berinvestasi dengan cara mencicil bulanan dan kemungkinan akan mempergunakan sebagian (tidak harus seluruhnya) di masa yang akan datang.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Nah, bagaimana dengan penyimpanan? Apabila Anda berinvestasi dalam jumlah besar dan lama, maka membeli safe deposit box sendiri boleh jadi pilihan. Dengan harga 2 juta rupiah satu kali saja, Anda dapat menyimpan ratusan bahkan ribuan gram emas. Namun, apabila Anda memulai dengan jumlah yang tidak terlalu besar, maka penyewaan safe deposit box di bank-bank boleh jadi pilihan. Dengan biaya sewa sebesar 200 ribu rupiah per tahun untuk ukuran kecil, rasa-rasanya sudah dapat menampung ratusan gram emas. Silakan diperhitungkan biaya penyimpanan ini setelah dikurangi dengan spread tadi untuk menentukan berapa biaya yang Anda toleransi untuk menyimpan.</p>
<p>Oh ya, lantas, bagaimana dengan saya sendiri – kemana saya berinvestasi emas? Karena saya berinvestasi emas dengan mencicil per bulan, saya berinvestasi dalam bentuk dinar. Saya pilih <a href="http://www.geraidinar.com">www.geraidinar.com</a> karena layanannya yang menurut saya profesional. Saya dapat menyimpan dinar disana tanpa biaya, lalu setelah dinar saya terkumpul cukup banyak (diatas 15 dinar) dan untuk lebih yakin akan keamanan dinar saya, maka saya dapat meminta pihak geraidinar untuk mengirimkan dinar tersebut ke alamat saya untuk selanjutnya saya letakkan di safe deposit box bank. Setelah itu, kembali saya mencicil untuk membeli dinar lagi dan menyimpannya di geraidinar &#8211; demikian seterusnya. Geraidinar pun memiliki fasilitas mirip e-banking, dimana saya bisa melihat saldo dinar saya saat ini, mentransfer kepada pemilik dinar yang lain, dan beberapa layanan lainnya.</p>
<p>Diluar pilihan investasi diatas, masih ada sebenernya investasi emas secara tidak langsung seperti sistem kebun emas atau kontrak berjangka emas – saya tidak menganjurkan karena selayaknya investasi lain yang didasarkan pada hutang atau derivatif sangat rentan terhadap ketidakpastian dan risiko di luar kekuasaan kita. Investasi emas akan menjadi efektif apabila kita sendiri yang menguasai fisiknya secara langsung (terlepas dari metode penyimpanan yang dilakukan). Selamat berinvestasi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=207&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/28/mengapa-emas-bagian-2-dari-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa emas? (Bagian 1 dari 2)</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/22/mengapa-emas-bagian-1-dari-2/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/22/mengapa-emas-bagian-1-dari-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 18:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought and Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini beberapa teman bertanya kepada saya tentang alasan saya berinvestasi di emas. Kalau si penanya butuh jawaban yang cepat, biasanya jawaban saya, “karena emas itu memiliki daya beli yang tetap dalam jangka panjang, sehingga minimal keuntungan investasi emas ya setara inflasi” Sebelumnya ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu alasan orang berinvestasi. Istilah investasi sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=204&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini beberapa teman bertanya kepada saya tentang alasan saya berinvestasi di emas. Kalau si penanya butuh jawaban yang cepat, biasanya jawaban saya, “karena emas itu memiliki daya beli yang tetap dalam jangka panjang, sehingga minimal keuntungan investasi emas ya setara inflasi”</p>
<p>Sebelumnya ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu alasan orang berinvestasi. Istilah investasi sendiri baru populer sekitar 10 tahun belakangan, terutama setelah krisis dan inflasi yang menyebabkan harga barang naik gila-gilaan. Ya, sebelumnya orang percaya bahwa menabung adalah jalan terbaik untuk menjadi kaya. Namun, fakta bahwa keuntungan dari menabung (bunga bank saat ini berkisar 3 persen per tahun) kalah dari inflasi (rata-rata 8 persen per tahun) menyadarkan bahwa menabung justru membuat miskin karena menurunkan daya beli. Uang 10 juta rupiah yang sebelumnya dapat membeli motor, setelah ditabung selama 1 tahun malah justru tidak dapat membeli motor karena harga motor sudah menjadi 11 juta rupiah sementara tabungan yang terkumpul hanya 10,3 juta rupiah. Akhirnya orang ramai-ramai mencari cara lain untuk meningkatkan kekayaan. Kali ini tujuannya lebih jelas, harus bisa mengalahkan inflasi.</p>
<p>Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa investasi emas bukanlah sarana terbaik. Sarana terbaik meningkatkan kekayaan (baik pribadi maupun masyarakat secara umum) adalah melalui usaha riil – beternak, berdagang, berjualan makanan, dan sebagainya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa usaha riil membutuhkan ilmu dan fokus yang tinggi sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Selain usaha riil, tedapat sarana lain yang juga untuk meningkatkan kekayaan yaitu usaha properti – rumah, tanah, dsb. Usaha properti dapat memberikan manfaat ganda, yaitu dari capital gain (nilai properti yang cenderung naik) serta pendapatan tetap (jika dikontrakkan). Hanya saja, ini membutuhkan modal yang besar dan saya saat ini belum memiliki kemampuan untuk itu (Mudah-mudahan dimasa yang akan datang, amin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Sarana investasi yang sebetulnya baik namun membutuhkan analisis dan perencanaan yang matang yaitu reksadana. Terdapat macam-macam reksadana berdasarkan risiko dan kemungkinan keuntungan, diantaranya reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Semakin tinggi keuntungan yang mungkin didapat, semakin besar risiko yang menyertainya. Begitu pula sebaliknya. Apabila Anda bermaksud berinvestasi di reksadana, telitilah dalam mengetahui tujuan investasi Anda (terutama soal waktu investasi – apakah Anda berencana berinvestasi untuk jangka pendek, menengah, atau panjang?) dan kemudian mencocokkan tujuan Anda tersebut dengan jenis reksadana yang sesuai. Saya pribadi akan merencanakan untuk berinvestasi di reksadana setelah saya memfinalisasi tujuan investasi saya (seberapa besar alokasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang).</p>
<p>Nah, bagi Anda yang belum memiliki waktu untuk mempelajari usaha riil ataupun reksadana, dan belum cukup modal untuk membeli properti, maka emas dapat menjadi pilihan yang baik. Seperti saya katakan diawal, kita bisa mengharapkan apresiasi harga emas mengalahkan inflasi. Grafik dibawah ini, yang dikutip dari <a href="http://www.geraidinar.com/">www.geraidinar.com</a> menunjukkan bagaimana keuntungan investasi emas dibandingkan dengan inflasi.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://geraidinar.com/images/emasvsinflasi.jpg" alt="" width="480" height="358" /></p>
<p>Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa selama 8 tahun terakhir, kenaikan harga emas hampir selalu diatas inflasi. Rata-rata harga emas naik sebesar 19% per tahun (bandingkan dengan inflasi 8% per tahun). Hal ini sesuai dengan fitrah emas sebagai “hedging” atau menjaga nilai. Artinya, emas yang Anda miliki memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang yang sama saat ini maupun dimasa yang akan datang (bahkan ada kemungkinan dimasa yang akan datang nilai emas tersebut lebih dari barang-barang tersebut).</p>
<p>Sebagai contoh, apabila Anda saat ini memiliki emas sebanyak 5 gram (sekitar 2 juta rupiah pada saat blog ini ditulis), emas ini sekarang dapat Anda gunakan untuk membeli 1 kambing berkualitas baik. Apabila Anda simpan emas ini selama 10 tahun, maka insya Allah emas 5 gram ini masih tetap dapat membeli barang yang sama (dalam contoh ini 1 kambing). Akan berbeda apabila Anda memiliki 2 juta rupiah saat ini dan hanya Anda tabung selama 10 tahun. Uang Anda hanya akan menjadi sekitar 2,7 juta rupiah (asumsi bunga bank 3 persen), sedangkan harga kambing 10 tahun lagi sudah jauh melebihi nilai tersebut.</p>
<p>Nah, apakah Anda sudah tertarik untuk berinvestasi emas? Jika belum, silakan beri komentar supaya dapat didiskusikan lebih lanjut. Jika sudah, tunggu tulisan bagian berikutnya yang akan membahas cara-cara dan bentuk-bentuk investasi emas <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=204&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/22/mengapa-emas-bagian-1-dari-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geraidinar.com/images/emasvsinflasi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Si Gigi Pemalas</title>
		<link>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/15/tentang-si-gigi-pemalas/</link>
		<comments>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/15/tentang-si-gigi-pemalas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 17:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhamad Fajrin Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Insanity]]></category>
		<category><![CDATA[Life Experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajrinrasyid.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah gigi geraham kanan bawah paling belakang saya yang malas untuk tumbuh berdiri – ia tumbuh horizontal sehingga menabrak gigi depannya. Selama ini sih tidak pernah ada masalah selain sisa makanan yang kadang terselip, namun rasa sakit yang menderu belakangan ini membuat saya untuk memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter gigi. Saya sih menduga bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=196&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/03/gigi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-197" title="gigi" src="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/03/gigi.jpg?w=300&#038;h=271" alt="" width="300" height="271" /></a></p>
<p>Tersebutlah gigi geraham kanan bawah paling belakang saya yang malas untuk tumbuh berdiri – ia tumbuh horizontal sehingga menabrak gigi depannya. Selama ini sih tidak pernah ada masalah selain sisa makanan yang kadang terselip, namun rasa sakit yang menderu belakangan ini membuat saya untuk memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter gigi. Saya sih menduga bahwa gigi pemalas ini harus dicabut dengan cara operasi. Hal ini disebabkan ia terhalang oleh gusi, sehingga si gusi ini harus disayat terlebih dahulu supaya gigi bermasalah ini bisa diangkat (lihat gambar diatas untuk memperjelas – mohon maaf gambar kurang bagus tapi memang inti dari postingan ini bukan gambarnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Saya akhirnya datang ke klinik Family Dental – klinik gigi favorit saya di lantai 5 Mal Ambassador – dan melakukan rontgen. Sang dokter langganan saya, Dr. Lestari (yang nampak cukup senior), memeriksa hasil rontgen itu dan memastikan bahwa benar gigi itu harus dioperasi. Namun, ternyata yang dapat melakukan operasi adalah dokter yang lebih senior sehingga saya harus datang keesokan harinya (sampai disini saya agak takut, sebegitu bermasalahkah gigi saya ini -_-).</p>
<p>Esok harinya, Saya menemui sang dokter senior, Dr. Evi, yang berdasarkan perhitungan saya sudah melakukan operasi pada 15,000 – 20,000 gigi (dia bercerita bahwa dalam satu hari dia bisa mencabut 5-6 gigi, dan dia sudah melakukan ini selama tiap hari selama 10 tahun). Ternyata, Dr. Lestari pun ada di situ, bersama 2 suster. Jadi, total ada 2 dokter senior dan 2 suster yang menangani gigi bandel itu (makin cemas).</p>
<p>Sebelum dimulai, pertanyaan Dr. Evi membuat saya terkaget-kaget. “Pak, kami akan mengoperasi gigi geraham kanan bawahnya ya. Setelah itu, sudah diberitahu belum kalau gigi geraham kanan atasnya juga perlu dicabut?” Waks, kenapa pula ini? -_- “Karena jika tidak, kalau gigi bawahnya saja yang dicabut sementara atasnya tidak, maka gigi atasnya akan berinteraksi dengan gusi setiap kali mengunyah dan ini akan menyebabkan infeksi” (kembali lihat gambar diatas untuk memperjelas)</p>
<p>Errr… Saya memutuskan untuk pasrah. “Baiklah Dok, silakan” Saya lalu bertanya akan seperti apa proses operasi ini. Dr. Evi kemudian menjelaskan langkah-langkah yang ditempuh, yaitu suntik bius lokal di gusi di sekitar gigi, sayat gusi (errrrrr -_-), lalu si gigi dibelah –- karena kalau tidak akan susah diangkat (waks, ini gigi memang bebal luar biasa), baru deh gigi itu dicabut, dan terakhir gusinya dijahit. Melihat muka saya yang makin putih pucat saja, beliau mencoba menenangkan bahwa rasa sakit hanya muncul ketika disuntik saja. Semoga -_-</p>
<p>Dan akhirnya beliau mengambil jarum dan menyuntikkannya di gusi di sekitar gigi itu. Ngilu – sama seperti disuntuk di tangan. Yang berbeda adalah perasaan setelahnya. Mati rasa seluruh rahang atas dan bawah saya sebelah kanan. Lidah saya pun tidak bisa digerakkan ke kanan. Bahkan ucapan yang keluar pun sudah tidak jelas. Rasanya seperti habis ditinju <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lalu para dokter dan suster itu saling berkordinasi satu sama lain. Ada yang menyumpal rahang saya dengan kapas, ada yang mengalirkan udara dan air ke mulut saya untuk menjaga kelembaban, dan tentu saja yang paling saya perhatikan adalah yang dilakukan sang tokoh utama – Dr. Evi. Beliau mengambil pisau – ya, saya tahu itu pisau meskipun tidak memakai kacamata – dan pelan-pelan mengarahkan ke gusi yang menutupi gigi saya itu.</p>
<p>Apakah beliau menyayat gusi saya? Ng… sepertinya sih iya. Yang pasti, saya tidak merasakan apa-apa (apa ini yang namanya mati rasa? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ).  Saya baru tahu kalau gusi saya sudah dibelek setelah beliau mengeluarkan kapas yang menyangga rahang. Kapas yang semula putih itu sudah menjadi merah gelap (Waks, mulut saya bermandikan darah -____-) Saya meludah dan yang keluar hanyalah gumpalan-gumpalan merah. Wiw, saya teringat komik Dragon Ball dimana suka terlihat darah mengalir keluar dari mulutnya jika terluka <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Langkah selanjutnya adalah membelah sang gigi. Dr. Evi mengambil bor dan tang untuk melakukan ini. Saya sih sudah pasrah dan percaya dengan beliau hehe. Meskipun agak ngeri juga mendengar suara-suara yang biasa saya dengar di tukang las tapi kali ini objeknya adalah gigi saya sendiri. Setelah beberapa lama dibor, gigi itu pun terbelah. Dengan tang kecil itu akhirnya Dr Evi mencabut sang gigi</p>
<p>Fiuhhh. Saya melihatnya. Dua belahan gigi yang beliau letakkan di atas meja. Sementara Dr. Lestari dan 2 suster masih melakukan perawatan terhadap gusi yang ditinggalkan oleh si gigi, Dr. Evi mengulangi prosedur yang sama namun terhadap gigi atas. Namun, karena si gigi atas ini sebenarnya tumbuh normal saja, prosesnya jauh lebih cepat. Setelah disuntik. Dr. Evi langsung mencabut dengan bantuan benang dan tang (lagi-lagi, ngeri rasanya membayangkan bunyi ”Krek krek” tapi ya sudahlah pasrah saja <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Dan akhirnya gigi kedua diletakkannya di sebelah gigi bermasalah. Selanjutnya, langkah terakhir adalah menjahit gusi yang ditinggalkan si gigi supaya tidak terus mengeluarkan darah. Proses ini singkat saja seperti menjahit luka pada umumnya. Voila! Proses operasi selesai, dan benar kata beliau, sakit yang terasa hanya ketika disuntik saja hehe.</p>
<p>Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Yang pasti gusi saya masih tetap mengeluarkan darah terus menerus terutama ketika meludah dan berkumur. Lalu, perasaan ngilu muncul setelah pengaruh bius hilang sampai beberapa hari setelahnya (oleh sebab itu beliau memberikan obat penahan sakit dan antibiotik). Namun, diantara efek yang paling jelas terasa adalah, kecepatan makan jauh jauh melambat, hahaha. Yang tadinya saya selalu makan paling cepat diantara orang-orang, kini sepertinya kalah cepat dibandingkan siput hamil (belum pernah lomba secara langsung sih <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ) Oh ya, saya datang kesana lagi seminggu setelahnya untuk membuka jahitan, dan alhamdulillah kata beliau tidak ada masalah dengan sisa operasi. Dan cerita tentang gigi bermasalah ini pun selesai (setidaknya sampai sekarang tidak ada masalah sih, semoga saja begitu ke depannya, amin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fajrinrasyid.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fajrinrasyid.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fajrinrasyid.wordpress.com&amp;blog=605299&amp;post=196&amp;subd=fajrinrasyid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajrinrasyid.wordpress.com/2011/03/15/tentang-si-gigi-pemalas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36cccc87b5f5e7b738fc1f2538b739ea?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fajrinrasyid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fajrinrasyid.files.wordpress.com/2011/03/gigi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gigi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
