Archive

Archive for June 6, 2011

Menuruti pasar atau membuat pasar menuruti kita?

Tulisan ini saya buat ketika sedang di dalam bus dari Jakarta menuju Pekalongan. Saya terpikir setelah tidak tahu lagi harus berbuat apa karena setelah saya naik, hingga satu setengah jam kemudian pun bus belum berangkat melihat penjual makanan ringan yang entah sudah berapa kali lewat. Bagi pembaca yang biasa naik bus atau kendaraan umum lainnya, atau mengunjungi terminal, pasti familiar dengan makanannya: hampir selalu mereka menjual tahu sumedang, lontong, telur puyuh, kacang, nangka, dan beberapa jenis makanan kecil lainnya.

Pertanyaan lantas muncul, kenapa hampir di semua tempat mereka kompak menjual makanan kecil tersebut (kalaupun ada variasi, tidak banyak) – bukankah jenis makanan kecil lain masih banyak? Apakah mereka menurut kemauan pasar (saya memang suka tahu Sumedang :D tapi saya tidak tahu seberapa persen pengguna kendaraan umum yang suka) atau mereka memang inginnya membuat itu sehingga pasar menurut mereka?

Saya tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut – saya tidak sempat menanyakan kepada mereka karena ternyata bus berangkat tidak lama setelah saya mulai menulis :P Tapi saya ingin melanjutkan tulisan ini pada dua kemungkinan di atas yang dapat berlaku di industri lain – yaitu menuruti pasar dan membuat pasar menuruti kita.

Strategi menuruti pasar merupakan strategi yang sangat umum dalam memberikan layanan kepada pelanggan (entah itu produk ataupun jasa). Mudahnya, juallah barang yang memang dicari pelanggan – contohnya orang yang menjual paying di musim hujan dan beralih menjadi penjual kacamata hitam atau topi lebar di musim kemarau / panas. Strategi ini merupakan strategi yang low risk (karena produk kita hampir pasti dicari oleh konsumen) namun tentu saja karena akan banyak orang yang berpikiran seperti ini, maka kita akan berhadapan dengan banyak sekali pesaing.

Sebaliknya, strategi membuat pasar menuruti kita merupakan strategi yang sangat berisiko dan jarang dilakukan orang. Berbeda dengan orang kebanyakan, orang yang menjalankan strategi ini tidak terlalu memedulikan hal yang saat ini disukai oleh pasar / masyarakat. Sebaliknya, ia hanya berfokus pada membuat suatu layanan yang ia yakini akan digandrungi oleh masyarakat. Steve Jobs dengan salah satu produknya iPad merupakan salah satu contoh paling jelas. Saat ia meluncurkan iPad, orang lebih familiar dengan notebook. Namun, karena ia yakin iPad dapat diminati oleh banyak orang, ia tetap meluncurkannya dan benar saja, iPad cukup laris dan bahkan banyak perusahaan lain yang meluncurkan produk serupa.

Lantas, mana yang lebih baik? Tiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menuruti pasar memang cara yang lebih mudah namun karena itulah akan timbul banyak pesaing – oleh karena itu untuk bisa sukses dengan cara ini, kita harus unggul entah itu dalam hal kualitas, biaya, ataupun waktu. Sebaliknya, membuat pasar menuruti kita merupakan cara yang lebih sulit dan lebih berisiko – karena bisa saja ternyata produk yang dikembangkan ternyata tidak diminati oleh masyarakat. Untuk bisa sukses dengan cara ini, yang terpenting adalah bisa mengatasi masalah yang melanda kebanyakan masyarakat saat ini, atau yang lebih sulit lagi, yaitu menciptakan kebutuhan masyarakat akan produk tersebut.

Selamat mengembangkan produk / jasa yang digunakan masyarakat banyak! :)

Categories: Thought and Opinion
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers