Home > Thought and Opinion > Bunga Berbunga dan Menghitung Kebutuhan Pensiun

Bunga Berbunga dan Menghitung Kebutuhan Pensiun

Albert Einstein pernah berujar, “The most powerful force in the universe is compound interest.” Sedikit banyak saya sepakat dengan itu, meskipun saya bukan fisikawan #abaikan.

Jadi sejak beberapa bulan terakhir saya semakin concern soal perencanaan keuangan terutama setelah penghasilan turun karena gak lagi kerja di BCG :P Oke, intinya kita semua tahu bahwa biaya hidup itu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun, saya punya pertanyaan yang lebih spesifik, seberapa naik sih? Misalnya biaya hidup saya 2 juta rupiah per bulan (ini misalnya saja ya :D dan anggap saja usia saya saat ini 25 tahun), berapa biaya hidup saya per bulannya ketika saya pensiun kelak – ketika usia saya 55 tahun? Menurut saya kita perlu mengetahui informasi ini supaya bisa mempersiapkan dana pensiun agar nantinya kita bisa hidup layak ketika tua.

Masih belum tahu jawabannya? Oke, katakanlah kenaikan biaya hidup – dalam bahasa kerennya inflasi – besarnya 10 persen per tahun (meskipun bang Aidil Akbar sang perencana keuangan tersohor itu menyarankan menggunakan angka 12,64 persen per tahun, tapi mari kita coba di angka 10 persen agar memudahkan perhitungan). Sudah bisa dihitung? Apakah biaya hidup saya nantinya menjadi 2 juta ditambah 10 persen x 30 tahun (55 – 25 tahun) atau sekitar 8 juta rupiah?

Nope. Mungkin banyak diantara pembaca yang tahu bahwa perhitungan ini salah karena hal ini mengasumsikan kenaikan 10 persen per tahun itu tetap secara absolut. Padahal, kenyataannya kenaikan 10 persen per tahun itu selalu dihitung berdasarkan biaya di tahun sebelumnya. Artinya besar absolut kenaikan itu akan semakin besar setiap tahunnya. Sebagai contoh, misalnya biaya hidup saya saat ini 2 juta rupiah, maka kenaikan biaya hidup saya tahun depan adalah 200 ribu rupiah. Sementara itu, 2 tahun berikutnya kenaikan biaya hidup saya tidak lagi 200 ribu rupiah melainkan 10 persen dari (2 juta + 200 ribu) atau 220 ribu rupiah.

Kembali ke pertanyaan semula: berapa biaya hidup saya ketika saya pensiun 30 tahun lagi? Jreng jreng.. 35 juta rupiah per bulan. Bercanda nih? Gak kok. Seperti disebutkan Einstein di awal, itulah hebatnya konsep yang disebut compound interest atau bunga berbunga atau bunga majemuk, dimana semakin tinggi bunga atau kenaikan, maka nilai yang terjadi akan berkali-kali lipat lebih besar dari nilai semula. Contoh lagi nih, kalo saya gunakan asumsi Aidil Akbar yang 12,64 persen dan bukan 10 persen, maka biaya hidup saya ketika pensiun yaitu 71 juta rupiah per bulan. Wow!

Hehe.. udah mulai kepikiran buat menyisihkan penghasilan buat hari tua kelak? Gimana dong caranya biar pas hari tua punya dana 71 juta rupiah per bulan padahal sudah gak kerja lagi? Jawabannya ya tetap bunga berbunga lagi :) Kalau dengan asumsi kenaikan 10 persen maka biaya hidup kita dari 2 juta menjadi 35 juta rupiah, maka jawaban paling sederhana adalah, pikirkan bagaimana caranya penghasilan Anda bisa berkembang lebih dari 10 persen tersebut. Menabung di bank baik dalam bentuk tabungan ataupun deposito jelas bukan solusi, karena pertumbuhannya “hanya” 8 persen atau bahkan kurang. Oleh karena itu, putarlah dana Anda di tempat lain jika ingin bertujuan agar uang Anda tumbuh, entah itu di saham, reksa dana, emas, properti, maupun yang paling saya anjurkan namun paling sulit – usaha riil :)

Di bawah ini saya lampirkan link dokumen simulasi menghitung kebutuhan dana pensiun yang bisa pembaca gunakan untuk mengatur dana yang perlu disisihkan per bulannya agar bisa hidup nyaman ketika sudah tidak bekerja. Pembaca bisa memasukkan sendiri data-data seperti biaya hidup per bulan, investasi yang dibutuhkan per bulan, kenaikan biaya hidup, kenaikan investasi, usia saat ini, usia mulai investasi, usia pensiun, dan usia harapan hidup. Lalu pembaca dapat melihat apakah investasi yang disisihkan per bulan cukup untuk membiayai pensiun kelak :)

http://www.4shared.com/document/WErQ4siL/FR_dana_pensiun.html

Selamat mempersiapkan diri dan silakan bertanya atau berkomentar (apabila ada yang kurang jelas atau merasa ada yang keliru).

Categories: Thought and Opinion
  1. Puja Pramudya
    May 23, 2011 at 7:36 am | #1

    terima kasih bung fajrin..info berharga sekali

  2. May 23, 2011 at 8:08 am | #3

    Data inflasi sebesar 10% (atau 12,64%) per tahun itu sumbernya dari mana, Jrin?

    Kalau melihat data inflasi dari BI, rata-rata inflasi dari tahun 2003-2011 sepertinya tidak lebih dari 8% per tahun. CMIIW.

    Oya, thanks untuk file XLS perhitungan dana pensiunnya =)

    • May 23, 2011 at 12:00 pm | #4

      Halo nggri.. kalo aku ngambil kalo ga salah dari taun 2000 apa 2001 hehe.. dirata-rata jadinya 9 koma sekian aku buletin jadi 10 persen deh… kalo bang Aidil Akbar mungkin dari 98 kali ya – gatau persisnya beliau gimana, tapi beliau kayaknya memperhitungkan kemungkinan terjadinya krisis-krisis di masa yang akan datang :D

  3. Steven
    December 20, 2011 at 2:27 pm | #5

    dulu perna kerja di BCG bang? bole minta tolong di bagi ga ilmu nyaa kira-kira biar bisa join disana kualifikasinya apa aja? aku fresh graduate nih

  4. hendy
    March 21, 2012 at 5:29 am | #6

    mas..link nya udh ngka ada lagi..bisa saya minta file nya mas ke hendycangis@gmail.com
    tq mas

  5. May 28, 2012 at 8:27 am | #7

    ya gan, link nya udah tidak valid, tolong di upload lagi dong…

    Salam
    mohhelmi.wordpress.com | uangdownload.com | betterarchive.com

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers