Home > Life Experience > Semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket

Semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket

Kejadian ini baru saya alami beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 2011. Saya bermaksud pulang ke Pekalongan dari Jakarta dengan menaiki kereta Argo Anggrek dengan jadwal keberangkatan pukul 21.30. Saya tahu, akan lebih baik jika memesan kereta api beberapa hari sebelumnya karena sangat riskan untuk memesan tiket langsung pada hari H karena ada risiko tidak kebagian tiket, calo, dan sebagainya. Namun, dikarenakan kesibukan dan lain hal (ciee yang baru pindah kerja :P ), saya baru bisa ke stasiun sekitar 1 jam sebelum jam keberangkatan kereta.

Nah, di sanalah, untuk pertama kalinya saya mengalami secara langsung “dikerjai” oleh pihak-pihak yang berusaha memungut keuntungan dari calon penumpang seperti saya – meskipun saya tetap tidak mau mengikuti permainan mereka :D Silakan pembaca membaca sampai habis dan menilai, apakah hal seperti ini memang wajar terjadi di perusahaan sekelas PT KAI?

Jadi, saya tiba di stasiun sekitar 20.45 dan menanyai petugas berpakaian hitam berhelm putih (petugas keamanan?) mengenai ketersediaan tiket Argo Anggrek malam itu. Dia mengatakan sudah habis dan mempersilakan saya untuk melihat ke layar besar yang menampilkan ketersediaan semua tiket kereta api untuk hari itu dan beberapa hari ke depan. Surprisingly, disitu tercantum jelas bahwa masih ada 3 tiket kosong tersisa. Saya lantas menanyakan hal ini dan dia nampak bingung, lantas mendatangi petugas lain dan berdiskusi entah apa.

Karena saya merasa saya harus segera memesan tiket karena takut kehabisan, saya langsung mendatangi loket yang saat itu kosong untuk memesan tiket tersebut. Ternyata si petugas di loket tersebut langsung menjawab bahwa tiket tersebut habis. Saya komplain dengan menyebutkan bahwa di layar besar disebutkan masih ada 3 tiket tersedia. Dia lantas mengetik sesuatu di komputer lagi (entah apa, saya tidak dapat melihatnya), menelepon entah siapa, lalu kembali mengatakan kepada saya bahwa tiket tersebut memang habis. Dia lantas mempersilakan saya untuk kembali melihat layar besar tadi.

Ternyata di layar besar terpampang bahwa tiket sudah habis. Oke, saya mulai merasa aneh. Namun saya tetap mencoba berpikir positif bahwa mungkin 3 tiket tersebut terjual di sela waktu antara ketika saya melihat layar besar pertama kali dan ketika saya memesan tiket (meskipun selang waktunya kurang dari 3 menit dan seingat saya saat itu loket kosong). Nah, di tengah kebingungan saya dalam memutuskan alternatif untuk pulang, petugas lain yang berpakaian kuning (petugas pembawa barang?) menawarkan apabila saya mau membeli tiket. Dia meminta saya mengikutinya menuju ke temannya di luar stasiun, dan berhubung saya memang perlu pulang ke Pekalongan, saya coba mengikuti mereka. Ternyata mereka menawarkan tiket seharga 450 ribu rupiah dari harga normal 280 ribu rupiah. Tanpa menjawab sepatah kata pun, saya berbalik meninggalkan mereka :p

Saya kembali ke layar besar, dan memutuskan untuk mengambil kereta terpagi keesokan harinya. Saya lantas menuju loket untuk memesan tiket tersebut – saat itu pukul 21.15. Namun, alangkah terkejut ternyata sang petugas loket menanyakan kepada saya, apakah saya mau naik kereta malam itu juga, dia bilang masih ada tiket. Saya refleks bertanya, mengapa tadi dibilang habis? Dia tidak bisa memberikan jawaban selain bahwa ternyata masih ada tiket :P

Hahaha. Baru kali ini saya dipermainkan dalam hal pengurusan tiket ini, meskipun mohon maaf saja, saya tetap tidak mau membayar lebih. Apa yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini? Lagi-lagi mohon maaf kepada PT KAI, tetapi sekarang yang ada di dalam benak saya adalah, apabila calon penumpang memesan tiket kereta api di hari H terutama di jam-jam menjelang keberangkatan, tiket akan dianggap habis supaya calon penumpang hanya membeli melalui pihak lain dengan harga yang jauh lebih mahal. Nah, baru jika tiket tersebut tidak laku, di menit-menit terakhir tiket tiket akan kembali dijual di loket, untuk meladeni calon penumpang yang desperate (termasuk saya ketika itu, akhirnya saya tetap naik kereta api malam itu dengan harga normal :D ). Itulah yang saya alami malam itu, dan mungkin saja banyak dialami oleh calon penumpang lain.

Oh ya, saya tegaskan disini saya tidak mendiskreditkan pihak manapun. Siapa yang mengambil keuntungan pun saya tidak tahu. Saya hanya mengemukakan fakta yang terjadi kepada saya malam itu, yang melibatkan pihak-pihak tersebut diatas. Apabila pembaca ada yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih parah, silakan dishare. Akhirnya, semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket :)

Categories: Life Experience
  1. May 9, 2011 at 3:16 pm | #1

    Assalamualaikum bang, pengamat (atau tertarik mengamati) kereta Api juga toh?, sudah beberapa kali saya mengalami bang, beberapa teman juga sering :) . Dari railfans semboyan35.com memang sedang advokasi bang ke PT KAI, kayaknya PT KAI harus punya saingan biar ningkatin kualitas layanannya bang, sama kayak “pasti pas”-nya Pertamina yang baru nongol waktu ada Total dan Exxon masuk.

    Eniwey, apa ndak kemahalan bang, ke pekalongan (yang ndak sampe 1/2 jarak perjalanan dihitung dari seharusnya-Surabaya) harus 280rb, ndak naik Argo Muriaapa Sindoro bang yang harganya lebih “memper”:)

  2. roberto
    May 11, 2011 at 9:09 am | #2

    ah, oknum itu… :P

  3. July 9, 2011 at 12:05 am | #3
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers