Archive

Archive for May, 2011

Bunga Berbunga dan Menghitung Kebutuhan Pensiun

Albert Einstein pernah berujar, “The most powerful force in the universe is compound interest.” Sedikit banyak saya sepakat dengan itu, meskipun saya bukan fisikawan #abaikan.

Jadi sejak beberapa bulan terakhir saya semakin concern soal perencanaan keuangan terutama setelah penghasilan turun karena gak lagi kerja di BCG :P Oke, intinya kita semua tahu bahwa biaya hidup itu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun, saya punya pertanyaan yang lebih spesifik, seberapa naik sih? Misalnya biaya hidup saya 2 juta rupiah per bulan (ini misalnya saja ya :D dan anggap saja usia saya saat ini 25 tahun), berapa biaya hidup saya per bulannya ketika saya pensiun kelak – ketika usia saya 55 tahun? Menurut saya kita perlu mengetahui informasi ini supaya bisa mempersiapkan dana pensiun agar nantinya kita bisa hidup layak ketika tua.

Masih belum tahu jawabannya? Oke, katakanlah kenaikan biaya hidup – dalam bahasa kerennya inflasi – besarnya 10 persen per tahun (meskipun bang Aidil Akbar sang perencana keuangan tersohor itu menyarankan menggunakan angka 12,64 persen per tahun, tapi mari kita coba di angka 10 persen agar memudahkan perhitungan). Sudah bisa dihitung? Apakah biaya hidup saya nantinya menjadi 2 juta ditambah 10 persen x 30 tahun (55 – 25 tahun) atau sekitar 8 juta rupiah?

Nope. Mungkin banyak diantara pembaca yang tahu bahwa perhitungan ini salah karena hal ini mengasumsikan kenaikan 10 persen per tahun itu tetap secara absolut. Padahal, kenyataannya kenaikan 10 persen per tahun itu selalu dihitung berdasarkan biaya di tahun sebelumnya. Artinya besar absolut kenaikan itu akan semakin besar setiap tahunnya. Sebagai contoh, misalnya biaya hidup saya saat ini 2 juta rupiah, maka kenaikan biaya hidup saya tahun depan adalah 200 ribu rupiah. Sementara itu, 2 tahun berikutnya kenaikan biaya hidup saya tidak lagi 200 ribu rupiah melainkan 10 persen dari (2 juta + 200 ribu) atau 220 ribu rupiah.

Kembali ke pertanyaan semula: berapa biaya hidup saya ketika saya pensiun 30 tahun lagi? Jreng jreng.. 35 juta rupiah per bulan. Bercanda nih? Gak kok. Seperti disebutkan Einstein di awal, itulah hebatnya konsep yang disebut compound interest atau bunga berbunga atau bunga majemuk, dimana semakin tinggi bunga atau kenaikan, maka nilai yang terjadi akan berkali-kali lipat lebih besar dari nilai semula. Contoh lagi nih, kalo saya gunakan asumsi Aidil Akbar yang 12,64 persen dan bukan 10 persen, maka biaya hidup saya ketika pensiun yaitu 71 juta rupiah per bulan. Wow!

Hehe.. udah mulai kepikiran buat menyisihkan penghasilan buat hari tua kelak? Gimana dong caranya biar pas hari tua punya dana 71 juta rupiah per bulan padahal sudah gak kerja lagi? Jawabannya ya tetap bunga berbunga lagi :) Kalau dengan asumsi kenaikan 10 persen maka biaya hidup kita dari 2 juta menjadi 35 juta rupiah, maka jawaban paling sederhana adalah, pikirkan bagaimana caranya penghasilan Anda bisa berkembang lebih dari 10 persen tersebut. Menabung di bank baik dalam bentuk tabungan ataupun deposito jelas bukan solusi, karena pertumbuhannya “hanya” 8 persen atau bahkan kurang. Oleh karena itu, putarlah dana Anda di tempat lain jika ingin bertujuan agar uang Anda tumbuh, entah itu di saham, reksa dana, emas, properti, maupun yang paling saya anjurkan namun paling sulit – usaha riil :)

Di bawah ini saya lampirkan link dokumen simulasi menghitung kebutuhan dana pensiun yang bisa pembaca gunakan untuk mengatur dana yang perlu disisihkan per bulannya agar bisa hidup nyaman ketika sudah tidak bekerja. Pembaca bisa memasukkan sendiri data-data seperti biaya hidup per bulan, investasi yang dibutuhkan per bulan, kenaikan biaya hidup, kenaikan investasi, usia saat ini, usia mulai investasi, usia pensiun, dan usia harapan hidup. Lalu pembaca dapat melihat apakah investasi yang disisihkan per bulan cukup untuk membiayai pensiun kelak :)

http://www.4shared.com/document/WErQ4siL/FR_dana_pensiun.html

Selamat mempersiapkan diri dan silakan bertanya atau berkomentar (apabila ada yang kurang jelas atau merasa ada yang keliru).

Categories: Thought and Opinion

Semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket

Kejadian ini baru saya alami beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 2011. Saya bermaksud pulang ke Pekalongan dari Jakarta dengan menaiki kereta Argo Anggrek dengan jadwal keberangkatan pukul 21.30. Saya tahu, akan lebih baik jika memesan kereta api beberapa hari sebelumnya karena sangat riskan untuk memesan tiket langsung pada hari H karena ada risiko tidak kebagian tiket, calo, dan sebagainya. Namun, dikarenakan kesibukan dan lain hal (ciee yang baru pindah kerja :P ), saya baru bisa ke stasiun sekitar 1 jam sebelum jam keberangkatan kereta.

Nah, di sanalah, untuk pertama kalinya saya mengalami secara langsung “dikerjai” oleh pihak-pihak yang berusaha memungut keuntungan dari calon penumpang seperti saya – meskipun saya tetap tidak mau mengikuti permainan mereka :D Silakan pembaca membaca sampai habis dan menilai, apakah hal seperti ini memang wajar terjadi di perusahaan sekelas PT KAI?

Jadi, saya tiba di stasiun sekitar 20.45 dan menanyai petugas berpakaian hitam berhelm putih (petugas keamanan?) mengenai ketersediaan tiket Argo Anggrek malam itu. Dia mengatakan sudah habis dan mempersilakan saya untuk melihat ke layar besar yang menampilkan ketersediaan semua tiket kereta api untuk hari itu dan beberapa hari ke depan. Surprisingly, disitu tercantum jelas bahwa masih ada 3 tiket kosong tersisa. Saya lantas menanyakan hal ini dan dia nampak bingung, lantas mendatangi petugas lain dan berdiskusi entah apa.

Karena saya merasa saya harus segera memesan tiket karena takut kehabisan, saya langsung mendatangi loket yang saat itu kosong untuk memesan tiket tersebut. Ternyata si petugas di loket tersebut langsung menjawab bahwa tiket tersebut habis. Saya komplain dengan menyebutkan bahwa di layar besar disebutkan masih ada 3 tiket tersedia. Dia lantas mengetik sesuatu di komputer lagi (entah apa, saya tidak dapat melihatnya), menelepon entah siapa, lalu kembali mengatakan kepada saya bahwa tiket tersebut memang habis. Dia lantas mempersilakan saya untuk kembali melihat layar besar tadi.

Ternyata di layar besar terpampang bahwa tiket sudah habis. Oke, saya mulai merasa aneh. Namun saya tetap mencoba berpikir positif bahwa mungkin 3 tiket tersebut terjual di sela waktu antara ketika saya melihat layar besar pertama kali dan ketika saya memesan tiket (meskipun selang waktunya kurang dari 3 menit dan seingat saya saat itu loket kosong). Nah, di tengah kebingungan saya dalam memutuskan alternatif untuk pulang, petugas lain yang berpakaian kuning (petugas pembawa barang?) menawarkan apabila saya mau membeli tiket. Dia meminta saya mengikutinya menuju ke temannya di luar stasiun, dan berhubung saya memang perlu pulang ke Pekalongan, saya coba mengikuti mereka. Ternyata mereka menawarkan tiket seharga 450 ribu rupiah dari harga normal 280 ribu rupiah. Tanpa menjawab sepatah kata pun, saya berbalik meninggalkan mereka :p

Saya kembali ke layar besar, dan memutuskan untuk mengambil kereta terpagi keesokan harinya. Saya lantas menuju loket untuk memesan tiket tersebut – saat itu pukul 21.15. Namun, alangkah terkejut ternyata sang petugas loket menanyakan kepada saya, apakah saya mau naik kereta malam itu juga, dia bilang masih ada tiket. Saya refleks bertanya, mengapa tadi dibilang habis? Dia tidak bisa memberikan jawaban selain bahwa ternyata masih ada tiket :P

Hahaha. Baru kali ini saya dipermainkan dalam hal pengurusan tiket ini, meskipun mohon maaf saja, saya tetap tidak mau membayar lebih. Apa yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini? Lagi-lagi mohon maaf kepada PT KAI, tetapi sekarang yang ada di dalam benak saya adalah, apabila calon penumpang memesan tiket kereta api di hari H terutama di jam-jam menjelang keberangkatan, tiket akan dianggap habis supaya calon penumpang hanya membeli melalui pihak lain dengan harga yang jauh lebih mahal. Nah, baru jika tiket tersebut tidak laku, di menit-menit terakhir tiket tiket akan kembali dijual di loket, untuk meladeni calon penumpang yang desperate (termasuk saya ketika itu, akhirnya saya tetap naik kereta api malam itu dengan harga normal :D ). Itulah yang saya alami malam itu, dan mungkin saja banyak dialami oleh calon penumpang lain.

Oh ya, saya tegaskan disini saya tidak mendiskreditkan pihak manapun. Siapa yang mengambil keuntungan pun saya tidak tahu. Saya hanya mengemukakan fakta yang terjadi kepada saya malam itu, yang melibatkan pihak-pihak tersebut diatas. Apabila pembaca ada yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih parah, silakan dishare. Akhirnya, semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket :)

Categories: Life Experience
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers