Home > Thought and Opinion > Menghitung kerugian macet Jakarta

Menghitung kerugian macet Jakarta

(Catatan: Sebenarnya versi ringkas postingan ini pernah saya tweet beberapa waktu lalu, namun saya tuliskan kembali disini supaya memperjelas)

Oke, resolusi saya tahun ini adalah menulis minimal tiap dua minggu, jadilah saya sekarang menulis soal satu kata yang tidak enak didengar ini. Macet. Siapa sih yang tidak kenal. Apalagi bagi penduduk Jakarta, macet sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Jarak yang seharusnya ditempuh selama 15-30 menit dapat menjadi 2-3 jam. Bahkan menurut saya, macet nampaknya adalah salah satu masalah terbesar yang melanda ibukota (selain masalah kemiskinan dan pemukiman).

Sebelumnya saya hanya merasakan kerugian emosional akibat macet ini. Kesal karena kendaraan yang saya naiki tidak jalan-jalan, khawatir datang terlambat karena waktu tempuh yang diluar perkiraan, dan semacamnya. Saya lantas berpikir (sambil meratapi nasib terkurung di tengah kemacetan), bahwa macet ini pasti juga menimbulkan kerugian materi.

Akhirnya saya mencoba menghitung-hitung dan terpikir akan dua kerugian utama yang ditimbulkan oleh kemacetan. Pertama, waktu produktif, yaitu waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja/beraktivitas yang terpotong gara-gara kemacetan. Kedua, pemborosan bensin, yaitu bensin yang terbuang gara-gara kendaraan terjebak di dalam kemacetan. Mari kita lihat satu per satu – oh iya, saya disini tidak mencari data di luar yang saya tahu (karena hanya hasil menghitung-hitung sambil nunggu si kendaraan bergerak). Kebanyakan berupa asumsi, jadi kalau ada yang keliru, silakan dikoreksi :D

Nah, mengenai waktu produktif yang terbuang. Seorang rekan kerja dari pinggiran Jakarta bilang dia membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di kantor (padahal biasanya di akhir pekan dia hanya menghabiskan sekitar 20 menit untuk jarak yang sama). Dengan demikian, ada 1 jam 40 menit waktu yang terbuang di setiap perjalanan, atau 3 jam 20 menit di setiap harinya (dikali dua karena setiap hari tentunya bolak balik). Mari kita buat asumsi rata-rata menjadi 2 jam (karena ada orang-orang yang tidak separah itu mengalami kemacetan, ”hanya” sekitar 45 menit hingga 1 jam setiap perjalanan).

Dengan asumsi setiap hari orang rata-rata bekerja 8 jam, dan gaji rata-rata penduduk Jakarta lebih kurang 2,5 juta rupiah per bulan, berarti per bulan terdapat kerugian waktu efektif dari kemacetan senilai 2 jam / 8 jam x 2,5 juta rupiah atau sebesar 625.000 rupiah. Apabila kita asumsikan ada 5 juta penduduk Jakarta yang bekerja, berarti total waktu efektif yang terbuang dalam setahun adalah 625.000 rupiah x 12 bulan x 5 juta jiwa = 37,5 triliun rupiah. WoW. Saya kaget.

Hitungan belum selesai. Sekarang mari kita hitung kerugian yang ditimbulkan akibat pemborosan bensin. Mari kita asumsikan terdapat 10 juta kendaraan di Jakarta (ada yang tahu jumlah pastinya?) dan rata-rata kendaraan memboroskan 0.5 liter per hari akibat kemacetan (ada yang punya data pastinya lagi?). Dengan kedua asumsi tersebut, maka bensin yang terbuang per tahun adalah 10 juta x 0.5 liter x 250 hari kerja = 1,25 miliar liter. Dengan harga premium sebesar 4500 rupiah per liter, ini berarti sekitar 5,6 triliun rupiah. WoW lagi.

Artinya, jika dijumlahkan berarti total kerugian akibat macet di Jakarta dalam satu tahun itu 43,1 triliun rupiah. Jumlah yang sangat besar. Sebagai gambaran, jika jumlah rakyat miskin di jakarta ada 1 juta orang, maka uang 43,1 triliun dapat digunakan untuk memberi subsidi kepada rakyat miskin di Jakarta sebesar 43,1 juta rupiah per tahun. Sangat sangat Wow. Bayangkan potensi yang dapat disalurkan apabila kemacetan Jakarta dapat diatasi. Saya pasti akan mendukung gubernur yang memiliki program jelas untuk mengatasi masalah ini (berhubung tahun depan Pilkada DKI, mohon kepada para calon untuk sangat-sangat memikirkan hal ini :D ).

Oh, sebagai penutup, sebelum saya mempublish postingan ini, saya mencoba googling dan menemukan artikel-artikel yang menyatakan kerugian Jakarta berkisar antara 28 hingga 46 triliun. Bahkan setelah membaca artikel ini http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/09/05/29/53013-kerugian-kemacetan-jakarta-rp-43-t ternyata ada pengamat politik yang mengeluarkan estimasi kerugian yang sama dengan saya :D Jadi yah, estimasi saya tidak keliru-keliru amat lah, meskipun tentu saja berapa jumlah pastinya, hanya Yang Di Atas yang tahu. Meanwhile, mari yuk berkontribusi untuk mengurangi kemacetan, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke sarana transportasi umum atau sepeda :)

Categories: Thought and Opinion
  1. April 13, 2011 at 3:59 pm | #1

    Dengan dana Rp 43,1 T itu – yg mana belum termasuk biaya kesehatan (ISPA, stress, dll) akibat macet – bisa buat bikin semacam MRT atau Metro Subway gak sih? :D

    • April 23, 2011 at 11:17 am | #2

      Halo nggri,,,

      Haha iya sebenernya masih ada biaya yang terakumulasi kayak kerugian karena polusi, dsb sih tapi sulit ngitungnya secara awang-awang haha..

      mengenai biaya untuk bikin sarana transportasi lain, di link ini http://bataviase.co.id/node/99892 disebut kalo investasi buat bikin monorel itu ~5 triliun rupiah “saja” hoho, artinya, sangat bisa sekali :D

  2. April 23, 2011 at 9:19 am | #3

    Wow, analisis yang luar biasa, Jrin. Saya tertarik sama penentuan asumsi jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sekitar 10 juta. Adakah pendekatan yang bisa kita gunakan untuk memperoleh angka itu? Selain lewat Googling dan menemukan dokumen resmi dari lembaga tertentu yang menyatakan demikian, tentunya :)

    FYI, ada tim ahli IBM dari US, UK, dan France yang baru-baru ini datang ke Jakarta untuk memecahkan problem kemacetan itu, lho (http://goo.gl/yIJPr). Kita lihat saja bagaimana sepak terjangnya :)

    Btw, aktivitas berpikir saat macet ini cukup bagus juga, lho. Lebih baik daripada Internet-an. Soalnya, menurut infographic di sini (http://goo.gl/DRwLY), aktivitas online kita punya dampak juga terhadap emisi CO2. Kalau banyak aktivitas online yang tidak terlalu penting dilakukan semata-mata untuk mengisi waktu luang saat macet, makin panjanglah daftar kerugian gara-gara macet ini, ya :)

    • April 23, 2011 at 10:34 am | #4

      Sedikit info soal asumsi jumlah kendaraan, statistik menunjukkan ternyata jumlah kendaraan yang benar ada 13 juta hehe. Mengenai asumsi yang saya gunakan, saya pakai rasio sekitar 1,1-1,2 kali jumlah penduduk Jakarta (9 juta), karena jumlah kendaraan pasti berkolerasi dengan jumlah penduduk, meskipun rasionya pasti beda-beda di setiap kota di setiap negara karena ada faktor-faktor yang mempengaruhi seperti sarana transportasi umum, luas jalan, dsb. Ternyata rasio saya agak sedikit meleset hehe.

      Oh ya, nice info soal artikel internetan ketika macet, hehe :D

  3. July 9, 2011 at 1:03 pm | #5

    sepertiga dari subsidi APBN untuk BBM kita… mantap…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers