Archive

Archive for April, 2011

Tentang Konsultan, Tentang BCG (Boston Consulting Group)

“Kamu coba deh daftar BCG”

Begitu kata salah satu sahabat terbaik saja, Zaky, ketika kami mengobrol-ngobrol sekitar 2 tahun lalu, soal pilihan apa yang ingin ditempuh setelah lulus dari ITB. Saat itu saya tidak tahu apa itu BCG – yang belakangan saya ketahui merupakan singkatan dari Boston Consulting Group. Yang saya pikirkan soal opsi buat saya ketika itu adalah bekerja di perusahaan IT (terutama yang besar) agar dapat memperoleh banyak pengalaman sebelum melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan kembali untuk membagikan ilmu dan pengalaman tersebut di tanah air.

Akhirnya saya telusuri situs BCG (saya benar-benar telusuri setiap halaman dan dokumen yang ada disana), bertanya-tanya kepada rekan dan senior (kebetulan saat itu ada senior yang bekerja disana) hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa BCG adalah salah satu perusahaan terbaik di dunia yang bergerak di bidang konsultan manajemen strategis, yaitu memberikan jasa konsultasi dalam mendesain dan implementasi berbagai strategi bisnis, misalnya meningkatkan pendapatan, ekspansi ke bidang industri atau negara lain, akuisisi, dan sebagainya.

Awalnya saya sedikit ragu untuk mencoba karena latar belakang pendidikan yang sepertinya kurang nyambung (IT). Meskipun demikian, sepertinya disana banyak analisis mendalam (mengolah data, mengambil kesimpulan, dsb) yang perlu dilakukan dalam pekerjaan yang sepertinya pun bisa mengasah otak saya, dan ini menbuat saya tertarik. Hal lain yang membuat saya condong untuk mendaftar yaitu informasi bahwa konsultan akan terekspos dengan pimpinan perusahaan-perusahaan besar (terutama klien), hal yang langka untuk seorang lulusan S1.

Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar BCG. Mungkin ada yang bertanya, kenapa saya tidak consider perusahaan konsultan manajemen lainnya seperti McKinsey, AT Kearney, dsb? Sederhana saja, selera :) Saya menelusuri situs BCG, datang ke presentasi mereka di Shangrilla, bertanya ke orang-orang disana, dan akhirnya merasa ini gue banget hehe. Maka setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan persiapan untuk masuk kesana. Saya akan menceritakan soal persiapan ini pada kesempatan lain (beserta tips yang saya tahu), namun intinya itu bukan proses yang gampang, sehingga pastikan kalau Anda ingin masuk BCG, lakukan persiapan matang :D

Dan bulan November 2009, saya memulai perjalanan saya di BCG – dan apa yang saya duga sebagian besar ternyata benar. Kalau saya boleh rangkum, ada dua hal yang membuat BCG perusahaan yang menurut saya sangat baik untuk menjadi pilihan teman-teman yang baru lulus S1. Poin pertama adalah eksposur yang sangat tinggi. Setelah dua hari pertama orientasi, saya langsung ditempatkan di proyek bagi perusahaan dunia yang bergerak di bidang consumer goods (bagi yang belum tahu, perusahaan ini membuat produk makanan/minuman/alat perawatan diri yang dapat ditemukan di supermarket/warung). Dan dalam proyek tersebut, saya berinteraksi dengan kepala perusahaan dunia tersebut untuk cabang Indonesia, dan pada akhirnya dengan kepala cabang Asia Pasifik. Wow, saya tidak membayangkan saya dapat berinteraksi dengan mereka pada usia demikian apabila saya bekerja di bidang lain.

Contoh lainnya adalah ditempatkan dalam proyek bagi salah seorang terkaya di Indonesia. Pada akhir proyek, saya beserta tim BCG duduk satu meja dengan orang tersebut (yang saya sering dengar namanya, namun baru pertama kali ini melihat dalam jarak dekat). Dan yang lebih istimewa, kami berdiskusi dalam konteks sejajar, artinya bukan hanya saya mendengarkan beliau berbicara, melainkan saya dan tim BCG mempresentasikan hasil proyek kami, lalu beliau menanggapi dan berdiskusi. Sekali lagi, ini kesempatan langka yang saya yakin sulit ditemui di perusahaan lain.

Poin kedua adalah mobilitas yang tinggi, baik dalam bidang pekerjaan maupun dalam wilayah pekerjaan. Dalam bidang pekerjaan, selama 1,5 tahun ini saya sudah menangani proyek di bidang industri consumer goods, industrial goods, sektor publik, IT, retail, dan perbankan. Saya merasa beruntung karena saya saat ini, meskipun tentunya masih jauh dari ahli, tetapi cukup familiar dengan tiap bidang industri tersebut – bagaimana bisnis berjalan, apa-apa yang harus diperhatikan dalam tiap industri, dan sebagainya.

Mengenai wilayah pekerjaan? Semenjak kerja di BCG, saya lumayan familiar dengan penerbangan beberapa kali dalam satu minggu hehe. Pernah dalam satu proyek, saya harus mewawancarai dua orang berbeda di dua kota berbeda – Medan dan Denpasar – dengan selisih satu hari! Jadilah saya pada hari Rabu malam terbang dari Jakarta ke Denpasar, lalu melakukan wawancara di hari Kamis, lalu malam harinya terbang dua kali – dari Denpasar ke Jakarta lalu dari Jakarta ke Medan, dan pada hari Jumat saya melakukan wawancara di Medan, lalu malam harinya kembali ke Jakarta. Pada proyek lainnya, saya bahkan harus berada di tiga negara dalam tiga hari (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) – kurang mobile apa coba :D

Menurut saya dua poin tersebut sangat bermanfaat terutama bagi orang-orang yang baru lulus S1 karena hal tersebut tidak akan membuat bosan :) Malahan, saya dituntut untuk selalu belajar cepat (terutama ketika memulai proyek baru yang pasti akan sangat berbeda dengan proyek sebelumnya). Karena tiap proyek rata-rata berdurasi 3 bulan, besar kemungkinan setelah kita familiar dengan proyek tersebut (sehingga mulai jenuh), kita akan ditempatkan di proyek lain dengan tantangan dan hal yang sama sekali baru.

Apakah ada trade-off? Tentu saja tidak ada pekerjaan yang sempurna. Pekerjaan di BCG menuntut hasil kerja berkualitas tinggi, sehingga waktu kerja kami cenderung lebih tinggi daripada pekerja kantoran pada umumnya. Tetapi hey, karena saya menyinggung orang yang baru lulus S1, bukankah sudah terbiasa dengan tuntutan seperti ini? Hehe.

Sampai kapan saya berencana untuk bekerja di BCG? Untuk saat ini, bulan ini adalah bulan terakhir saya di BCG. Bukan, bukan karena ada hal yang tidak saya sukai di BCG. Malahan, saya merasa sangat bersyukur bisa kerja di BCG, dan saya merekomendasikan BCG sebagai tempat kerja bagi mereka yang ingin tantangan karir terutama terkait dua poin diatas (dan remunerasi tinggi hehe :D ). Namun, ternyata saat ini saya memiliki passion lain yang ingin saya kembangkan, yaitu merintis usaha sendiri. Ke depannya, mulai Mei 2011 saya akan menjadi direktur di http://www.suitmedia.com bersama sahabat saya Zaky yang saya sebut di awal dan teman-teman lain disana (cerita tentang perusahaan yang satu ini pun akan saya tulis pada kesempatan lain :D ).

Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada BCG, terutama cabang Asia Tenggara, dan lebih khusus lagi cabang Indonesia, untuk pengalaman yang luar biasa selama 1,5 tahun ini. Semoga BCG bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Untuk saat ini, adios!

Categories: Thought and Opinion

Menghitung kerugian macet Jakarta

(Catatan: Sebenarnya versi ringkas postingan ini pernah saya tweet beberapa waktu lalu, namun saya tuliskan kembali disini supaya memperjelas)

Oke, resolusi saya tahun ini adalah menulis minimal tiap dua minggu, jadilah saya sekarang menulis soal satu kata yang tidak enak didengar ini. Macet. Siapa sih yang tidak kenal. Apalagi bagi penduduk Jakarta, macet sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Jarak yang seharusnya ditempuh selama 15-30 menit dapat menjadi 2-3 jam. Bahkan menurut saya, macet nampaknya adalah salah satu masalah terbesar yang melanda ibukota (selain masalah kemiskinan dan pemukiman).

Sebelumnya saya hanya merasakan kerugian emosional akibat macet ini. Kesal karena kendaraan yang saya naiki tidak jalan-jalan, khawatir datang terlambat karena waktu tempuh yang diluar perkiraan, dan semacamnya. Saya lantas berpikir (sambil meratapi nasib terkurung di tengah kemacetan), bahwa macet ini pasti juga menimbulkan kerugian materi.

Akhirnya saya mencoba menghitung-hitung dan terpikir akan dua kerugian utama yang ditimbulkan oleh kemacetan. Pertama, waktu produktif, yaitu waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja/beraktivitas yang terpotong gara-gara kemacetan. Kedua, pemborosan bensin, yaitu bensin yang terbuang gara-gara kendaraan terjebak di dalam kemacetan. Mari kita lihat satu per satu – oh iya, saya disini tidak mencari data di luar yang saya tahu (karena hanya hasil menghitung-hitung sambil nunggu si kendaraan bergerak). Kebanyakan berupa asumsi, jadi kalau ada yang keliru, silakan dikoreksi :D

Nah, mengenai waktu produktif yang terbuang. Seorang rekan kerja dari pinggiran Jakarta bilang dia membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di kantor (padahal biasanya di akhir pekan dia hanya menghabiskan sekitar 20 menit untuk jarak yang sama). Dengan demikian, ada 1 jam 40 menit waktu yang terbuang di setiap perjalanan, atau 3 jam 20 menit di setiap harinya (dikali dua karena setiap hari tentunya bolak balik). Mari kita buat asumsi rata-rata menjadi 2 jam (karena ada orang-orang yang tidak separah itu mengalami kemacetan, ”hanya” sekitar 45 menit hingga 1 jam setiap perjalanan).

Dengan asumsi setiap hari orang rata-rata bekerja 8 jam, dan gaji rata-rata penduduk Jakarta lebih kurang 2,5 juta rupiah per bulan, berarti per bulan terdapat kerugian waktu efektif dari kemacetan senilai 2 jam / 8 jam x 2,5 juta rupiah atau sebesar 625.000 rupiah. Apabila kita asumsikan ada 5 juta penduduk Jakarta yang bekerja, berarti total waktu efektif yang terbuang dalam setahun adalah 625.000 rupiah x 12 bulan x 5 juta jiwa = 37,5 triliun rupiah. WoW. Saya kaget.

Hitungan belum selesai. Sekarang mari kita hitung kerugian yang ditimbulkan akibat pemborosan bensin. Mari kita asumsikan terdapat 10 juta kendaraan di Jakarta (ada yang tahu jumlah pastinya?) dan rata-rata kendaraan memboroskan 0.5 liter per hari akibat kemacetan (ada yang punya data pastinya lagi?). Dengan kedua asumsi tersebut, maka bensin yang terbuang per tahun adalah 10 juta x 0.5 liter x 250 hari kerja = 1,25 miliar liter. Dengan harga premium sebesar 4500 rupiah per liter, ini berarti sekitar 5,6 triliun rupiah. WoW lagi.

Artinya, jika dijumlahkan berarti total kerugian akibat macet di Jakarta dalam satu tahun itu 43,1 triliun rupiah. Jumlah yang sangat besar. Sebagai gambaran, jika jumlah rakyat miskin di jakarta ada 1 juta orang, maka uang 43,1 triliun dapat digunakan untuk memberi subsidi kepada rakyat miskin di Jakarta sebesar 43,1 juta rupiah per tahun. Sangat sangat Wow. Bayangkan potensi yang dapat disalurkan apabila kemacetan Jakarta dapat diatasi. Saya pasti akan mendukung gubernur yang memiliki program jelas untuk mengatasi masalah ini (berhubung tahun depan Pilkada DKI, mohon kepada para calon untuk sangat-sangat memikirkan hal ini :D ).

Oh, sebagai penutup, sebelum saya mempublish postingan ini, saya mencoba googling dan menemukan artikel-artikel yang menyatakan kerugian Jakarta berkisar antara 28 hingga 46 triliun. Bahkan setelah membaca artikel ini http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/09/05/29/53013-kerugian-kemacetan-jakarta-rp-43-t ternyata ada pengamat politik yang mengeluarkan estimasi kerugian yang sama dengan saya :D Jadi yah, estimasi saya tidak keliru-keliru amat lah, meskipun tentu saja berapa jumlah pastinya, hanya Yang Di Atas yang tahu. Meanwhile, mari yuk berkontribusi untuk mengurangi kemacetan, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke sarana transportasi umum atau sepeda :)

Categories: Thought and Opinion
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers