Home > Thought and Opinion > Mengapa emas? (Bagian 1 dari 2)

Mengapa emas? (Bagian 1 dari 2)

Belakangan ini beberapa teman bertanya kepada saya tentang alasan saya berinvestasi di emas. Kalau si penanya butuh jawaban yang cepat, biasanya jawaban saya, “karena emas itu memiliki daya beli yang tetap dalam jangka panjang, sehingga minimal keuntungan investasi emas ya setara inflasi”

Sebelumnya ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu alasan orang berinvestasi. Istilah investasi sendiri baru populer sekitar 10 tahun belakangan, terutama setelah krisis dan inflasi yang menyebabkan harga barang naik gila-gilaan. Ya, sebelumnya orang percaya bahwa menabung adalah jalan terbaik untuk menjadi kaya. Namun, fakta bahwa keuntungan dari menabung (bunga bank saat ini berkisar 3 persen per tahun) kalah dari inflasi (rata-rata 8 persen per tahun) menyadarkan bahwa menabung justru membuat miskin karena menurunkan daya beli. Uang 10 juta rupiah yang sebelumnya dapat membeli motor, setelah ditabung selama 1 tahun malah justru tidak dapat membeli motor karena harga motor sudah menjadi 11 juta rupiah sementara tabungan yang terkumpul hanya 10,3 juta rupiah. Akhirnya orang ramai-ramai mencari cara lain untuk meningkatkan kekayaan. Kali ini tujuannya lebih jelas, harus bisa mengalahkan inflasi.

Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa investasi emas bukanlah sarana terbaik. Sarana terbaik meningkatkan kekayaan (baik pribadi maupun masyarakat secara umum) adalah melalui usaha riil – beternak, berdagang, berjualan makanan, dan sebagainya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa usaha riil membutuhkan ilmu dan fokus yang tinggi sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Selain usaha riil, tedapat sarana lain yang juga untuk meningkatkan kekayaan yaitu usaha properti – rumah, tanah, dsb. Usaha properti dapat memberikan manfaat ganda, yaitu dari capital gain (nilai properti yang cenderung naik) serta pendapatan tetap (jika dikontrakkan). Hanya saja, ini membutuhkan modal yang besar dan saya saat ini belum memiliki kemampuan untuk itu (Mudah-mudahan dimasa yang akan datang, amin :D ).

Sarana investasi yang sebetulnya baik namun membutuhkan analisis dan perencanaan yang matang yaitu reksadana. Terdapat macam-macam reksadana berdasarkan risiko dan kemungkinan keuntungan, diantaranya reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Semakin tinggi keuntungan yang mungkin didapat, semakin besar risiko yang menyertainya. Begitu pula sebaliknya. Apabila Anda bermaksud berinvestasi di reksadana, telitilah dalam mengetahui tujuan investasi Anda (terutama soal waktu investasi – apakah Anda berencana berinvestasi untuk jangka pendek, menengah, atau panjang?) dan kemudian mencocokkan tujuan Anda tersebut dengan jenis reksadana yang sesuai. Saya pribadi akan merencanakan untuk berinvestasi di reksadana setelah saya memfinalisasi tujuan investasi saya (seberapa besar alokasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang).

Nah, bagi Anda yang belum memiliki waktu untuk mempelajari usaha riil ataupun reksadana, dan belum cukup modal untuk membeli properti, maka emas dapat menjadi pilihan yang baik. Seperti saya katakan diawal, kita bisa mengharapkan apresiasi harga emas mengalahkan inflasi. Grafik dibawah ini, yang dikutip dari www.geraidinar.com menunjukkan bagaimana keuntungan investasi emas dibandingkan dengan inflasi.

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa selama 8 tahun terakhir, kenaikan harga emas hampir selalu diatas inflasi. Rata-rata harga emas naik sebesar 19% per tahun (bandingkan dengan inflasi 8% per tahun). Hal ini sesuai dengan fitrah emas sebagai “hedging” atau menjaga nilai. Artinya, emas yang Anda miliki memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang yang sama saat ini maupun dimasa yang akan datang (bahkan ada kemungkinan dimasa yang akan datang nilai emas tersebut lebih dari barang-barang tersebut).

Sebagai contoh, apabila Anda saat ini memiliki emas sebanyak 5 gram (sekitar 2 juta rupiah pada saat blog ini ditulis), emas ini sekarang dapat Anda gunakan untuk membeli 1 kambing berkualitas baik. Apabila Anda simpan emas ini selama 10 tahun, maka insya Allah emas 5 gram ini masih tetap dapat membeli barang yang sama (dalam contoh ini 1 kambing). Akan berbeda apabila Anda memiliki 2 juta rupiah saat ini dan hanya Anda tabung selama 10 tahun. Uang Anda hanya akan menjadi sekitar 2,7 juta rupiah (asumsi bunga bank 3 persen), sedangkan harga kambing 10 tahun lagi sudah jauh melebihi nilai tersebut.

Nah, apakah Anda sudah tertarik untuk berinvestasi emas? Jika belum, silakan beri komentar supaya dapat didiskusikan lebih lanjut. Jika sudah, tunggu tulisan bagian berikutnya yang akan membahas cara-cara dan bentuk-bentuk investasi emas :)

 

Categories: Thought and Opinion
  1. March 23, 2011 at 3:21 am | #1

    Salah satu alasan yg bikin orang cenderung malas berinvestasi emas adalah masalah penyimpanannya. Tolong bahas tentang cara penyimpanan emas yg praktis dong, Jrin.. Deposit box, brankas, gadai, atau cukup di bawah bantal saja? :D

    • March 23, 2011 at 3:31 am | #2

      Lewat bank, misal bank B**. kita ga bakal ngeliat fisik emasnya langsung, cukup di rekening/buku/akun tercantum sekian gram/kg emas.

      • March 23, 2011 at 6:16 am | #3

        @Anggri: sip sip, di bagian berikutnya :D

        @Ibi: emang ada bank yang ada tabungan emas murni? setauku ga ada soalnya, adanya kalo bukan derivatif (yang mana berbahaya karena yang kita punya adalah produk turunannya, bukan emasnya) ya gadai (yang mana menurutku ga worth karena biaya gadai bisa jadi setara kenaikan harga emas)

    • March 29, 2011 at 1:57 am | #4

      bener banget tu masalah penyimpanan. males banyak2 kalo buat disimpen sendiri, berasa nyimpen uang gepokan. hehehe… kalo bisa sekalian bahas sama biaya penyimpanannya ya, mana yang reliable tapi ga costly. thanks.

      • March 29, 2011 at 2:10 am | #5

        kan uda dibahas tuh mas di postingan setelah ini? rata-rata bank besar ada fasilitas SDB kok dengan biaya <300,000. tentunya ini worth kalo misalnya emas yang disimpan banyak (diatas 20 gram). kalo 10 gram kurang sih taro dompet aja ;)

      • March 29, 2011 at 10:11 am | #6

        mas??? teganya -_-

        owh ok thanks. nyampe ke sini dari planet IF sih, di sana belum kepublish bagian 2-nya. hehehe…

  2. March 29, 2011 at 10:17 am | #7

    @giaferdi: eh ini mbak anggia ferdina yah, duh maap2 hahah tadi cuma sekilas liat namanya dan asumsiin cowok hehe :D

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers