Archive

Archive for March, 2011

Mengapa emas? (Bagian 2 dari 2)

Di postingan sebelumnya saya sudah menjelaskan alasan emas menjadi salah satu pilihan berinvestasi yang cocok untuk pemula, yaitu return yang cukup tinggi namun tidak diperlukan terlalu banyak ilmu untuk memulainya. Disini saya akan membahas pilihan investasi emas sehingga Anda dapat memilih mana yang paling cocok.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam investasi emas, sama seperti jual beli uang asing, terdapat perbedaan harga jual dan harga beli yang disebut dengan spread. Besar spread itu sendiri bervariasi antara 1-30% tergantung jenis emasnya. Hal ini menjadi penting karena ketika Anda berinvestasi di emas, kenaikan harga emas hanya berarti bagi Anda setelah dikurangi spread. Sebagai contoh, apabila Anda membeli emas dengan spread 4% lalu setelah setahun harga emas naik 20%, maka keuntungan yang Anda peroleh jika menjual emas tersebut adalah 16%.

Nah, secara umum terdapat tiga pilihan investasi emas sebagai berikut:

1. Emas perhiasan

Sesuai dengan namanya, emas perhiasan berbentuk perhiasan yang digunakan oleh wanita – kalung, gelang, dan sebagainya. Tentu saja, kelebihan emas jenis ini adalah dapat dipergunakan sebagai aksesori untuk mempercantik penampilan. Namun, menurut saya emas jenis ini kurang tepat apabila digunakan sebagai sarana investasi. Hal ini disebabkan dalam perhiasan emas, biaya pembuatannya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk spread yang tinggi, terutama jika perhiasan tersebut memiliki model yang langka atau sulit dibuat. Spread emas perhiasan bisa berkisar antara 6 – 30% tergantung kerumitan pembuatannya.

Kesimpulan: Emas bertipe perhiasan hanya cocok apabila Anda ingin sekaligus menggunakannya, namun konsekuensinya imbal hasil investasinya tidak setinggi emas lainnya.

2. Emas batangan

Merupakan emas yang dijual dalam bentuk batang/koin dengan ukuran bervariasi dari 1 hingga 1000 gram. Emas batangan memiliki spread bervariasi tergantung dari ukurannya, semakin besar maka spreadnya akan semakin kecil. Sebagai contoh, koin 1 gram memiliki spread ~12%, sedangkan batangan 100 gram atau lebih besar memiliki spread ~1%.

Kelebihan emas batangan adalah spread yang rendah terutama untuk batangan yang berukuran besar. Namun, tentu saja untuk memiliki emas batangan yang besar tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Emas batangan memiliki kelemahan soal likuiditas. Apabila Anda bermaksud berinvestasi dengan cara mencicil per bulan, tentu yang bisa Anda lakukan adalah membeli dalam ukuran kecil (misal 5 gram) dan oleh karena itu spread yang diperoleh cukup tinggi. Nah, apabila Anda mengumpulkan 10 koin 5 gram misalnya, dan ada teman Anda yang ingin membeli emas 50 gram, maka teman Anda tidak akan tertarik membeli 10 koin 5 gram. Ia akan lebih tertarik untuk membeli satu batang emas 50 gram. Dengan demikian, emas yang Anda beli akan sulit Anda jual kepada pihak lain selain toko emas.

Kesulitan likuidas juga akan muncul apabila Anda memiliki emas batangan berukuran besar (misal 250 gram). Jika Anda butuh mencairkan dana sebesar 10 atau 50 gram emas misalnya, maka Anda tentu tidak dapat menguangkan sebagian dari batangan 250 gram tersebut. Anda harus menjualnya terlebih dahulu, menarik sebagian uangnya, lalu membeli emas kembali seberat sisanya. Hal ini akan menyebabkan Anda harus menanggung spread yang timbul.

Kesimpulan: Emas batangan cocok jika Anda memiliki dana dalam jumlah besar (sebesar 100 gram emas atau lebih) yang benar-benar menganggur sehingga Anda tidak harus menjual hanya sebagian di masa yang akan datang.

3. Dinar

Dinar merupakan koin emas 22 karat seberat 4.25 gram yang digunakan sebagai standard dalam perekonomian Islam di masa lampau. Meskipun demikian, tentu saja siapa saja dapat menggunakan sarana investasi ini. Dinar memiliki spread sebesar 4% (lebih rendah daripada koin emas berukuran kecil, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan emas batangan berukuran besar).

Kelebihan dinar adalah soal likuiditas. Apabila Anda berinvestasi dengan mencicil per bulan, Anda dapat membeli 1-2 dinar per bulan. Setelah terkumpul cukup banyak dan Anda bermaksud menguangkan sebagian, Anda dapat menjual dinar sebanyak yang diperlukan.

Kelemahan dinar adalah spread yang lebih tinggi dibandingkan emas batangan. Namun, karena dinar adalah sebuah standard, maka dinar dapat dijual kepada teman Anda. Cara ini menguntungkan kedua belah pihak (Anda maupun teman Anda) karena dinar dapat diperjualbelikan dengan harga antara. Sebagai contoh, apabila Anda menjual dinar ke toko emas dengan harga 1,7 juta dan toko emas menjual dinar kepada teman Anda dengan harga 1,78 juta, maka Anda sebenarnya dapat langsung menjual dinar kepada teman Anda dengan harga 1,74 juta. Dengan cara seperti ini, spread yang semula 4% akan menjadi 2%.

Kesimpulan: Dinar cocok jika Anda berinvestasi dengan cara mencicil bulanan dan kemungkinan akan mempergunakan sebagian (tidak harus seluruhnya) di masa yang akan datang.

Nah, bagaimana dengan penyimpanan? Apabila Anda berinvestasi dalam jumlah besar dan lama, maka membeli safe deposit box sendiri boleh jadi pilihan. Dengan harga 2 juta rupiah satu kali saja, Anda dapat menyimpan ratusan bahkan ribuan gram emas. Namun, apabila Anda memulai dengan jumlah yang tidak terlalu besar, maka penyewaan safe deposit box di bank-bank boleh jadi pilihan. Dengan biaya sewa sebesar 200 ribu rupiah per tahun untuk ukuran kecil, rasa-rasanya sudah dapat menampung ratusan gram emas. Silakan diperhitungkan biaya penyimpanan ini setelah dikurangi dengan spread tadi untuk menentukan berapa biaya yang Anda toleransi untuk menyimpan.

Oh ya, lantas, bagaimana dengan saya sendiri – kemana saya berinvestasi emas? Karena saya berinvestasi emas dengan mencicil per bulan, saya berinvestasi dalam bentuk dinar. Saya pilih www.geraidinar.com karena layanannya yang menurut saya profesional. Saya dapat menyimpan dinar disana tanpa biaya, lalu setelah dinar saya terkumpul cukup banyak (diatas 15 dinar) dan untuk lebih yakin akan keamanan dinar saya, maka saya dapat meminta pihak geraidinar untuk mengirimkan dinar tersebut ke alamat saya untuk selanjutnya saya letakkan di safe deposit box bank. Setelah itu, kembali saya mencicil untuk membeli dinar lagi dan menyimpannya di geraidinar – demikian seterusnya. Geraidinar pun memiliki fasilitas mirip e-banking, dimana saya bisa melihat saldo dinar saya saat ini, mentransfer kepada pemilik dinar yang lain, dan beberapa layanan lainnya.

Diluar pilihan investasi diatas, masih ada sebenernya investasi emas secara tidak langsung seperti sistem kebun emas atau kontrak berjangka emas – saya tidak menganjurkan karena selayaknya investasi lain yang didasarkan pada hutang atau derivatif sangat rentan terhadap ketidakpastian dan risiko di luar kekuasaan kita. Investasi emas akan menjadi efektif apabila kita sendiri yang menguasai fisiknya secara langsung (terlepas dari metode penyimpanan yang dilakukan). Selamat berinvestasi :D

Categories: Thought and Opinion

Mengapa emas? (Bagian 1 dari 2)

Belakangan ini beberapa teman bertanya kepada saya tentang alasan saya berinvestasi di emas. Kalau si penanya butuh jawaban yang cepat, biasanya jawaban saya, “karena emas itu memiliki daya beli yang tetap dalam jangka panjang, sehingga minimal keuntungan investasi emas ya setara inflasi”

Sebelumnya ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu alasan orang berinvestasi. Istilah investasi sendiri baru populer sekitar 10 tahun belakangan, terutama setelah krisis dan inflasi yang menyebabkan harga barang naik gila-gilaan. Ya, sebelumnya orang percaya bahwa menabung adalah jalan terbaik untuk menjadi kaya. Namun, fakta bahwa keuntungan dari menabung (bunga bank saat ini berkisar 3 persen per tahun) kalah dari inflasi (rata-rata 8 persen per tahun) menyadarkan bahwa menabung justru membuat miskin karena menurunkan daya beli. Uang 10 juta rupiah yang sebelumnya dapat membeli motor, setelah ditabung selama 1 tahun malah justru tidak dapat membeli motor karena harga motor sudah menjadi 11 juta rupiah sementara tabungan yang terkumpul hanya 10,3 juta rupiah. Akhirnya orang ramai-ramai mencari cara lain untuk meningkatkan kekayaan. Kali ini tujuannya lebih jelas, harus bisa mengalahkan inflasi.

Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa investasi emas bukanlah sarana terbaik. Sarana terbaik meningkatkan kekayaan (baik pribadi maupun masyarakat secara umum) adalah melalui usaha riil – beternak, berdagang, berjualan makanan, dan sebagainya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa usaha riil membutuhkan ilmu dan fokus yang tinggi sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Selain usaha riil, tedapat sarana lain yang juga untuk meningkatkan kekayaan yaitu usaha properti – rumah, tanah, dsb. Usaha properti dapat memberikan manfaat ganda, yaitu dari capital gain (nilai properti yang cenderung naik) serta pendapatan tetap (jika dikontrakkan). Hanya saja, ini membutuhkan modal yang besar dan saya saat ini belum memiliki kemampuan untuk itu (Mudah-mudahan dimasa yang akan datang, amin :D ).

Sarana investasi yang sebetulnya baik namun membutuhkan analisis dan perencanaan yang matang yaitu reksadana. Terdapat macam-macam reksadana berdasarkan risiko dan kemungkinan keuntungan, diantaranya reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Semakin tinggi keuntungan yang mungkin didapat, semakin besar risiko yang menyertainya. Begitu pula sebaliknya. Apabila Anda bermaksud berinvestasi di reksadana, telitilah dalam mengetahui tujuan investasi Anda (terutama soal waktu investasi – apakah Anda berencana berinvestasi untuk jangka pendek, menengah, atau panjang?) dan kemudian mencocokkan tujuan Anda tersebut dengan jenis reksadana yang sesuai. Saya pribadi akan merencanakan untuk berinvestasi di reksadana setelah saya memfinalisasi tujuan investasi saya (seberapa besar alokasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang).

Nah, bagi Anda yang belum memiliki waktu untuk mempelajari usaha riil ataupun reksadana, dan belum cukup modal untuk membeli properti, maka emas dapat menjadi pilihan yang baik. Seperti saya katakan diawal, kita bisa mengharapkan apresiasi harga emas mengalahkan inflasi. Grafik dibawah ini, yang dikutip dari www.geraidinar.com menunjukkan bagaimana keuntungan investasi emas dibandingkan dengan inflasi.

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa selama 8 tahun terakhir, kenaikan harga emas hampir selalu diatas inflasi. Rata-rata harga emas naik sebesar 19% per tahun (bandingkan dengan inflasi 8% per tahun). Hal ini sesuai dengan fitrah emas sebagai “hedging” atau menjaga nilai. Artinya, emas yang Anda miliki memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang yang sama saat ini maupun dimasa yang akan datang (bahkan ada kemungkinan dimasa yang akan datang nilai emas tersebut lebih dari barang-barang tersebut).

Sebagai contoh, apabila Anda saat ini memiliki emas sebanyak 5 gram (sekitar 2 juta rupiah pada saat blog ini ditulis), emas ini sekarang dapat Anda gunakan untuk membeli 1 kambing berkualitas baik. Apabila Anda simpan emas ini selama 10 tahun, maka insya Allah emas 5 gram ini masih tetap dapat membeli barang yang sama (dalam contoh ini 1 kambing). Akan berbeda apabila Anda memiliki 2 juta rupiah saat ini dan hanya Anda tabung selama 10 tahun. Uang Anda hanya akan menjadi sekitar 2,7 juta rupiah (asumsi bunga bank 3 persen), sedangkan harga kambing 10 tahun lagi sudah jauh melebihi nilai tersebut.

Nah, apakah Anda sudah tertarik untuk berinvestasi emas? Jika belum, silakan beri komentar supaya dapat didiskusikan lebih lanjut. Jika sudah, tunggu tulisan bagian berikutnya yang akan membahas cara-cara dan bentuk-bentuk investasi emas :)

 

Categories: Thought and Opinion

Tentang Si Gigi Pemalas

Tersebutlah gigi geraham kanan bawah paling belakang saya yang malas untuk tumbuh berdiri – ia tumbuh horizontal sehingga menabrak gigi depannya. Selama ini sih tidak pernah ada masalah selain sisa makanan yang kadang terselip, namun rasa sakit yang menderu belakangan ini membuat saya untuk memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter gigi. Saya sih menduga bahwa gigi pemalas ini harus dicabut dengan cara operasi. Hal ini disebabkan ia terhalang oleh gusi, sehingga si gusi ini harus disayat terlebih dahulu supaya gigi bermasalah ini bisa diangkat (lihat gambar diatas untuk memperjelas – mohon maaf gambar kurang bagus tapi memang inti dari postingan ini bukan gambarnya :D ).

Saya akhirnya datang ke klinik Family Dental – klinik gigi favorit saya di lantai 5 Mal Ambassador – dan melakukan rontgen. Sang dokter langganan saya, Dr. Lestari (yang nampak cukup senior), memeriksa hasil rontgen itu dan memastikan bahwa benar gigi itu harus dioperasi. Namun, ternyata yang dapat melakukan operasi adalah dokter yang lebih senior sehingga saya harus datang keesokan harinya (sampai disini saya agak takut, sebegitu bermasalahkah gigi saya ini -_-).

Esok harinya, Saya menemui sang dokter senior, Dr. Evi, yang berdasarkan perhitungan saya sudah melakukan operasi pada 15,000 – 20,000 gigi (dia bercerita bahwa dalam satu hari dia bisa mencabut 5-6 gigi, dan dia sudah melakukan ini selama tiap hari selama 10 tahun). Ternyata, Dr. Lestari pun ada di situ, bersama 2 suster. Jadi, total ada 2 dokter senior dan 2 suster yang menangani gigi bandel itu (makin cemas).

Sebelum dimulai, pertanyaan Dr. Evi membuat saya terkaget-kaget. “Pak, kami akan mengoperasi gigi geraham kanan bawahnya ya. Setelah itu, sudah diberitahu belum kalau gigi geraham kanan atasnya juga perlu dicabut?” Waks, kenapa pula ini? -_- “Karena jika tidak, kalau gigi bawahnya saja yang dicabut sementara atasnya tidak, maka gigi atasnya akan berinteraksi dengan gusi setiap kali mengunyah dan ini akan menyebabkan infeksi” (kembali lihat gambar diatas untuk memperjelas)

Errr… Saya memutuskan untuk pasrah. “Baiklah Dok, silakan” Saya lalu bertanya akan seperti apa proses operasi ini. Dr. Evi kemudian menjelaskan langkah-langkah yang ditempuh, yaitu suntik bius lokal di gusi di sekitar gigi, sayat gusi (errrrrr -_-), lalu si gigi dibelah –- karena kalau tidak akan susah diangkat (waks, ini gigi memang bebal luar biasa), baru deh gigi itu dicabut, dan terakhir gusinya dijahit. Melihat muka saya yang makin putih pucat saja, beliau mencoba menenangkan bahwa rasa sakit hanya muncul ketika disuntik saja. Semoga -_-

Dan akhirnya beliau mengambil jarum dan menyuntikkannya di gusi di sekitar gigi itu. Ngilu – sama seperti disuntuk di tangan. Yang berbeda adalah perasaan setelahnya. Mati rasa seluruh rahang atas dan bawah saya sebelah kanan. Lidah saya pun tidak bisa digerakkan ke kanan. Bahkan ucapan yang keluar pun sudah tidak jelas. Rasanya seperti habis ditinju :P

Lalu para dokter dan suster itu saling berkordinasi satu sama lain. Ada yang menyumpal rahang saya dengan kapas, ada yang mengalirkan udara dan air ke mulut saya untuk menjaga kelembaban, dan tentu saja yang paling saya perhatikan adalah yang dilakukan sang tokoh utama – Dr. Evi. Beliau mengambil pisau – ya, saya tahu itu pisau meskipun tidak memakai kacamata – dan pelan-pelan mengarahkan ke gusi yang menutupi gigi saya itu.

Apakah beliau menyayat gusi saya? Ng… sepertinya sih iya. Yang pasti, saya tidak merasakan apa-apa (apa ini yang namanya mati rasa? :P ).  Saya baru tahu kalau gusi saya sudah dibelek setelah beliau mengeluarkan kapas yang menyangga rahang. Kapas yang semula putih itu sudah menjadi merah gelap (Waks, mulut saya bermandikan darah -____-) Saya meludah dan yang keluar hanyalah gumpalan-gumpalan merah. Wiw, saya teringat komik Dragon Ball dimana suka terlihat darah mengalir keluar dari mulutnya jika terluka :D

Langkah selanjutnya adalah membelah sang gigi. Dr. Evi mengambil bor dan tang untuk melakukan ini. Saya sih sudah pasrah dan percaya dengan beliau hehe. Meskipun agak ngeri juga mendengar suara-suara yang biasa saya dengar di tukang las tapi kali ini objeknya adalah gigi saya sendiri. Setelah beberapa lama dibor, gigi itu pun terbelah. Dengan tang kecil itu akhirnya Dr Evi mencabut sang gigi

Fiuhhh. Saya melihatnya. Dua belahan gigi yang beliau letakkan di atas meja. Sementara Dr. Lestari dan 2 suster masih melakukan perawatan terhadap gusi yang ditinggalkan oleh si gigi, Dr. Evi mengulangi prosedur yang sama namun terhadap gigi atas. Namun, karena si gigi atas ini sebenarnya tumbuh normal saja, prosesnya jauh lebih cepat. Setelah disuntik. Dr. Evi langsung mencabut dengan bantuan benang dan tang (lagi-lagi, ngeri rasanya membayangkan bunyi ”Krek krek” tapi ya sudahlah pasrah saja :D )

Dan akhirnya gigi kedua diletakkannya di sebelah gigi bermasalah. Selanjutnya, langkah terakhir adalah menjahit gusi yang ditinggalkan si gigi supaya tidak terus mengeluarkan darah. Proses ini singkat saja seperti menjahit luka pada umumnya. Voila! Proses operasi selesai, dan benar kata beliau, sakit yang terasa hanya ketika disuntik saja hehe.

Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Yang pasti gusi saya masih tetap mengeluarkan darah terus menerus terutama ketika meludah dan berkumur. Lalu, perasaan ngilu muncul setelah pengaruh bius hilang sampai beberapa hari setelahnya (oleh sebab itu beliau memberikan obat penahan sakit dan antibiotik). Namun, diantara efek yang paling jelas terasa adalah, kecepatan makan jauh jauh melambat, hahaha. Yang tadinya saya selalu makan paling cepat diantara orang-orang, kini sepertinya kalah cepat dibandingkan siput hamil (belum pernah lomba secara langsung sih :P ) Oh ya, saya datang kesana lagi seminggu setelahnya untuk membuka jahitan, dan alhamdulillah kata beliau tidak ada masalah dengan sisa operasi. Dan cerita tentang gigi bermasalah ini pun selesai (setidaknya sampai sekarang tidak ada masalah sih, semoga saja begitu ke depannya, amin :D )

Categories: Insanity, Life Experience
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers