Home > Life Experience, Thought and Opinion > Begini Seharusnya Sarana Transportasi

Begini Seharusnya Sarana Transportasi

Satu minggu berada di Incheon (pulang pergi setiap hari kerja dengan menggunakan bus, dan bepergian pada akhir pekan dengan berjalan kaki) memberikan kesempatan kepada saya untuk mengamati dan merasakan secara langsung kehebatan Korea Selatan, khususnya pemerintah kota Incheon, dalam membangun sarana transportasi nan canggih. Saya sudah menjelaskan dalam postingan beberapa waktu lalu tentang canggihnya sistem pembayaran bus di Daejeon (dan juga Korea Selatan pada umumnya) yang dilengkapi dengan kartu berbasis RFID. Hal itu juga berlaku di Incheon, bahkan tidak hanya berlaku untuk bus saja, tetapi gabungan sarana transportasi umum (bus dan subway). Jadi, jika kita naik bus dari suatu daerah di Incheon, kemudian turun dari bus dan berganti menaiki subway, kita cukup membayar satu kali saja – yaitu di awal perjalanan.

Nah, di sini saya akan menceritakan tentang sarana transportasi yang saya temui di Incheon ini, yang mungkin juga ditemui di kota-kota lainnya di Korea Selatan, namun yang jelas sepertinya belum bisa ditemui di Indonesia saat ini:

1. Kemudahan bagi orang tua, orang cacat, dan elemen masyarakat lainnya

Studi kasus yang saya ambil di sini adalah sarana penyeberangan jalan. Sebelumnya saya selalu berpikir, kasihan sekali orang tua dan orang cacat di Indonesia apabila mereka hendak menyeberang. Dengan zebra cross? Mereka harus berjalan cepat-cepat yang sudah tentu amat menyulitkan mereka – apalagi kalau pengemudi kendaraan seenaknya membunyikan klakson menyuruh agar para pejalan kaki itu sesegera mungkin menyeberang. Dengan jembatan penyeberangan? Waduh, naik tangganya saja bisa lebih dari seperempat jam sendiri – lelah sangat tentunya. Lalu, bagaimana solusi yang dikembangkan oleh pemerintah Incheon?

Ya, nampak seperti pada gambar di atas. Seluruh jembatan penyeberangan di sini dilengkapi dengan lift. Wow, solusi yang memang memerlukan biaya namun memberikan hasil yang sangat jelas berpengaruh (kebetulan di gambar tampak nenek hendak menyeberang dengan masuk lift terlebih dahulu). Meskipun sepertinya saya pernah membaca atau mendengar tentang fasilitas ini sebelumnya, tetapi ini baru pertama kali saya melihat langsung. Saya tidak tahu apakah di Indonesia sudah ada fasilitas seperti ini atau belum. Kalaupun ada, berarti jumlahnya sangat sedikit karena saya belum pernah melihatnya (setidaknya sampai saya berangkat kesini empat bulan lalu). Luar biasa memang. Itulah contoh perhatian yang mereka berikan kepada orang tua dan orang cacat. Tidak hanya terbatas pada itu, di hampir semua tempat umum yang saya temui (terminal, mal, stasiun, dan lain-lain) selalu disediakan fasilitas khusus untuk mereka (lift, pintu, bahkan toilet). Dengan demikian, siapapun dan bagaimanapun kondisi penduduk sekalian, tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan untuk hidup dan menikmati fasilitas umum di sini.

2. Fasilitas pejalan kaki

Nah, yang ini saya mengalami sendiri hehehe (berhubung fasilitas sebelumnya hanya untuk orang tua dan orang cacat, jadi kan saya tidak bisa mencobanya sendiri). Berhubung sarana transportasi di sini cukup mahal (untuk sekadar pergi dari satu tempat ke tempat lain di dalam kota, minimal kita harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah), beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk jalan-jalan di Incheon dengan berjalan kaki (ya iya, namanya juga jalan-jalan :D ).

Bebas dari pedagang liar ataupun kendaraan umum yang berhenti seenaknya. Bus hanya berhenti di halte (jarak antarhalte sekitar 500 meter – 1,5 km), sehingga dalam satu hal memang membuat kita harus berjalan kaki terlebih dahulu untuk dapat menaiki bus, tetapi itu jelas memberikan keuntungan yang sangat besar dalam hal ketertiban. Dengan demikian, saya – dan para pejalan kakilah – yang ‘menguasai’ trotoar ini hehehe – bukan tukang becak, tukang ojek, angkot, pemilik mobil yang parkir seenaknya, ataupun pedagang kaki lima. Bahkan anak kecil pun tidak perlu khawatir untuk berjalan-jalan sendirian di sini karena semua aturan lalu lintas yang berlaku (termasuk untuk pejalan kaki) sangat jelas. Ah, sebagai tambahan, fasilitas pejalan kaki itu pun cukup bersih, salah satunya bisa dilihat dari papan iklan yang saya temui di bawah ini.

Tertib bukan? Seluruh iklan yang ingin ditampilkan harus dibuat dalam kertas berukuran tertentu, dan tidak ada cerita saling menimpa antariklan (ketika melihat papan iklan ini, saya langsung teringat akan kondisi yang sangat berkebalikan yang terjadi di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di negara saya hehehe – semoga bisa menjadi pelajaran).

3. Ubiquitous Internet Bus

Kalau dua fasilitas sebelumnya boleh dibilang masih saya anggap cukup wajar, tetapi yang satu ini benar-benar baru untuk saya. Namanya saja cukup keren (bagi yang belum tahu, Ubiquitous Internet Bus kurang lebih berarti penggunaan sarana komputer dan internet yang merambah kepada kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam hal ini ketika berkendaraan dengan menggunakan bus), meski sebenarnya sangat sederhana, yaitu fasilitas berinternet di dalam bus.

Seperti tampak pada gambar, di bagian belakang kursi penumpang di dalam bus terdapat komputer (LCD monitor + keyboard dan touch screen) layaknya pada pesawat terbang. Dengan mendekatkan kartu bus berbasis RFID pada panel, kita dapat berinternet dengan menggunakan uang yang terdapat di dalam kartu tersebut. Fasilitas ini dimungkinkan dengan teknologi wibro yang dikembangkan di sini (serupa wimax di Indonesia) yang memungkinkan penggunaan internet tanpa kabel dalam lingkup yang lebih luas.

Yang saya suka di sini adalah, nampaknya pemerintah Incheon (dan mungkin pemerintah Korea secara keseluruhan) sangat menyadari bahwa pengadaan infrastruktur IT haruslah dilakukan secara serempak dan menyeluruh. Saat ini, di Indonesia sudah muncul gagasan tentang pengadaan cyber city di Makasar, Gorontalo, dan beberapa kota lainnya sehingga masyarakat bisa berinternet di mana pun. Pertanyaan yang terbersit dalam pikiran saya adalah, dengan apa mereka akan berinternet? Percuma memberikan layanan internet apabila kita tidak bisa menggunakan layanan tersebut, sama seperti membangun BTS di desa yang orang-orang di dalamnya tidak memiliki telepon genggam. Di Incheon sini, wibro/wimax tadi mulai diterapkan, pun dibarengi dengan pengadaan sarana-sarana internet termasuk di dalam bus ini. Jadi, bagi siapapun yang berkepentingan dengan pengadaan sarana-sarana tersebut, masukan saya sih, agar juga mengembangkan dan memperhatikan seluruh aspek lain (infrastruktur yang berkaitan dan juga capacity building yang dimiliki oleh warga terkait).

Lho, kok ujung-ujungnya jadi malah kritik dan saran Jrin? Hehehe, memang tujuan postingan kali ini untuk memperkenalkan hal-hal yang ada di Korea yang saya anggap baik namun belum ada di Indonesia kok. Semoga dari sini, kita sama-sama bisa belajar darinya untuk kemudian menerapkan hal yang lebih baik lagi di bangsa kita tercinta.

And that is exactly why I am here now… To learn something new from someone new…

  1. July 21, 2008 at 12:57 am | #1

    happy learning!! seng bener opo yo syid hepi len opo hepi lening mmmhh…

    Fajrin Rasyid : hepi lening kayaknya om… gatau deh, bahasa inggris saya kan cupu, ajarin dong :D

  2. July 21, 2008 at 3:35 am | #2

    Coba kalo kita bisa begini ya.. btw kapan km mau merealisasikan sistem ini di indo jrin, hehe :D

    Fajrin Rasyid : kok saya? hahaha… kalau ditanya mau sih, sekarang juga mau mau aja… tapi bisa nya itu yang sulit… butuh dukungan dari seluruh pihak tuh, ga cuma insyinyurnya aja, tapi juga pemerintah, pemilik modal, masyarakat, dsb

  3. July 22, 2008 at 12:59 am | #3

    untuk yang no1 udah ada koq jrin, contoh di busway sarinah. distu ada lif nya juga. tetapi dasar emang orang Indonya bego, ga di rawat. otomatis sekarang udah ga berfungsi, bahkan dulu pas masi bisa jalan pun orang kencing di dalemnya. jadi kecium bau pesing yang amat sangat waktu menggunakannya..
    btw, have a nice life de di sana ya :D

    Fajrin Rasyid : Nah ini termasuk yang saya bilang di bawah, kudu ada dukungan dari masyarakat juga… kalo ga, sistem semacam ini cuma seumur jagung, habis itu rusak/kotor/ga terawat deh…

  4. July 22, 2008 at 1:30 am | #4

    Wow, asyik bgt ! Klo begini ceritanya, ga punya kendaraan pribadi juga ga apa2 dech… :)

    @Ahmy Yulrizka : udah ada tapi belum lengkap, ga ada toiletnya.hihi.. tapi percuma kayaknya….kan tau sendiri lah orang2 yang kencing sembarangan itu ga bisa ngebedain yang mana lift yang mana toilet * huh sebel *

    Fajrin Rasyid : oh itu juga termasuk tujuan besarnya pemerintah Korea… udah memproduksi mobil terlalu banyak sampai mobil bekas pun dijual murah (sampe sampe uang tabungan saya kayaknya udah cukup beli mobil disini), sehingga sekarang mereka pengen mengurangi jumlah mobil yang beredar

  5. July 22, 2008 at 7:46 am | #5

    waw. the lift.. is a.w.e.s.o.m.e.!
    smoga Indonesia menuju ke sana.. amiiiiiiiiin! ;)

    Fajrin Rasyid : yes.. thats truly awesome… and useful… amiiin juga :D

  6. July 25, 2008 at 2:55 pm | #6

    YOOOOOOOW…..

    yuppps…
    OKE banget emang sarana transportasi di negara maju…
    ga cuma transportasi, tapi emang semua sarana umum udah kayak “diharuskan” agar dapat memfasilitasi orang yang tua, cacat dlsb…

    jadi orang yang berkursi roda sekalipun, mo keliling Jepang (sendirian) pun bisa.. naik turun tangga ga masalah.. selalu ada jalan buat mereka (^_^)

    Fajrin Rasyid : betul sekali, mau ada keterbatasan seperti apa pun, Insya Allah tetap dapat menggunakan sarana umum seperti layaknya orang normal… itu salah satu yang perlu dikoreksi nih di negara kita, ngeliat sendiri kan susahnya orang yang kakinya terluka mau naik angkot huhu..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers