Archive

Archive for July, 2008

Akhirnya… Pertama Kali Sejak Masuk Kuliah…

Yaps, akhirnya… Akhir pekan lalu saya memperoleh transkrip nilai kuliah saya selama Spring Semester di sini… dan voila! Lihat sendiri hehehe…

Yaps, akhirnya… Pertama kali sejak masuk kuliah… memperoleh nilai bukan abjad pertama dalam alfabet romawi hehehe… Ngomong-ngomong, di sini tingkatan nilainya bukan hanya A, B, C, D, dan seterusnya saja… melainkan A+, A, B+, B, C+, C, dan seterusnya… A+ berarti 4,5, A berarti 4, B+ berarti 3,5, dan seterusnya… Sehingga, jika dihitung IP saya, ya sesuai yang tercantum di sana, yaitu 4,39 (dibulatkan menjadi dianggap A nol alias A)…

Hehehe… Tadinya saya sangat lega setelah menerima kabar ini… akhirnya telur itu pecah juga… Tetapi ternyata saya sedih juga… karena gagal? bukan, bukan… gagal itu mah biasa, bukan untuk disesali atau disedihkan, melainkan untuk diperbaiki dan ditingkatkan… Lalu kenapa saya sedih? Karena saya khawatir mengecewakan orang-orang – keluarga, teman-teman, dan lain-lain – yang sudah menaruh harapan pada saya agar saya bisa meraih setinggi-tingginya disini…

Kalian tidak marah pada saya kan? Well, saya tidak punya alasan atas hal ini, hanya bisa berkata bahwa, Insya Allah di semester berikutnya saya akan berusaha lebih keras lagi agar bisa meraih hasil lebih baik lagi…

Because all of you are the ones that give me more spirit to endure… Still I owe you so many things, including thanks :)

Categories: Insanity

My First Week of Second Internship

I found it fast to spend my first week of second internship here, in the United Nations Asian and Pacific Training Centre for ICT for Development (UN-APCICT) in Songdo Techno Park, Incheon, South Korea. Then, what did I do – and will still be doing – there? Basically, it is research based web and e-learning module development, since UN-APCICT is now still developing its website (http://www.unapcict.org) in order to help fulfilling its goals.

First of all, what is UN-APCICT? Well, I assume all of you guys know what UNESCO, UNICEF, UNDP, etc are, right? Yes, they are specialized agencies under the Economic and Social Council (ECOSOC), one of six major organs of UN, to coordinate the activities of UN in specific fields. A couple years ago, UNDP, which focuses on nation development, found its areas are too big to handle by itself (well, country development consists of so many fields, of course, such as environment issues, ICT infrastrucute, education, and so on). At the same time, ECOSOC was also divided into five regional commissions, and the one which is taking care of Asia and the Pacific issues is called UN ESCAP (Economic and Social Commission for Asia and the Pacific). This UN ESCAP also faced the same issues as the UNDP – so many areas to work on (poverty reduction, ICT, trade, sustainable development, and so on).

Seems so complicated, huh? At this point we can conclude that there are overlapping tasks over several different UN agencies, and thus it needs to be restructured. As for UNDP and UN ESCAP issues, they held meeting in 2005 to overcome these problems, resulting the Regional Action Plan for ICT in Asia and need of organization (i.e. not only plan, but also people) to handle this ICT issues. This gave birth to UN APCICT. Roughly speaking, UN APCICT main goal is to assist the countries in Asia and the Pacific in improving capacity building (i.e. skills and abilities to develop knowledge and infrastructure so that ICT can be used as an enabler in various fields of the nation) which is the main foundation of ICT for development (ICT4D). Its goal is being achieved through various kinds of training, advisory, and research, and one of the ways is through internet, and especially, its website.

This is where we (me and other interns from many coutries in ASEAN) contribute. There are many initiatives of APCICT, and two of them are called e-Collaborative Hub (e-Co Hub) and the Academy of ICT Essentials for Government Leaders (Academy) – you can find these two in the UN APCICT website. In a simple way, e-Co Hub is single-entry online gateway for policy makers, trainers, and practitioners to easily access and find relevant knowledge resources on different aspects of ICT4D (including interactive space for sharing knowledge and experiences). Meanwhile, the Academy consists of a core of ICT4D curriculum with eight modules ranging from basic to more advanced topics of ICT4D that can be delivered face-to-face or as online self-study courses.

Those two initiatives are the fiels we are working on now. During the first day, a lot of things about the UN in general and specifically UN APCICT were explained to us (of course, otherwise I would not be able to present the story in the previous paraghraphs :D ) by our supervisors, Mr. James George Chacko (from Malaysia – who will work in UNDP Malaysia from next month) and Ms. Christine Apikul (from Thailand). We were also introduced to the website and told about what privileges we can do there. After that, we started to explore and found out what we can do with that. And then, the second until the fourth day of our works was spent to do research to develop those two initiatives. I focused on the topics “Capacity Building” (which I described before) and “ICT4D Policies and Strategies” (which is strategies and policies made by local, national, or regional institutions which handle ICT in terms of sosio-economic development).

So, is it difficult? Even though this job is new for me (since usually I deal with ICT work in technical way, i.e. developing web application, OOP based program, DBMS exploration, and so on), but I found it not that difficult to do research about ICT in political way (which supposed to be done by the policy makers). Maybe this is due to the “research soul” which is developed while I am being ITB informatics student (There, if you are told to make some programs using the language you have never faced before but they give you some time to explore it, then in the end you will be able to do it excellently – almost all ITB informatics student have this skill-to-explore-and-research). Furthermore, it is interesting though to know about what other countries has been done in the ICT fields which our country has not think about it yet, and vice versa. In this way, we can learn each other, resulting good development in each countries especially in ICT.

Well, that is my report for now. Overall, I am glad to have the opportunity to come here, to expand my point of view into different aspects about ICT and how it can affect myself, software companies, and even countries in general. And here I am now, still doing my job in “the dream room” of UN APCICT center – anyone interested to work here or in any international NGOs later? I think I am interested :D

The most important thing is not how much you get the information, but how to get it. The amount of knowledge you have in various fields is not that important, main thing you must not forget is to know who or what has the information and where or how to get that.

Begini Seharusnya Sarana Transportasi

Satu minggu berada di Incheon (pulang pergi setiap hari kerja dengan menggunakan bus, dan bepergian pada akhir pekan dengan berjalan kaki) memberikan kesempatan kepada saya untuk mengamati dan merasakan secara langsung kehebatan Korea Selatan, khususnya pemerintah kota Incheon, dalam membangun sarana transportasi nan canggih. Saya sudah menjelaskan dalam postingan beberapa waktu lalu tentang canggihnya sistem pembayaran bus di Daejeon (dan juga Korea Selatan pada umumnya) yang dilengkapi dengan kartu berbasis RFID. Hal itu juga berlaku di Incheon, bahkan tidak hanya berlaku untuk bus saja, tetapi gabungan sarana transportasi umum (bus dan subway). Jadi, jika kita naik bus dari suatu daerah di Incheon, kemudian turun dari bus dan berganti menaiki subway, kita cukup membayar satu kali saja – yaitu di awal perjalanan.

Nah, di sini saya akan menceritakan tentang sarana transportasi yang saya temui di Incheon ini, yang mungkin juga ditemui di kota-kota lainnya di Korea Selatan, namun yang jelas sepertinya belum bisa ditemui di Indonesia saat ini:

1. Kemudahan bagi orang tua, orang cacat, dan elemen masyarakat lainnya

Studi kasus yang saya ambil di sini adalah sarana penyeberangan jalan. Sebelumnya saya selalu berpikir, kasihan sekali orang tua dan orang cacat di Indonesia apabila mereka hendak menyeberang. Dengan zebra cross? Mereka harus berjalan cepat-cepat yang sudah tentu amat menyulitkan mereka – apalagi kalau pengemudi kendaraan seenaknya membunyikan klakson menyuruh agar para pejalan kaki itu sesegera mungkin menyeberang. Dengan jembatan penyeberangan? Waduh, naik tangganya saja bisa lebih dari seperempat jam sendiri – lelah sangat tentunya. Lalu, bagaimana solusi yang dikembangkan oleh pemerintah Incheon?

Ya, nampak seperti pada gambar di atas. Seluruh jembatan penyeberangan di sini dilengkapi dengan lift. Wow, solusi yang memang memerlukan biaya namun memberikan hasil yang sangat jelas berpengaruh (kebetulan di gambar tampak nenek hendak menyeberang dengan masuk lift terlebih dahulu). Meskipun sepertinya saya pernah membaca atau mendengar tentang fasilitas ini sebelumnya, tetapi ini baru pertama kali saya melihat langsung. Saya tidak tahu apakah di Indonesia sudah ada fasilitas seperti ini atau belum. Kalaupun ada, berarti jumlahnya sangat sedikit karena saya belum pernah melihatnya (setidaknya sampai saya berangkat kesini empat bulan lalu). Luar biasa memang. Itulah contoh perhatian yang mereka berikan kepada orang tua dan orang cacat. Tidak hanya terbatas pada itu, di hampir semua tempat umum yang saya temui (terminal, mal, stasiun, dan lain-lain) selalu disediakan fasilitas khusus untuk mereka (lift, pintu, bahkan toilet). Dengan demikian, siapapun dan bagaimanapun kondisi penduduk sekalian, tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan untuk hidup dan menikmati fasilitas umum di sini.

2. Fasilitas pejalan kaki

Nah, yang ini saya mengalami sendiri hehehe (berhubung fasilitas sebelumnya hanya untuk orang tua dan orang cacat, jadi kan saya tidak bisa mencobanya sendiri). Berhubung sarana transportasi di sini cukup mahal (untuk sekadar pergi dari satu tempat ke tempat lain di dalam kota, minimal kita harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah), beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk jalan-jalan di Incheon dengan berjalan kaki (ya iya, namanya juga jalan-jalan :D ).

Bebas dari pedagang liar ataupun kendaraan umum yang berhenti seenaknya. Bus hanya berhenti di halte (jarak antarhalte sekitar 500 meter – 1,5 km), sehingga dalam satu hal memang membuat kita harus berjalan kaki terlebih dahulu untuk dapat menaiki bus, tetapi itu jelas memberikan keuntungan yang sangat besar dalam hal ketertiban. Dengan demikian, saya – dan para pejalan kakilah – yang ‘menguasai’ trotoar ini hehehe – bukan tukang becak, tukang ojek, angkot, pemilik mobil yang parkir seenaknya, ataupun pedagang kaki lima. Bahkan anak kecil pun tidak perlu khawatir untuk berjalan-jalan sendirian di sini karena semua aturan lalu lintas yang berlaku (termasuk untuk pejalan kaki) sangat jelas. Ah, sebagai tambahan, fasilitas pejalan kaki itu pun cukup bersih, salah satunya bisa dilihat dari papan iklan yang saya temui di bawah ini.

Tertib bukan? Seluruh iklan yang ingin ditampilkan harus dibuat dalam kertas berukuran tertentu, dan tidak ada cerita saling menimpa antariklan (ketika melihat papan iklan ini, saya langsung teringat akan kondisi yang sangat berkebalikan yang terjadi di salah satu perguruan tinggi negeri favorit di negara saya hehehe – semoga bisa menjadi pelajaran).

3. Ubiquitous Internet Bus

Kalau dua fasilitas sebelumnya boleh dibilang masih saya anggap cukup wajar, tetapi yang satu ini benar-benar baru untuk saya. Namanya saja cukup keren (bagi yang belum tahu, Ubiquitous Internet Bus kurang lebih berarti penggunaan sarana komputer dan internet yang merambah kepada kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam hal ini ketika berkendaraan dengan menggunakan bus), meski sebenarnya sangat sederhana, yaitu fasilitas berinternet di dalam bus.

Seperti tampak pada gambar, di bagian belakang kursi penumpang di dalam bus terdapat komputer (LCD monitor + keyboard dan touch screen) layaknya pada pesawat terbang. Dengan mendekatkan kartu bus berbasis RFID pada panel, kita dapat berinternet dengan menggunakan uang yang terdapat di dalam kartu tersebut. Fasilitas ini dimungkinkan dengan teknologi wibro yang dikembangkan di sini (serupa wimax di Indonesia) yang memungkinkan penggunaan internet tanpa kabel dalam lingkup yang lebih luas.

Yang saya suka di sini adalah, nampaknya pemerintah Incheon (dan mungkin pemerintah Korea secara keseluruhan) sangat menyadari bahwa pengadaan infrastruktur IT haruslah dilakukan secara serempak dan menyeluruh. Saat ini, di Indonesia sudah muncul gagasan tentang pengadaan cyber city di Makasar, Gorontalo, dan beberapa kota lainnya sehingga masyarakat bisa berinternet di mana pun. Pertanyaan yang terbersit dalam pikiran saya adalah, dengan apa mereka akan berinternet? Percuma memberikan layanan internet apabila kita tidak bisa menggunakan layanan tersebut, sama seperti membangun BTS di desa yang orang-orang di dalamnya tidak memiliki telepon genggam. Di Incheon sini, wibro/wimax tadi mulai diterapkan, pun dibarengi dengan pengadaan sarana-sarana internet termasuk di dalam bus ini. Jadi, bagi siapapun yang berkepentingan dengan pengadaan sarana-sarana tersebut, masukan saya sih, agar juga mengembangkan dan memperhatikan seluruh aspek lain (infrastruktur yang berkaitan dan juga capacity building yang dimiliki oleh warga terkait).

Lho, kok ujung-ujungnya jadi malah kritik dan saran Jrin? Hehehe, memang tujuan postingan kali ini untuk memperkenalkan hal-hal yang ada di Korea yang saya anggap baik namun belum ada di Indonesia kok. Semoga dari sini, kita sama-sama bisa belajar darinya untuk kemudian menerapkan hal yang lebih baik lagi di bangsa kita tercinta.

And that is exactly why I am here now… To learn something new from someone new…

Dasar Orang Kaya… Tapi Seneng Kok…

Dua hari lalu, saya dan seluruh magang-ers (apa sih bahasa Indonesia yang baik dan benar nya?) di kantor PBB ini diundang ke acara peluncuran jurnal iptek dari KISDI (Korea Information Society Development Institute) sekaligus makan malam di Seoul, tepatnya di gedung Korean Press Center. Ceritanya, UN APCICT, lembaga PBB tempat ku bernaung ini merupakan salah satu rekan kerja dan sponsor mereka.

Bukan acaranya sih yang ingin diceritakan disini, secara acaranya biasa-biasa saja (meskipun acara semacam ini jarang-jarang saya ikuti). Yang ingin saya sampaikan hanya kenang-kenangan yang dibagikan kepada setiap tamu yang hadir disana. Tadinya saya mengira kotak kecil itu berisi buku, aksesoris, atau sekadar hiasan saja. Namun ternyata setelah saya buka…

Flashdisk

Flashdisk 4 GB… Hanya untuk menghadiri acara singkat itu (1,5 jam termasuk makan)… Dasar orang kaya… tapi seneng kok… Hahaha… Jadi koleksi flashdisk saya nambah lagi, total ada 4 biji sekarang (satu dibawa dari Indonesia, satu diberikan oleh teman mahasiswa Korea, satu kenang-kenangan dari universitas) – padahal yang digunakan tetap saya hanya satu. Wah, semoga besok-besok si bos mengundang kami ke acara-acara serupa yang lain. Ada hikmahnya juga magang di PBB :D

To the state where money is not that important anymore…

Categories: Insanity

Antara Incheon dan Kesendirian Malam ini

Judulnya sedih banget ya? Ada apa Jrin? Pagi ini (Minggu, 13 Juli 2008), aku meninggalkan Daejeon bersama 4 mahasiswa lain, menuju Incheon tempat kami akan magang di UN APCICT selama satu bulan. Berangkat pagi-pagi, sekitar pukul 06.30, aku cukup terharu ketika teman-teman melepas kepergian kami di dekat gerbang kampus – padahal mereka biasanya baru bangun sekitar jam 10.00, hahaha. Perjalanan Daejeon-Incheon sendiri dengan bus eksekutif memakan waktu sekitar dua setengah jam, namun aku sama sekali tidak merasakannya karena terlelap sepanjang jalan. Begadang semalam sebelumnya dengan menghabiskan waktu di depan laptop cukup menjadi alasan mengapa mataku tidak bisa terbuka ketika itu :D .

Yup, malam itu sengaja kuhabiskan untuk berinternet ria – browsing dan chatting – karena selama sekitar sebulan ke depan aku tidak dapat lagi menggunakan internet malam-malam (tidak ada fasilitas internet di penginapan kami di Incheon). Tidak lupa aku pamit kepada keluarga (yang sedang mempersiapkan untuk melepas adik-adik menuju jenjang pendidikan lebih tinggi), si sayang (yang akan melanjutkan kuliah ke Italia selama beberapa tahun), teman-teman PPSDMS (yang sebentar lagi akan meninggalkan asrama menuju jalan hidup masing-masing), teman-teman IF (yang sebagian akan lulus dari ITB dan mengembangkan sayap ke dunia yang lebih luas lagi), dan beberapa sahabat lainnya yang hadir malam itu.

Air mata yang mengalir malam itu rupanya menunjukkan bahwa aku masih manusia :D . Bukan karena sekadar aku akan sulit berinteraksi dengan orang-orang yang kusayangi selama empat minggu ke depan, tetapi lebih karena merasa bodoh karena tidak mensyukuri nikmat yang sudah kuterima selama ini. Dengan fasilitas internet, telepon, dan berbagai kemudahan yang aku terima selama tiga bulan tinggal di asrama Daejeon University yang cukup mewah, aku jarang berinisiatif menghubungi keluarga (padahal adik-adik sudah berkali-kali menyampaikan protes orang tua yang mengeluhkan bahwa aku cuek terhadap mereka), lebih banyak egois dan memancing pertengkaran dengan si sayang (padahal dia setiap malam OL hanya ingin bertemu dan berinteraksi denganku), lebih banyak cuek dan menjawab seadanya pembicaraan dari sahabat-sahabat IF, PPSDMS, dan lain-lain (padahal mereka sudah baik-baik ingin menjalin silaturahim denganku).

Lamunan itu pun masih kualami ketika aku terlelap dalam perjalanan menuju Incheon. Tanpa terasa, siang sudah tiba, seiring dengan sampainya kami di tempat tujuan, Incheon Bus Terminal. Rupanya kota ini besar juga, meskipun aku tidak tahu apa-apa tentang kota ini selain bahwa di sini terdapat Incheon International Airport serta rumah yang menjadi lokasi utama shooting drama Korea berjudul Full House (rencananya akan kami kunjungi minggu depan :D ). Lalu, apa kesan pertama aku tentang kota ini? Rupanya ada World Cup Stadium juga di kota ini, hahaha (jelas terlihat dari terminal). Kota ini cukup panas (karena summer dan terletak di pinggir pantai), dan terlihat tidak jauh berbeda dengan Daejeon.

Tidak berapa lama, para penjemput kami datang. Dua wanita muda (dan cantik, hehehe :D ) dari perusahaan real estate yang mengurus penginapan kami, Park Ji Hyeong dan Park Sem Na. Kami diantar menuju penginapan kami masing-masing. Sebelumnya, kami sudah diberi kabar bahwa kami berlima tidak tinggal dalam gedung yang sama, melainkan terpisah-pisah meski masih dalam satu wilayah. Dalam benakku, itu berarti bahwa kami masih bertetangga – pikiran yang salah karena ternyata jarak antar gedung yang masing-masing kami tempati cukup jauh. Adapun kamar yang kutempati tergolong cukup layak. Kamar itu berukuran sekitar 5 x 5 meter, dan di dalamnya terdapat tempat tidur, TV, kulkas, meja kecil, dapur, kamar mandi dalam dan mesin cuci – cukup untuk melakukan segalanya tanpa perlu keluar dari kamar hehehe.

Setelah meletakkan barang di kamar masing-masing, kami diantar ke lokasi kerja kami, kantor UN APCICT yang terletak di daerah Songdo di Incheon, yang merupakan Free Economic Zone (ada di antar pembaca yang bisa menjelaskan apa artinya ini?). Kawasan itu terlihat seperti R&D center raksasa yang cukup membuat kita melupakan hiburan dan dunia luar serta tidak bisa tidak berkutat secara penuh dengan pekerjaan yang kita tekuni. Tidak ada gangguan dunia luar tersebut benar-benar menjadikan lokasi ini sangat efektif untuk melakukan riset dan penelitian. Selepas dari Songdo, kami makan siang bersama dan sedikit dikenalkan dengan lokasi beberapa tempat di Incheon (supermarket, bank, dan sebagainya). Cukup banyak juga belanjaan kami malam ini (iya, sampai malam kita berbelanja), terutama bahan makanan (karena biaya makan di restoran cukup mahal, kami memutuskan untuk mengoptimalkan sarana dapur di kamar kami).

Akhirnya, tiba waktunya kami kembali ke kamar masing-masing (di gedung masing-masing). Tentu saja, sendiri. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan kesendirian seperti ini. Apalagi, gedung-gedung di Korea ini sepertinya didesain agar antara satu kamar dengan kamar lainnya benar-benar tertutup (aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kamar lain, bahkan aku tidak tahu apakah di kamar lain itu ada penghuninya atau tidak). Jadilah aku benar-benar sendiri di kamar :D . Ah, tidak juga, kan ada TV Jrin? Iya juga, akhirnya aku menyalakan TV untuk meramaikan suasana, namun yang terjadi justru sebaliknya – TV tersebut rusak, hahaha… Seolah mengatakan kepadaku bahwa ini memang malam yang baik untuk merenungi kebodohan dan kesalahan yang sudah kulakukan. Tidak buruk juga, kupikir. Aku membawa cukup banyak buku – satu lagi kebodohanku, tidak pernah tuntas membaca buku-buku tersebut, padahal sebagian diantaranya sudah diberikan oleh teman-temanku dengan setulus hati agar bisa bermanfaat bagiku. Dan tentunya, aku membawa laptop kesayanganku satu-satunya, laptop yang kugunakan untuk menulis postingan ini dan postingan-postingan lainnya, laptop yang memiliki begitu banyak resource di dalamnya yang selama ini kebanyakan kusia-siakan. 

Kesimpulannya, selama satu bulan ke depan, sepertinya malam-malamku akan dipenuhi oleh membaca buku (hardcopy maupun softcopy), belajar bahasa Korea (dengan berbagai resource yang kubawa), meneruskan pekerjaan magang yang belum tuntas dari UN APCICT, riset akan tugas akhir, menyelesaikan beberapa postingan blog yang belum tuntas-tuntas, dan berbagai pekerjaan yang tertunda gara-gara penyakit kebodohanku ini. Untuk keluargaku, sayangku, sahabat-sahabatku, dan semua pembaca yang kebetulan membaca tulisan ini, maafkan segala kebodohanku. Dan jika masih tersisa sedikit kepercayaan padaku, maka kuingin berkata bahwa dalam lubuk hatiku, kalianlah yang terutama. Semoga aku masih berkesempatan berinteraksi dengan kalian.

And when the chance comes, I wont let it go away again… Even if it will fly, then it means that it will fly with me…

Categories: Bottom of My Heart

Singing Korean Song… Fighting!

Tinggal di Korea tapi gak bisa bahasa Korea? Apa kata dunia (terutama apa kata orang-orang Korea) hehe… Karenanya, berbekal semangat ingin meningkatkan nilai tambah yang dimiliki diri ini sekaligus menyebarkan konten positif seperti disebut oleh pembicara-pembicara di forum yang saya sebut di postingan sebelumnya (pengetahuan akan bahasa merupakan salah satu konten positif kan?), saya bertekad untuk meningkatkan skill bahasa Korea saya. Dimulai dari menambah sebanyak mungkin vocabulary setiap hari (berbekal kamus English-Korea yang terinstall di handphone saya), mencoba-coba menulis dan berbicara dalam bahasa Korea, sampai memasukkan unsur Korea dalam kegiatan sehari-hari.

Akibatnya, keseharian saya dipenuhi kegiatan membuka situs berita dalam bahasa Korea – seperti di situs ini, menonton TV yang berhubungan dengan Korea (atau menonton film Barat yang bersubtitlekan bahasa Korea untuk melatih membaca cepat), belajar mengetik dalam bahasa Korea dengan cepat (termasuk ketika mengetik posting di blog beberapa waktu lalu), menyebutkan nama barang, tempat, dan semacamnya dalam bahasa Korea, melihat drama hanya yang berasal dari Korea (apalagi setelah menemukan situs ini), sampai makan makanan Korea dan minum bir Korea (bohong deng, yang terakhir ini enggak deng hehe).

Dan yang tidak ketinggalan tentunya mendengarkan (dan ikut menyanyi) lagu Korea. Cara yang bagus untuk melatih 듣기 (baca : deudgi, arti : listening), 말하기 (baca : malhagi, arti : speaking), dan 읽기 (baca : ilkgi, arti : reading) sekaligus menambah perbendaharaan kata dengan cepat. Bahkan, sudah beberapa minggu terakhir ini playlist saya dipenuhi oleh lagu Korea (sampai-sampai buta perkembangan musik Indonesia dan barat – lagu apa yang ngetop di Indonesia sekarang?). Apalagi ya, semester depan akan ada semacam festival di kampus ini, dan kami mahasiswa ASEAN harus menampilkan berbagai performance, diantaranya menyanyikan dan menarikan lagu korea layaknya penyanyi sini. Gyaaaa…. kudu persiapan dari sekarang nih, hahahaha….

Alhamdulillah, sepertinya Yang Di Atas mendukung keinginan saya untuk meningkatkan skill bahasa Korea ini. Setelah diberikan resource lengkap ketika ingin menonton drama Korea, kali ini ketika ingin mendengarkan dan menyanyi lagu Korea, si Cyrus menawarkan saya sebuah program multimedia player bernama TTPlayer yang dilengkapi fitur lyrics-generator yang memungkinkan setiap lagu yang dimasukkan ke dalam playlist untuk dicari liriknya secara otomatis di server internet di seluruh dunia (tanpa perlu kita sendiri yang mencari), dan ketika lagu tersebut dimainkan, lirik lagu yang sedang diucapkan pun ditampilkan. Berikut screen shoot program tersebut :

ttfplayer

Satu saja kekurangannya, program tersebut tersedia dalam bahasa Cina hahaha. Untung saja si Cyrus yang fasih berbahasa Cina menjelaskan cara kerja program tersebut kepada saya. Sebenarnya saya rasa multimedia player lain semisal Winamp, iTunes, WMP, dll pun mungkin saja memiliki fitur semacam ini, hanya saja sepertinya hal tersebut berbentuk plugin macam-macam sehingga saya harus mengutak-utik lagi. Nah, karena sekali install ttplater langsung bisa menggunakan fitur itu, jadilah ia multimedia player yang akrab menemani saya setiap hari (dengan lagu-lagu Korea itu tentu saja, lihat saja daftar lagu yang ada di playlist saya hari ini). Dan kamar saya pun berubah menjadi 노래방 (baca : norebang, arti : tempat karaoke) kecil karena saya dan beberapa teman ASEAN lain kadang berkaraoke dengan program ini. Ah, untuk pembaca yang tertarik, bisa mendapatkan program ini di situs ini (dalam bahasa Cina, tapi bagi yang biasa mendownload sesuatu, bisa kok mendownload dan memainkannya, ikuti feeling saja :D ).

그럼, 다시 한국 음악을 노래할까요? (read : keurom, dasi hangug eumakeul nore halkayo?, meaning : then, shall we sing korean song again?). Fighting!

Categories: Korean Language
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers