From Indonesia to Korea
Saya dimarahi nih, gara-gara postingan-postingan terakhir kok isinya sedih/melankolis semua, padahal kan saya harusnya senang-senang nih di negeri ginseng Korea sini. Hehehe, maaf deh maaf, oke oke sekarang saya cerita tentang kedatangan saya di sini yah. Alkisah dimulai dari suatu kota kecil bernama Karawang, Jawa Barat, yang udah puluhan tahun jadi markas keluarga besar saya. Sore itu, 26 Maret 2008, sekitar jam 4 sore aku, ayahku, dan supir berangkat menuju Soekarno Hatta airport untuk berangkat dengan pesawat Korean Air – penerbangan jam 21.55, nomer pesawat KE 628 (penting banget yah diinget? anggap penting lah). Ternyata jalanan Jakarta tidak begitu rame juga sih, kami sampai di bandara sekitar jam 18.00. Mencari gate sebentar, dan akhirnya ketemu, di gate D2 kami akan menuju boarding room untuk kemudian dibawa oleh burung besi menuju negeri ini.
Langsung sms orang-orang.. ku ingat diantaranya kupu-kupu, tri aji, dan fitra. “Di gate 2. Kabari kalau sudah disini”. Tidak sampai semenit, Tri Aji dan kawan kawan datang hahaha. Rupanya mereka sudah disana sejak beberapa saat lalu. Sholat jamak maghrib dan isya serta makan di McDonalds (Serius kamu Ji mau makan di restoran Amerika? Hahaha…), dan kembali kami menunggu di depan gate D2 itu. Pukul 19.30, rombongan IF 2004 datang – Fitra, Kuchai, Olip, Abi, dan Ilham. “Jrin Anda.. ada sedikit kenang-kenangan dari kami, dan kami pengen kalian make sekarang juga, nih”. Dan keluarlah kaos putih yang ternyata bergambar foto kami – Aku dan Anda – sendiri
. Buset dah, malu hahahaha. Oke deh oke, demi memenuhi keinginan mereka, dipakai deh tuh kaos, sekaligus perpisahan kami disana.
Jam 20.00, kami mengurus bagasi dan fiskal. Makan waktu lama karena ternyata bagasi si Anda dan Tasya (anak UI yang juga ikut program yang sama) kelebihan muatan. Setelah nego-nego alot, akhirnya berhasil juga. Jam 21.00, kami kembali ke tempat rombongan yang melepas kami itu. Ayahku, teman-temanku, terima kasih sudah jauh-jauh datang kemari. Begitu berarti untuk saya
. Dan akhirnya kami masuk boarding room pada pukul 21.15. Lho lho, kok kayaknya ada yang kurang? Di mana kupu kupu Jrin? Sedih memang, dia tidak datang. Tapi silakan baca ceritanya di postingan ini. Saya – dan saya yakin para pembaca juga – bakal semakin sedih hahaha. Kupu-kupu yang menjadi sayapku satu-satunya itu berusaha semaksimal mungkin datang kemari, tetapi ia hanya berhasil mengantar saya melalui menara pengawas (Bingung kan? Baca aja postingan yang tadi dikasih linknya
). Dan tidak berapa lama, pesawat pun dibuka. Saya, Anda, Tasya, dan Dina masuk ke dalam, dengan diriku sebelumnya hening sejenak melihat airport itu. “Goodbye Indonesia.. and everything within.. see u next year”.
Kami duduk berempat dalam satu deret di dalam pesawat. Tidak bisa dibilang nyaman juga sih penerbangannya, banyak sekali gangguan cuaca sepanjang perjalanan. But anyway, alhamdulillah kami tiba di Incheon Airport – Seoul dengan selamat sekitar pukul 06.30 waktu Seoul (04.30 WIB). Omongan yang biasa diucapin pramugari pun keluar, “Para penumpang yang kami hormati, saat ini kita telah tiba di Incheon.. blabla.. dan suhu di luar menunjukkan sebesar 6 derajat Celcius”. Ho… What???? 6 derajat??? Apa-apaan nih, bukannya udah musim semi ya? Kan di pelajaran geografi SD itu, seharusnya 22 maret sudah musim semi kan? Ah tidak tahu juga sih, tapi ya sudah lah, mending pakai jaket saja. Dan benar saja, baru selangkah keluar dari pesawat, suasana udah sama kayak ruangan full AC yang paling dingin. Brrrrrrrr………. Gila………… Dingin………. Si pramugari yang bilang “annyeonghi kaseyo” (berarti sampai jumpa) pun tidak sempat kubalas (dengan ucapan yang sama), hanya bisa tersenyum sambil mengangguk saja.
Mengurus izin masuk dan bagasi cukup singkat, kami lalu keluar dari sana dan mendapati cukup banyak juga orang-orang menunggu sambil membawa kertas bertuliskan macam-macam. Berasa pejabat saja, sudah ge-er bakal dijemput hehehe. Dan benar saja, ada 4 pemuda memegang nama kami. Segeralah berkenalan dan bercakap-cakap – in English of course, kami tahu bahwa mereka mahasiswa dari Daejeon University, universitas kami di Korea ini, yang menjadi partisipan untuk mendampingi kami selama program pertukaran mahasiswa ini. Mereka memberitahu bahwa bus yang akan membawa kita menuju Daejeon sudah menunggu di luar, dan kita dapat menunggu mahasiswa dari negara ASEAN lain di dalam bus atau di sana. Merasakan dingin yang amat sangat, akhirnya kami berempat memutuskan untuk menunggu di dalam bus yang ternyata jauh lebih hangat daripada di luar hehe. “Kamsahamnida”, kata kami kepada mereka (berarti terima kasih). Tetapi sebelum duduk manis di dalam, sedikit nampang di luar bandara itu menjadi kewajiban, hehe.
Di dalam bus itu sendiri sudah ada Grace dari Vietnam dan Marvin dari Filipina. Tidak berapa lama, rombongan dari negara ASEAN lain pun tiba. Lima orang Malaysia (Ira, Azizah, Cyrus, Miko, Jia Huei), lima orang Thailand (Tum, Tac, Bam, Poy, Ye), dua orang Laos (Tui, Lou), dan dua orang Kamboja (Marina, Cheyear). Perjalanan dari Incheon menuju Daejeon memakan waktu sekitar 4 jam – diselingi dengan istirahat di satu tempat, dan diisi dengan perkenalan dari masing-masing peserta. Sangat ramai disana, bahkan saya yang tadinya mengantuk menjadi tidak mengantuk lagi karena selalu ditanya-tanya dan diajak bicara tentang banyak hal.
Bagaimana kesan-kesan tentang alam Korea? Apa-apaan itu… kurasa alam Indonesia jauh lebih bagus. Sangat kering dan gersang. Memang kami datang pada masa winter akan berakhir dan spring belum sepenuhnya muncul. Tetapi saya jauh lebih suka melihat Indonesia – yang memang sangat kubanggakan. Bagaimana dengan infrastruktur di dalamnya? Wuih.. jangan tanya.. Meskipun dari jauh terlihat biasa saja, kesan modern itu akan tampak apabila kita mempehatikan lebih dekat. Keteraturan dalam lalu lintas dan penataan gedung-gedung yang begitu kotak sepertinya menandakan bahwa kota-kota yang kami lewati dipikirkan masak-masak dalam pengembangannya. Pada akhirnya, sekitar pukul 11.30 waktu setempat, sebuah gerbang merah maroon yang anggun tampak disana – bertuliskan Daejeon Daehakgyo (Daejeon University) – yang menandakan bahwa kami sudah tiba di tempat tujuan. Perjalanan panjang itu pun berakhir disini. Namun perjalanan yang jauh lebih panjang lagi akan segera dimulai…
Jadi teringat pesan Ibu akan doa yang diucapkan oeh Rasulullah ketika mengunjungi suatu tanah baru… Ya Allah, berikanlah aku kebaikan negeri ini dan kebaikan orang-orang di dalamnya, dan lindungilah aku dari kejahilan negeri ini dan kejahilan orang-orang di dalamnya… Dan hanya kepada-Mu lah kami berharap dan kembali…








YOOOOOOOW…..
naah gitu doonks…
selamat bersenang2 (^_^)
Rin, nama saa Kuchay with ‘Y’…
Not Kuchai with ‘i’…
Saya bukan sayuran…
Hahahaa…
Btw, surat2 dari anak2 kok ga dibahas?…
Eh, itu beneran di menara pengawasnya?…
Serius?…
Emang boleh masuk?…
yah…
cakepan cewek2 momusu…
ya tak?? huehehehe…
Fajrin Rasyid : yang jelas saya suka mereka hahaha… apalagi si Kim Yoo Bin si keren hahaha… apalagi bisa berkesempatan ketemu langsung… wuah…