Archive

Archive for April, 2008

안녕하십니까

안녕하십니까?

(annyeonghasimnikka?)

(hi?)

저는 무하마드 파주린 라시드입니다.

(jeoneun Muhamad Fajrin Rasyid-imnida.)

(I am Muhamad Fajrin Rasyid.)

마레시아 사람이 아닙니다. 저는 인도네시아 사람입니다.

(Malaysia sarami animnida. Jeoneun Indonesia saram-imnida.)

(No, I am not Malaysian. I am Indonesian.)

저는 대학생입니다.

(jeoneun daehaksaeng-imnida.)

(I am college student.)

만나서 반갑습니다.

(mannaso bangapsemnida.)

(Nice to meet you all.)

안녕히 가십시오.

(annyeonghi kasipsio.)

(Good bye.)

사랑해,

(saranghae,)

(love you,)

(RIN)

Ehehe… siapa tahu ada yang berminat belajar bahasa Korea? Percakapan di atas yang saya pelajari selama 2 minggu di sini, di samping tentunya belajar membaca-menulis-mendengar-mengucapkan aksara korea (yang menghabiskan jauh lebih banyak waktu dibanding conversation tadi). Alhamdulillah baca-tulis-dengar-ngomong tadi sudah lumayan lancar, sehingga ke depannya bisa lebih fokus ke grammar-conversation-vocabulary-nya. Ada yang berminat belajar bersama saya? Kalau ada nanti saya posting lebih banyak tentang ini hehehe… ^_^

So nice to know anything about other cultures, to share and to learn each other…

Categories: Korean Language

Cerita Jalan-jalan di Daejeon

Weekend itu kayaknya enggak afdhol deh kalo enggak dipakai jalan-jalan dan refreshing, betul? Hehehe… dan akhirnya weekend ini pun berjalan-jalan di kota Daejeon tercinta ini, yang kurang lebih sebesar Bandung lah, kecuali dengan berbagai sarana elektronik yang jauh lebih maju (semangat Indonesia! ^_^).

Dan jadilah saya berangkat dengan menggunakan sarana transportasi keren yang menjadi favorit saya dalam bepergian di kota ini. Sarana transportasi itu berbentuk bus biasa (seperti bus transjakarta), namun dilengkapi dengan berbagai sensor dan GPS. Saya menunggu di halte bus – berjalan kaki sekitar 15 menit dari kampus (tentu saja tidak bisa naik turun bus sembarangan – jadi teringat akan kondisi yang berbeda di suatu negara yang tidak perlu disebut namanya hehe). Di halte bus nya terdapat mesin yang menunjukkan berapa menit lagi bus yang akan kita tumpangi datang.

Bus Panel

Nah itu si gambar mesin. Bacanya sih, bus 310 dateng 2 menit lagi, dan bus 711 4 menit lagi. Lainnya tidak mengerti saya ^_^. Gambarnya bukan diambil pas saya kesana, haha…Pas saya kesana, bus yang akan saya tumpangi – nomor 828 – akan datang 3 menit lagi. Dan ternyata memang sangat on time haha… Tepat 3 menit kemudian bus itu datang. Keren juga, teknologi GPS rupanya digunakan oleh sistem transportasi bus di kota ini dalam memonitor setiap pergerakan bus. Bagus jadinya, tidak ada lagi yang ngetem sembarangan hahaha… Hal yang menandakan bahwa masyarakat disini efisien dan sangat menghargai waktu.

828 - Daejeon Daehakkyo

Yup, inilah dia bus langganan saya yang bernomor 828 hehe. Saya masuk bus, dan kemudian membayar bus dengan cara yang baru pertama kali saya temui. Saya mengarahkan dompet saya (tanpa membukanya) ke panel di dekat pintu masuk. “BIP”, selesai. Saya sudah membayar bus dan tinggal duduk. Lho, apa-apaan tuh? Jadi ceritanya, di dalam dompet saya terdapat Bus Card - kartu yang dilengkapi RFID (Radio Frequency Identification) yang menyimpan data saya dan saldo tabungan yang terdebet secara otomatis ketika saya mengarahkan dompet saya tadi. Bagi yang belum tahu, RFID ini mirip dengan barcode namun lebih maju tentunya. Panel yang saya sebut sebelumnya itu analog dengan barcode reader yang biasa digunakan oleh kasir supermarket ketika mendaftar belanjaan kita. Hanya saja, bercode reader hanya bisa membaca dalam jarak yang sangat dekat – si kasir supermarket tadi harus menempelkannya kepada barcode di barang kita. Nah, si panel di dekat pintu masuk bus yang bertindak sebagai RFID reader tadi bisa membaca RFID meskipun Bus Card saya masih berada di dalam dompet, begitu… Bunyi BIP tadi menandakan dia sudah selesai membaca, lalu menampilkan berapa tarif bus yang kita bayar dan saldo yang tersisa di bus card kita.

Tadinya saya sudah mau kagum saja sampai disitu. Ternyata masih ada lagi yang bisa saya kagumi dari si bus keren ini. Rupanya kalau kita naik suatu bus, kemudian turun, kemudian naik bus lain, kita kan tetap melakukan prosedur yang sama tuh di setiap bus (mendekatkan Bus Card ke panel). Analog dengan naik angkot, kita tiga kali naik angkot ya logikanya tiga kali bayar dong. Nah, si bus keren ini, jika kita turun dari suatu bus, kemudian naik bus lain dalam waktu kurang dari 30 menit setelah kita turun tadi, maka tarif yang perlu dibayar adalah 0 alias gratis tis tis… Ketika bunyi BIP tadi, si panel akan menunjukkan tarif 0 dan saldo kita tidak berkurang. Keren euy! Ini berarti si RFID di kartu saya juga terhubung dengan sensor di pintu keluar bus (pintu keluar dan pintu masuk bus dibedakan agar mempermudah arus keluar masuk penumpang), sehingga ia mencatat waktu saya keluar dari bus. Ketika menempelkan lagi ke si panel di bus lain, ia membandingkan waktu saat itu dengan waktu ketika saya keluar dari bus tadi, begitu…

Hohoho, sarana keren yang (mungkin) bisa dipertimbangkan untuk digunakan di Indonesia tuh… Meskipun sepertinya banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan kalau ingin benar-benar diaplikasikan di sana. Jadi teringat akan salah satu karya tulis yang aku dan Zaky buat tentang penerapan teknologi RFID ini untuk membayar biaya tol – Konsepnya tiap mobil dipasang RFID, lalu memasang RFID reader di pintu tol. Ketika mobil akan keluar dari tol, si RFID reader otomatis membaca RFID di dalam si mobil dan langsung mendebet rekening si pemilik mobil, sehingga tidak perlu terjadi antrian panjang di pintu tol lagi untuk membayar biaya tol, begitu… Ada yang berminat untuk mengaplikasikannya? Hehehe.

Lho, ini cerita tentang transportasi ya? Lah judulnya saja cerita tentang “jalan-jalan”, haha… maksudnya bukan tentang saya jalan-jalan, tetapi tentang hal unik yang saya temui di jalan-jalan di sini (bus itu kan berada di jalan-jalan, betul?). ^_^

Terus saya kemana saja dong selama weekend ini? Yup, menyusuri pertokoan di Downtown kota ini (baik di atas jalan-jalan maupun di bawah jalan-jalan), dan tanpa sengaja saya masuk ke sebuah toko dan menemukan pemandangan aneh yang langsung saya foto:

Indonesia in Korea - 2

Waw, lihat tuh… Saya ada di Korea atau di Indonesia nih? Kok seperti di minimarket di Indonesia, hahaha… Terus ada yang iseng nanya, Eh jrin jangan-jangan itu foto emang diambil di Indonesia sebelum berangkat ke sini ya ? Ye.. liat aja itu tanggal pembuatan fotonya, itu kan pas saya sudah di sini tau :PLah tanggal mah bisa diedit-edit atuh ? Ye.. ngeyel amat sih ni orang! (Apaan sih si fajrin ini bertanya sendiri menjawab sendiri)

Liat saja foto yang berikut ini (tulisan aneh berbahasa Indonesia di yang sudah beberapa minggu tidak kutemui karena selalu dikelilingi oleh aksara-aksara kotak Korea itu).

Indonesia in Korea - 1

Keliatan kan ada tulisan Indonesia dan tulisan Korea? Hahaha… Masih belum percaya juga??? Ah, nih di bawah ini pasti langsung membuat situ-situ percaya.

Indonesia in Korea - 3

Tuh liat, judul yang sangat Indonesia dan sangat unik di antara judul toko lain yang memakai Hangeul, hehehe. Ngomong-ngomong, gimana ceritanya bisa ada toko Indonesia di Daejeon ini? Nah ceritanya kan negara kita cukup dikenal sebagai pengekspor TKI tuh. Tidak luput juga kota ini jadi sasarannya hehehe. Terdapat kurang lebih 100an TKI yang bekerja di Daejeon. Nah sedikit banyak ada yang menganggap ini peluang bisnis nih apabila membuka toko untuk para TKI ini. Begitu deh… Nah anyway, begitu dulu laporan saya kali ini, ada yang harus saya kerjakan nih. Mau ngapain? Ya jalan-jalan lagi hahaha…

It is normal that u miss your country and everything within… Because it means that u love them all.. ^_^

Categories: Life Experience

You Are Like Ambassador To Your Country

Sampai kemarin (kemarin hari Rabu tanggal 15 April 2008), saya masih cukup toleran dengan segala kehidupan akademis saya selama di Korea ini. Yah, kuliah 27 sks masih bisa dimaklumi lah, ga jauh berbeda dengan kuliah di ITB (yang notabene 24 sks sudah amat sangat sibuk). Diberi tugas hampir setiap hari juga biasa lah (padahal sudah ngumpat-ngumpat ke dosen yang memberi tugas banyak-banyak – memangnya kita tidak punya kegiatan lain selain belajar? :P ). Nulis huruf bahasa asing satu buku satu minggu juga biasa lah (padahal pertama kalinya sejak lulus SD dan SMP nulis bahasa arab dan bahasa daerah). Sampe-sampe kuliah 3 jam tiap mata kuliah yang sekaligus dilakukan satu jam dan benar-benar dilakukan selama tiga jam pun sepertinya biasa-biasa saja (padahal mengeluh juga karena itu berarti harus berjalan dengan cepat dari satu gedung ke gedung lainnya ketika pergantian kuliah). Hahaha.
Anyway rupanya kesabaran itu habis juga hari ini. Bayangkan saja, kuliah dari jam 9 pagi sampe jam 10 malam, hanya dipotong waktu makan dan sholat yang sangat sebentar – padahal sebegitu sibuknya semester 6 dulu rasanya masih bisa makan dengan santai deh ^_^. Belum lagi diperparah waktu tempuh dari gedung ke gedung ketika pergantian kuliah yang memakan beratus-ratus bahkan beribu-ribu langkah (nnggg, sebenarnya belum pernah menghitung langsung sih :P , yang pasti memakan waktu > 10 menit) dan ditambah lagi dengan berbagai tangga-tidak-tahu-diri-dengan-jumlah-anak-tangga-ratusan yang menghiasi kampus Daejeon University ini (maklum, kampus ini terletak di pegunungan sih, makanya banyak bangunan miring-miring gitu dan banyak tangga berkeliaran), notabene semakin mempersempit waktu istirahat – sekitar 15 menit untuk makan dan sholat, sudah gila ya orang-orang Korea ini? Dan ketika kupikir kuliah berakhir pada pukul 6 sore hari ini – sehingga saya bisa istirahat, menyetrika baju (semua urusan sendiri euy disini hahaha), mengerjakan PR, dan sebagainya – si ibu dosen mata kuliah Korean Language (mata kuliah yang jadwalnya pada hari ini seharusnya hanya dari jam 3 – 6 sore) bergumam, “30 menit lagi kita kumpul di sini untuk kuliah tambahan dan ujian”. Maaakkkk, kapan kita istirahatnya…
Dan jadilah kami – saya dan 9 orang mahasiswa ASEAN lainnya – mengikuti kelas tambahan itu dengan ogah-ogahan. Seperti biasa latihan membaca, menulis, dan mendengar pembicaraan dalam bahasa Korea itu – yang sebenarnya tidak susah juga sih, karena sangat terstruktur dan sistematis lah. Setelah ujian dan latihan berkali-kali malam ini (dan saya mendapat nilai yang menurut saya tidak terlalu baik gara-gara benar-benar tidak semangat dan lelah sekali malam ini) si ibu dosen menggumam kecewa kepada salah seorang dari kami (tidak perlu disebut siapa, bisa saja saya atau bisa saja bukan saya), bahwa hasil yang kurang memuaskan ini hanya berarti satu hal, yaitu kurang berlatih (padahal si ibu sudah ribuan kali berbicara “There is only one key.. practice.. practice.. practice.. because practice makes you perfect…” yang sudah sedemikian sering diucapkan sehingga kami hafal bahkan hingga intonasi suaranya). Dalam hati saya menggumam, “Saya sudah berlatih… tapi apakah perlu sekeras ini? Hingga 13 jam sehari? Please lah… Masih ada 21 sks mata kuliah lain yang juga memiliki banyak tugas untuk dikerjakan.
Dan rupanya setelah itu saya (dan mungkin juga teman-teman saya yang lain) merasa bagaikan ditusuk panah, tersambar petir, tertimpa batu berukuran raksasa, dan sebagainya (bohong deng, belum pernah mengalami satu pun kok, dan semoga tidak) gara-gara ucapan si ibu dosen malam itu. Ucapan beliau kepada kami kurang lebih sebagai berikut,

“How could u did well if you have never practiced and studied… Korea invites you to come here to study…”

“You are like ambassador to your country… What will people tell about your country if you did not do well here?”

Dan jleb jleb jleb, tertohok banget rasanya mendengar ucapan beliau. Ungkapan yang sebenarnya sangat biasa dan cukup sering saya – dan juga mungkin para pembaca – temui. Entah mengapa sedikit banyak ucapan beliau sangat berpengaruh. Bahkan salah seorang teman saya yang bernama Louminna yang berasal dari Laos sesudah itu berjanji kepada si ibu bahwa dia akan berlatih membaca dan menulis aksara Korea sebanyak minimal 3 buah buku setiap minggu. Perlu diketahui bahwa si buku tulis ini seperti buku menulis halus kalau di Indonesia, terdiri atas sekitar 40 halaman – menulis di satu halaman memerlukan waktu sekitar 5 – 10 menit. Apabila kita mengambil waktu tersingkat, menulis 3 buku per minggu berarti meluangkan waktu 600 menit atau 10 jam per minggu – berarti sekitar 1,5 jam per hari – hanya untuk menulis aksara Korea. Wah, hebat sekali si temanku ini, semangatnya perlu saya contoh nih, hehe.
Back to topik, saya merasa ibu benar bu, kami disini adalah duta negara, meskipun tidak ada label resmi, tetapi orang-orang tahu di punggung saya tertera tulisan “INDONESIA” (konotasi.. konotasi.. tidak usah ditanggapi serius yah ^_^). Apa kata orang sini kalau saya berbuat aneh-aneh? “Ih.. ternyata orang Indonesia tuh xxxx yah?”. Dan saya – juga Anda, Tasia, dan Dina sebenarnya ^_^ – berkewajiban mengisi variabel bebas xxxx itu dengan sifat-sifat baik tentunya. Karena tidak ada lagi orang Indonesia di sini hahaha. Ini saya ketahui setelah bertanya kepada kantor urusan internasional di kampus ini, tidak ada satu pun mahasiswa di sini yang berasal dari Indonesia selain peserta pertukaran mahasiswa ini. Artinya jelas, hanya kami berempat lah makhluk yang bisa sedikit mencerminkan bangsa kita (sedikit, soalnya kan elemen yang membangun bangsa kita sangat bragam). Dan bukan cuma negara Indonesia, agama Islam, keluarga, ITB, PPSDMS, dan segala macam lain entitas yang melekat pada diri saya pun dipertaruhkan hehehe.
Jadi intinya bagaimana nih? Simple saja, hayuk sini orang-orang Korea, dosen dan lain-lain, Insya Allah saya siap kok menerima tantangan ini dan tidak akan mengeluh kesah lagi. Saya mungkin memang masih belum bisa sebaik Anda (bisa berarti orang-orang Korea, juga bisa berarti Gahayu Handari :P ) dalam bekerja keras dan hal-hal lainnya. Tetapi justru karena itulah saya hadir di sini bukan ^_^. Belajar, belajar, dan belajar (tidak hanya mengurung diri di kamar dan membaca-baca saja, tetapi dalam lingkup luas tentunya – berjalan-jalan dan menikmati berbagai fenomena alam maupun sosial juga termasuk belajar kan, hehehe) sehingga banyak nilai yang bisa saya dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan di negeri tercinta…
Rupanya keluhan memang hanya menyisakan luka… Kemauan untuk menimba ilmu rupanya yang bisa menyisakan kebahagiaan… Kebahagiaan yang mengalahkan rasa suntuk, malas, dan beban berat yang perlu ditempuh dalam mengarunginya…
Categories: Life Experience

Makan Daging Babi.. Tidak.. T_T

Tidak sengaja.. tidak sengaja.. semoga diampuniNya.. Cerita jelasnya baca saja kutipan pembicaraanku dengan si sayang di bawah ini:

Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:22:31): emang mau cerita apa, sayang?
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:22:33): :D
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:22:39): itu…
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:22:43): akhirnya saya makan babi
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:22:44): :D
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:22:45): :) )
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:22:48): bukan ttg milis maninov kan?
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:23:07): segera minum sebanyak2nya dah sekarang
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:23:10): huweeeee
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:23:17): pengen cepet biar keluar lagi
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:23:25): asyik dunx yah
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:23:28): parah, hun.. gara2 si koki dableg
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:23:31): hahahaha68x
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:23:38): kenape ?
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:23:59): kan tiap kalingambil makanan aku pasti nanya ke si koki
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:24:04): “duejigogi issayo” (artinya apakah ini mengandung babi?)
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:24:16): kalo jawabnya issayo (artinya mengandung) ga diambil, opsoyo (tidak mengandung) baru diambil
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:24:20): eh ngerti kan?
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:24:50): sambil pake bahasa tubuh gitu deh.. dianya geleng2 ato ngangguk2..
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:25:10): terus tadi siang kan makan sama ikan.. terus bihun.. kimchi.. ama si sop kuah..
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:25:21): tetep aja aku nanyain semuanya, karena bisa aja sop kaldu babi, dsb..
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:25:36): terus si koki bilang semua nya opsoyo, ga ngandung babi
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:25:47): gembiranya lah hatiku,,, makan sepuasnya
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:10): terus udah abis, bener2 bersih.. tasya dateng.. “lho itu bukannya bihun babi ya jrin”
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:11): deng…
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:15): aku nanya ke si koki
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:24): dia tetep bilang opsoyo2 aja..
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:26:38): hahahahaha68x
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:40): eh si koki satunya dateng, terus mereka ngobrol2, terus bilang ke aku, issayo
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:42): mati
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:26:56): jadi koki satunya yang lebih tau, yg bilang bahwa tu bihun dari babi
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:21): wahahahaha68x
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:27:24): ah…. dasar koki ndableg
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:30): kasian pacarku
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:32): hahahaha68x
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:36): yah bagus deh
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:38): kan ga tau
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:41): jadi gak dosa
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:44): hikmahnya…
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:27:44): rasanya gak ketauan sih, sama aja kayaknya
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:54): kamu jadi bisa icip daging babi tapi nggak dosa
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:27:58): wahahahha68x
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:28:04): *pacarnya juga geblek
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:28:18): ah riset terbaru kan daging babi itu bisa mempengaruhi keturunan..
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:28:30): makanya nih, amit2 dah, buru2 keluarin deh
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:28:44): makan buah,, beli yoghurt.. banyakin minum
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:28:46): wahahahaha68x
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:29:11): ni tubuh kudu steril dari babi
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:29:18): coba deh bun…
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:29:31): operasi pengangkatan daging babi dari dalam tubuh
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:29:36): wahahaha68x
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:29:40): :D
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:29:42): boleh tuh kalo ada
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:29:51): hahaha
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:30:04): terus jadi inget hobiku kalo ke mal mal
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:30:37): moga2 kapan2 nyicip soju tapi ga dosa juga
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:30:38): ape?
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:30:56): kan biasanya di mal suka ada yang nawarin gratisan2 gitu.. minuman 2-3 teguk.. ato snack2 gitu
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:00): kan suka ngambil..
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:10): terus pas di festival kemaren juga banyak gitu
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:18): jadi setiap kali ada yang nawarin minuman, embat aja
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:24): eh ada minuman yang rasanya aneh pisan
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:32): langsung khawatir, waduh, jangan2 soju
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:31:49): ternyata sari bawang putih  huek.. aneh
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:31:57): ihihihi68x
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:32:04): begooooo
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:32:07): makanya jangan maruk
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:32:15): tapi ntar qlo dah icip soju bilang yah
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:32:27): ntar kalo ada gratisan2 gitu lagi
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:33:09): kemaren adanya sari bawang putih.. minuman kaldu mi.. sari mint (pergi ke pasar ).. sama kue2
Fajrin Rasyid (13/04/2008 13:33:34): aneh2 semua
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:33:59): hahahaha68x
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:34:03): dasarrrrrr
Anak Agung Amalie Ayu (13/04/2008 13:34:09): diceritain atuh

Tuh sudah diceritain detailnya, hahaha… glek… glek… semoga aja itu makanan tidak bertahan lama-lama di tubuh saya hahaha…

Just be careful in everything ^_^

Categories: Insanity

Even So, My Heart Is Still Yours ^_^

This upcoming wind means only one thing
When I open the same door today
Beautiful spring awaits you to fly, dear
Along with someone you love
Along with someone you trust to keep your heart

Can’t you hear pretty white leaves calling out your name?
Gladly want you to become part of the song
Being together accross the season, through the huge forests near
And even if you do not answer the call
Even forever I’m standing here waiting
Because even so, my heart is still yours ^_^

Ah, there is also an Indonesian poetry taken from Defindal’s blog. It is untitled, but somehow it is beautiful to represent my feeling to her…

Seseorang yang mencintai kamu
tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu
Dia hanya tau, di mata dia, kamulah satu satunya.

Seseorang yang mencintai kamu
sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress
Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan,
Karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu.

Seseorang yang mencintai kamu,
jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya
kamu adalah yang terbaik, hanya ia yang tau.

Seseorang yang mencintai kamu,
akan marah–marah atau mengeluh
jika kamu tidak membalas pesannya atau teleponnya,
karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi padamu.

Seseorang yang benar–benar mencintai kamu,
akan merasa bahwa sesuatu yang harus dikatakan
hanya sekali saja,
karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya.
Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa
bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia dan tersenyum


Just beautiful...

To my one and only, my only wing, who I love, need, and miss every second in my life, Anak Agung Amalie Ayu Chadradev.

It is really okay to express your feeling, because in this world you are maybe just one person, but for someone out there, you are perhaps his/her whole world…

Categories: Bottom of My Heart

Mengapa Bangsa Korea Bisa Maju (Analisis Awal)

Mengapa bangsa Korea bisa maju, padahal Inggris bilang mereka itu bangsa yang necis dan cuma pengen hidup senang? Gue pengen lu yang nyari tau jawabannya Jrin“, begitu kata Ipe, sekjen Kabinet KM ITB 2007/2008 dalam kesan pesan terhadap saya yang dituangkan dalam bentuk video oleh Fitrasani dkk sebagai kenang-kenangan bagi saya selama disini.

Yang pasti cari tahu saja mengapa Korea bisa semaju ini, padahal ketika tahun 1960an dulu mereka itu negara miskin, lebih miskin daripada kita“, demikian pula pesan orang tua saya.

Ya, memang “mencuri” ilmu, pengalaman, rahasia, atau apapun istilahnya sebanyak-banyaknya dari negeri ini dan orang-orang di dalamnya memang salah satu alasan yang membuat saya memutuskan untuk mengikuti pertukaran pelajar di Korea ini. Sekitar sepuluh hari disini, saya sedikit banyak melakukan analisis terhadap perilaku orang-orang disini (untuk mengambil pelajaran tentunya, mana yang bisa kita ikuti dan mana yang jangan kita tiru), disamping terkagum-kagum akan berbagai infrastruktur yang ada disini (hal ini dibahas di postingan lain, karena pasti akan sangat panjang apabila sekaligus membahasnya disini hehehe).

Dan inilah sedikit banyak hasil analisis awal yang saya peroleh yang Insya Allah bisa sedikit menjawab pertanyaan orang tua saya dan juga Ipe:

1) Orang Korea kebanyakan profesional – amat sangat profesional malah

Profesional dalam hal ini yaitu mengerti akan hak dan kewajiban mereka. Bagi mahasiswa, tidak ada kata bermain selain di akhir pekan. Bayangkan saja, di kampus itu ada lapangan sepak bola yang sangat bagus yang bisa dipakai secara gratis selain di akhir pekan (bayar sekitar Rp 150.000,- per dua jam di akhir pekan), tetapi hampir tidak pernah ada yang menggunakannya di hari kerja. Lho, apa orang di sini tidak suka main sepak bola? Bukan, tetapi mereka menghabiskan hampir semua waktu mereka di hari biasa untuk belajar. Ketika tidak ada kuliah, maka yang mereka lakukan adalah ke perpustakaan atau tempat lain untuk belajar. Tidak ada nongkrong-nongkrong tidak jelas, bermain kartu, apalagi menonton bioskop :) . Lho, hidup mereka kasihan amat dong? Tidak juga. Namanya juga profesional, jadi ketika hari libur, mereka bermain sepuas-puasnya – secara profesional juga. Hingga mabuk-mabukan segala (Ups, yang ini jangan ditiru lah yaaa, hehe).

Bukti lainnya yang menunjukkan hal ini, ketika minggu lalu kami diajak tur keliling kota dengan ditemani oleh para buddy, kami menuju downtown – semacam pusat perbelanjaan yang cukup ramai di kota Daejeon ini. Si Jun, buddy saya, bertanya adakah barang yang hendak saya cari. Karena saya baru dua hari dan belum terlalu memikirkan akan hal semacam itu, saya hanya menjawab, memangnya barang yang menarik apa? Kira-kira yang khas dari sini? Jawaban dia, “Wah, maaf saya kurang tahu. Saya jarang kesini. Biasanya saya ke perpustakaan atau belajar di rumah ketika weekend”. Waduh, rajin sekali engkau Jun, hehehe. Saya tidak boleh kalah nih selama setahun disini, biar tidak malu didampingi oleh orang rajin :)

2) Efisien waktu dan disiplin

Saya sudah menyebutkan di beberapa postingan sebelumnya tentang kedatangan saya di kampus ini, yaitu bahwa kami tiba di Korea, tepatnya di Incheon Airport pada hari Kamis, 27 Maret 2008, sekitar pukul 07.00. Kami disambut dengan bus yang langsung mengantar kami menuju Daejeon University. Kami tiba sekitar pukul 12.00 dan langsung menuju gedung asrama kampus, menuju kamar masing-masing – kamar yang Insya Allah akan kami tempati selama 9 bulan ke depan. And guess what, berikut jadwal acara selama beberapa hari itu :

Kamis, 27 Maret 2008
14.00 dormitory orientation
15.30 campus tour

Jumat, 28 Maret 2008
10.00 orientation with ASEAN University Network and Daejeon University
11.00 course registration
14.00 level / placement test for Korean Class
16.00 downtown tour

Senin, 31 Maret 2008
Kelas dimulai – minggu pertama setiap mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti seluruh mata kuliah, setelah itu pada akhir minggu pertama akan diadakan semacam PRS untuk mengambil 27 SKS mata kuliah yang akan benar-benar diambil

Maakk…. Kalau kata Vicky, give me a break! Benar-benar efisien mereka dalam mengatur waktu. Kami yang masih agak-agak blank karena baru tiba setelah perjalanan jauh pun langsung disuruh mengikuti orientasi itu. Melihat jadwal kuliahnya pun saya shock. Jadwal kuliah per hari hanya terbagi tiga, yaitu pukul 9 – 12, 12 – 15, dan 15 – 18. Pada hari Rabu dan Kamis, kuliah saya full jam 9 – 18. Woi, istirahatnya kapan woi? Ah, tetapi saya berpikir, pasti tidak akan sepenuhnya benar-benar digunakan setiap jadwal kuliah tersebut. Terbayang di ITB, jadwal kuliah yang seharusnya 2 jam biasanya hanya digunakan selama 1,5 jam. Pikiran yang amat salah karena mereka benar-benar menggunakan waktu 3 jam tersebut. Bahkan ketika kami terlambat untuk kuliah pada pukul 15 karena kuliah sebelumnya benar-benar selesai pukul 15 – dan kami harus pindah antar gedung kuliah yang cukup jauh seperti dari GKU Lama ke GKU Baru, kami ikut dimarahi oleh si dosen. Hahahaha. Ampun deh ampun bapak-bapak ibu-ibu. Rasanya dalam hal ini kita memang bisa belajar banyak dari mereka.

3) “Ketika kamu tidak bekerja keras, kamu tidak akan hidup”

Itu barangkali statement yang mewakili dari cerita si Jun, ketika saya bertanya mengapa dia sibuk sekali belajar. “Begitu banyak tenaga kerja di Korea tetapi tidak sebanyak itu lapangan kerja yang tersedia. Karenanya, jika saya tidak belajar keras, saya tidak akan memperoleh nilai baik. Dan jika saya tidak memperoleh nilai baik, saya tidak akan memperoleh pekerjaan. Dan jika saya tidak memperoleh pekerjaan, saya tidak akan hidup”. Glek, merasa sangat tersindir saya mendengar kata-kata itu. Sudah segiat apa saya belajar? Sudah siapkah saya untuk bisa menghidupi diri saya sendiri dan keluarga saya nantinya? Dasar si Jun, kamu baik sekali sih, sudah mengingatkan saya akan berbagai macam hal hehe. Sedikit banyak menjawab pertanyaan Ipe juga nih, “kami memang ingin hidup senang. Karenanya, kami akan senang-senang apabila sudah terjamin kami bisa terus melakukannya keesokan dan keesokan hari lagi”. So, silakan bersenang-senang, asalkan tidak melupakan kodrat bahwa kita masih memiliki masa depan untuk diperjuangkan.

Hm, mungkin itu dulu analisis awal saya akan perilaku positif orang-orang Korea yang saya pikir bisa kita tiru – tentunya agar bangsa kita semakin maju. Namanya juga analisis awal, sehingga baru berupa gambaran besar saja, dan Insya Allah akan selalu diperbaiki dan ditambahkan ke depannya.

Dan sekali lagi saya bersyukur padaMu Ya Allah, diberikan kesempatan untuk mempelajari banyak hal ini – padahal belum lama saya berada disini. Semoga semakin banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dan sharingkan kepada semua yang membutuhkan. Karena ternyata masih banyak hal yang selalu bisa kita pelajari…

Categories: Thought and Opinion

Menjadi Ketua Kelas Lagi… [Lengkap 8 Semester :P]

Percakapan di bawah ini biasa terjadi ketika awal semester, biasanya mengambil lokasi di ruang 76XX yang berada di salah satu gedung labtek di salah satu institut terkemuka yang berlokasi di kota Bandung.

Dosen : Ya nama saya YYYYYYY… Ini silabus mata kuliah ini… Dan ini aturan-aturan di kelas ini… Oh iya, saya rasa kita memerlukan seorang ketua kelas, kira-kira siapa yang berminat, ada yang mau mengusulkan?

Beberapa-mahasiswa-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya : (Dengan kompak) FAJRINNNNN…….!!!!!!!

Dan jadilah saya selama 3,5 tahun (tujuh semester) berkuliah di Informatika ITB 2004 hampir selalu menjadi ketua kelas dalam mata kuliah yang saya ikuti. Saya sebut hampir karena pernah juga gelar tersebut direbut oleh saudara Anjar, Simon, dana beberapa lainnya hehe. Sebenarnya no problem saja sih bagi saya untuk menjadi ketua kelas, karena Insya Allah memang sudah terbiasa memberikan informasi dan sebagainya yang dapat memperlancar kegiatan perkuliahan. Memastikan daftar hadir sudah terisi oleh hanya seluruh mahasiswa yang hadir dan juga ringkasan materi perkuliahan, bertanya kepada dosen apabila ada yang kurang jelas tentang kegiatan perkuliahan, mencari tahu apabila dosen tidak masuk dan tidak memberi kabar, keluar kelas paling akhir setelah semua mahasiswa dan dosen keluar, mengumpulkan tugas-tugas dari seluruh mahasiswa, dan masih banyak lagi job-tidak-bergaji yang harus dikerjakan sebagai ketua kelas hehehe.

Tetapi akhirnya saya memasuki semester 8 juga. Tinggal Tugas Akhir (TA) dan mata kuliah Kewirausahaan dan Pengembangan Bisnis (KPB) mata kuliah yang belum saya ikuti. Saya pikir, TA akan lebih banyak berurusan dengan individu, berarti tinggal KPB nih. Iseng ah, saya mencoba untuk tidak hadir di pertemuan pertama mata kuliah KPB – kebetulan ketika itu memang berbentrokan dengan suatu urusan di luar kota, mengurus pertukaran pelajar ke Korea ini. Ternyata benar juga, percakapan di atas berulang kembali. Tetapi karena saya tidak masuk, percakapan itu dilanjutkan.



Beberapa-mahasiswa-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya
: Lah, Fajrin – nya manaaaa…….???????

Beberapa-mahasiswa-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya-juga : Gak dateng diaaaa…….!!!!!!!

Akhirnya sang ketua kelas jatuh kepada saudari Gahayu – ada yang tahu bagaimana ceritanya bisa terpilih dia? Well, berarti hampir bisa dipastikan saya pensiun sebagai ketua kelas, hehehe. Kuliah S2 sepertinya tidak pakai ketua kelas – ketua kelas semacam ini deh :D . Hari berganti, dan ternyata prediksi saya salah total. Saya terpilih mengikuti pertukaran pelajar untuk berkuliah setahun di Korea, bersama 19-an mahasiswa dari berbagai negara di ASEAN.

Kuliah di Korea, bersama-sama dengan pelajar dari berbagai negara, mungkin sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tentu saja hanya kepadaMu ya Allah saya bersyukur atas kesempatan dan nikmat yang saya terima ini. Dan mulailah kehidupan (kalau kata Dinda sih petualangan) saya berkuliah disini seminggu lalu. Dan di suatu Rabu siang, di salah satu ruangan basement di gedung Social Sciences Daejeon University, tempat saya bersama beberapa mahasiswa lain mengikuti kuliah bahasa Korea, percakapan yang mirip kembali terulang.

Prof. Cheong Ae-Suk : “This is the end of our first class today. Oh,, I think we need panja here. Do you guys know panja? leader. So who will be our panja??”

(Ah, tidak tidak, tidak mungkin saya menjadi ketua kelas. Cukup sampai semester lalu saja, cukup di Indonesia saja, cukup sekian semester saja, masih banyak kok mahasiswa dari berbagai negara lain yang hebat-hebat)

Tiba-tiba…

Beberapa-mahasiswa-dari-beberapa-negara-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya
: “RIN.. RIN.. It’s RIN..”

(Glek. Gila ya? Woi!!!!!!)

Prof. Cheong Ae-Suk : “RIN? Ah.. you Rin, right? So okay, u’ll be our panja, alright??”

RIN (saya sendiri :P )
: “Well… okay, omma (mom in Korean)”

Dan jadilah saya menjadi ketua kelas lagi. Lengkap 8 semester. Wahahahahaha. Heran juga kenapa bisa demikian. Padahal perasaan saya tidak pernah melakukan hal-hal yang menarik perhatian deh. Lebih senang duduk tenang dan mendengarkan materi. Tidak terlalu populer juga di kalangan mahasiswa. Kenapa ya?

Anyway, yang pasti saya sudah terpilih. Semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya. Aminnnn. sepulang kuliah, pada malam harinya, tugas pertama langsung datang. Saya menerima email sebagai berikut:

Hello, Fajrin,
Welcome to Koreana and my class…
I  hope you enjoy Korean life.

Please tell to students to send me emai….
I can’t recognize their letters.

Please buy Korean Notebook at 1000 won(like 1 dollar shop) shop where is located at  Bus Stop.. It’s not the stationary in front of the entrance of school, you need all the way go down….., it will take 10 minutes walking distance from your place, Buy 2000won-8 notebooks.

Please make sure to read aloud and write Korean quickly. TEll them Keep studing Korean, especially this week.

PROF. CHEONG

Siap omma! Segera dilaksanakan!

Amanah bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diingat. Karena engkau bisa memperoleh kebaikan apabila memenuhinya, namun memperoleh keburukan apabila melalaikannya.

Categories: Life Experience

My Name is Rin

My full name is Muhamad Fajrin Rasyid. People usually called me Fajrin“. Begitulah jawabanku mula-mula ketika ditanya namaku di sini. Tetapi oh tetapi, semua orang Korea (dan juga temen-temen dari negara ASEAN lain yang tidak beragama Islam) itu susah betul euy menyebut nama saya huhuhuhu. “Apa? Tolong dieja?“, “What?”, “Fadi?”, “Phajing?”, “Phak jin?”, dan segala macam aneh-aneh keluar dari tanggapan mereka. Uh, sial, bagaimana ya? Sudah terlanjur memperkenalkan diri sebagai Fajrin nih. Nama Muhamad memang lebih mudah dipanggil mereka, tetapi ada semacam beban apabila aku dipanggil dengan nama itu hehehe. Dan menyebut nama belakangku langsung – dianggap sebagai nama keluarga – terdengar aneh juga.

Aku tetap berusaha keras memperkenalkan diri dengan namaku sendiri, tidak dengan nama-nama banyolan (contoh, kalau namanya Budi masa dipanggil Michael?). “It’s Fajrin.. F A J R I N… Fa – jrin.. Fa – j – rin.. Faj – rin..”. Dan ting!! Eureka!! Kalau di komik-komik biasanya muncul gambar lampu yang menandakan dapat ide. Kini, aku memperkenalkan diri sebagai berikut, “My full name is Muhamad Fajrin Rasyid. But you can call me RIN“. Ya, rin dari fajrin, tidak menggunakan nama lain, dan saya menjadi lebih mudah berinteraksi dengan mereka karena lebih mudah diingat.

My name is RIN. Hahahahahahahahaha. Jadi inget iklan shampoo :D . No no no no no, not RAIN, it’s RIN. R I N. So untuk yang ingin mencari saya selama di Korea, barangkali ingin menelepon atau datang langsung ke kampus, bilang saja, “I’m lookin for RIN, from INDONESIA“. Hahahaha. Tentu saja teman-teman beragama Islam terutama dari Indonesia (Anda, Tasya, dan Dina) tertawa karena menganggap sebutan itu sok imut hahaha. Tetapi akhirnya mereka ikut memanggil saya RIN apabila sedang bersama-sama. Hehehehe.

“Mirip banget sama nama salah satu artis terkenal Korea”, begitu kata Sang Ha Park yang biasa disebut Jun (jauh banget ya?), buddy-ku. Buddy itu pendamping saya selama program pertukaran mahasiswa ini, supaya saya bisa belajar lebih banyak dan lebih cepat tentang Korea dan segala sesuatu di dalamnya. “Tapi kamu kelihatan sungguh berbeda”, katanya lagi bercanda. Dasar sial, lihat saja nanti hahaha. “Tidak akan jauh berbeda beberapa saat lagi”, jawabku hahaha. “Benar tuh, jauh banget ah, mirip apanya?”, kata Anda mempertanyakan kepada Jun. “But RIN is handsome“, kata Jun. Wow, jarang sekali aku disebut begitu. Memang sedikit orang jujur di dunia ini hahaha :P .

Oh ya, anyway, di bawah ini namaku kalo ditulis dalam Hangeul (artinya bahasa Korea, dibacanya han-geul, geul nya ini mirip dengan orang Sunda ngomong geulis, makanya orang Sunda kulitnya putih-putih, sepertinya ada hubungan darah dengan orang Korea yang juga putih-putih hehe). Ada yang mau dituliskan namanya dalam Hangeul?

My Name in Hangeul


Dan berpetualanglah seorang pemuda kampung dari Karawang – Pekalongan yang kini dipanggil RIN di negeri seberang, jauh, jauh dari keluarga dan sebagian besar lingkungannya… Dan ternyata dunia ini begitu besar…

Categories: Insanity
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers