Entrepreneurship Melalui Startup? Mengapa Tidak!
Tulisan ini saya buat untuk mengisi artikel di dalam website www.informatika.org – portal keluarga besar teknik informatika ITB.
Beberapa tahun terakhir, semangat entrepreneurship sudah sangat menggema di kampus-kampus ternama di Indonesia termasuk ITB. Saya ingat ketika saya masih duduk di tingkat 3 perkuliahan S1 (sekitar tahun 2006), beberapa senior IF angkatan 2003 mendirikan Sangkuriang Studio, startup yang kemudian bergerak di bidang Game, Multimedia Applications, Business Support System, Rich Internet Applications. Ketika itu saya berpikir, berani sekali para senior ini langsung memulai usaha, sesuatu yang hanya akan saya jajali apabila memiliki pengalaman karir dan modal yang cukup.
Yang ada di dalam rencana hidup jangka menengah saya saat itu yaitu setelah lulus S1, bekerja di perusahaan top untuk menggali pengalaman sebanyak-banyaknya, dan berbekal itu saya ingin melanjutkan kuliah S2 dan kemungkinan juga S3 di universitas top dunia, dan dengan itu saya dapat menduduki jajaran eksekutif di perusahaan besar, barulah saya memiliki modal (pengalaman maupun dana) yang cukup untuk memulai suatu usaha. Sebuah rencana yang saya pikir cukup banyak dilakukan dan dijalankan oleh para alumni.
Akhirnya, tidak lama setelah lulus dari ITB, saya bekerja di Boston Consulting Group (BCG), salah satu perusahaan konsultan bisnis kelas dunia, yang tahun ini dinobatkan oleh Fortune sebagai tempat kerja terbaik di dunia di bawah Google (lihat di http://money.cnn.com/magazines/fortune/best-companies/2012/full_list/). Sampai disini, saya masih mengikuti rencana hidup saya tersebut, hingga saya mendengar pernyataan dari rekan yang bekerja di perusahaan sejenis sebagai berikut:
I joined world class consultant in order to enter MBA in world top university. I thought it was a good decision, yet apparently questionable. I faced quite difficult experience in applying since there are hundreds of consultants just like me, not mentioning those from competitors within the same and across industries; hence I am less special at all compared to them. I was then thinking that the story maybe different if I chose to start my own startup, engage in a unique business model, and cooperate within my team to bring added value to our employees, partners, and furthermore communities we are collaborating with. I think that would be unique and able to provide high advantage when applying for MBA.
Untuk saya sendiri, akhirnya setelah satu setengah tahun berkarir di BCG, saya akhirnya menjadi partner penuh rekan saya Achmad Zaky dalam mengembangkan Suitmedia, startup yang bergerak di dalam Website Development, Mobile Application (Android, Blackberry, dan iOS) Development, and Social Media Network, dan Bukalapak, startup yang bergerak di bidang eCommerce.
Disini saya melihat bahwa menjadi entrepreneur, khususnya mengembangkan startup, ternyata merupakan pilihan yang memiliki nilai lebih meskipun kita memiliki rencana-rencana lain untuk hidup kita ke depannya. Saya sampaikan tiga contoh disini:
- Untuk keperluan studi lebih lanjut
Hal ini sudah terlihat dari penjelasan diatas, yaitu bahwa terlibat di dalam startup yang memiliki model bisnis yang unik dan memberikan manfaat bagi komunitas/masyarakat ternyata menjadikan profil diri kita unik dibandingkan dengan pelamar yang lain. Keunikan inilah yang dicari oleh para penyeleksi aplikan yang melamar ke universitas karena mereka tidak ingin memiliki profil mahasiswa yang seragam. Dengan demikian, peluang kita untuk lolos akan lebih besar. - Untuk bergabung di korporasi / perusahaan besar
Terlibat di dalam startup memungkinkan kita untuk terlatih berpikir kreatif dan out-of-the-box karena iklim dunia startup yang bersifat all or nothing (kalau startup kita tidak memiliki nilai lebih dibanding yang lain, kita akan tertinggal). Korporasi biasanya memandang lebih karyawan yang memiliki pola pikir ini. Besar kemungkinan, karyawan tersebut akan lebih mudah naik tingkat karena semakin ke atas, akan semakin banyak problem perusahaan yang tidak bersifat tekstual sehingga memerlukan pendekatan kreatif. Sebagai contoh lagi, banyak rekan saya di BCG yang pernah terlibat di startup sebelum mereka bergabung (bahkan beberapa diantaranya masih menjalankannya). - Untuk menjadi pengajar
Rasanya poin terakhir ini cukup jelas, yaitu bahwa pengalaman yang riil dalam mengembangkan startup akan memudahkan pengajar dalam memberikan materi kepada mahasiswa dibandingkan mengandalkan teori atau text book saja, terutama untuk mata kuliah terkait (seperti Software Project Management atau IT Business/Management).
Dengan demikian, mengembangkan startup dapat menjadi pilihan karir yang baik, entah itu bagi rekan-rekan yang memang ingin berwirausaha, maupun bagi rekan-rekan yang ingin merencanakan hal-hal diatas.
Terakhir, saya ingin menanyakan, khususnya bagi rekan-rekan yang sudah mengembangkan startup, yaitu mengapa rekan-rekan memilih untuk menjadi entrepreneur? Beberapa orang melakukannya karena waktu kerja yang fleksibel, budaya kerja yang fleksibel (tidak harus pakai kemeja ke kantor, dsb), kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, kesempatan untuk menjadi atasan, atau bahkan alasan gengsi (“saya punya perusahaan!”). Menurut saya sendiri, orang yang memilih untuk menjadi entrepreneur hendaknya melakukannya karena itu adalah salah satu cara terbaik dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pihak lain, entah itu karyawan, klien, vendor, ataupun pihak lain yang terlibat di dalam usaha kita. Apakah rekan-rekan sepakat? Atau ada alasan lain?
Mengapa Ruby? Pandangan Dari Aspek Bisnis
Tulisan ini adalah rangkuman dari presentasi Jakarta.rb yang saya berikan bulan Februari lalu. Tulisan aslinya ada di sini, slidenya ada di sini, sedangkan videonya ada di sini.
Berbicara soal pemrograman web, tidak dapat dipungkiri PHP masih merupakan bahasa yang paling populer digunakan, setidaknya di Indonesia. Apabila kita bertanya, “Apakah Anda menguasai Ruby?” secara random kepada programmer web yang kita temui, kemungkinan besar akan menjawab tidak. Saya sendiri baru mengenal Ruby sekitar tiga tahun lalu, ketika Bukalapak.com, yang merupakan salah satu produk awal kami (Suitmedia), mulai dirintis.
Faktanya, memang sulit bagi perusahaan (termasuk kami di Suitmedia) untuk mencari programmer Ruby, dan sebaliknya, sulit bagi programmer Ruby untuk mencari perusahaan yang bagus untuk bekerja. Udemy pernah membuat laporan terkait hal ini. Bagi programmer Ruby yang mencari tempat bekerja, Udemy merangkum dari Craigslist bahwa dari seluruh lowongan pekerjaan yang tersedia untuk programmer, hanya 3% lowongan bagi programmer Ruby, bandingkan misalnya dengan PHP (21%), C++ (12%), atau C (10%). Sementara itu, bagi perusahaan yang mencari programmer Ruby, Udemy menyatakan bahwa di LinkedIn hanya terdapat sekitar 700 programmer Ruby, bandingkan dengan PHP (19000) dan Python (1300).
Terlepas dari fakta bahwa banyak informasi lowongan ataupun SDM Ruby yang tidak terafiliasi dengan kedua situs tersebut, sepertinya fakta diatas tidak dapat dihindari. Lantas, apakah itu berarti Ruby adalah bahasa pemrograman yang kurang potensial? Tidak juga. Berikut beberapa hal yang menunjukkan bahwa Ruby adalah salah satu bahasa pemrograman yang efektif.
1. Ruby itu menyenangkan
Kembali ke cerita diatas, ketika Suitmedia mulai mengembangkan Bukalapak.com, Nugroho (CTO Bukalapak, eks CTO Suitmedia) menyarankan untuk menggunakan Ruby karena menurutnya Ruby itu menyenangkan dan elegan. Beliau lantas membandingkan contoh kode yang diperlukan dalam bahasa Java dan Ruby untuk membuat beberapa fungsi yang sama sebagai berikut.
Fungsi 1 – Java
class ThisIsAClassIDontReallyWantToNameButJavaMakesMe
{
public static void main() {
System.out.println("Hello World");
}
}
Fungsi 1 – Ruby
puts 'Hello World'
Fungsi 2 – Java
import java.io.File;
import java.io.InputStream;
// ... declare class, etc., then ...
public byte[] justReadMeAFilePlease() {
try {
file = new File("my-file.txt");
fis = new FileInputStream(file);
byte[] b = new byte[(int) file.length()];
fis.read(b);
return b;
} catch (Exception e) {
e.printStackTrace();
}
}
Fungsi 2 – Ruby
contents = File.read "my-file.txt"
Pada akhirnya kami yakin bahwa Ruby memang elegan dan menyenangkan, khususnya bagi programmer yang sepenuhnya berinteraksi (membaca dan menulis) dalam bahasa tersebut. Oleh karena itu, kami sepakat untuk mengembangkan Bukalapak.com dalam bahasa Ruby karena iklim/suasana kerja yang menyenangkan adalah faktor terbesar dalam meningkatkan produktivitas kerja (dan karena itu baik bagi bisnis).
2. Ruby mudah dipergunakan kembali
Masih bersumber dari Udemy, kebanyakan mengakui bahwa Ruby merupakan bahasa yang elegan dan powerful. Ruby sangat mudah dipergunakan kembali sesuai dengan prinsipnya yang seminimal mungkin menimbulkan kebingungan. Salah satu dampaknya adalah, mudah bagi programmer Ruby untuk mempelajari kode yang dibuat oleh programmer Ruby lainnya. Secara bisnis, ini akan mempermudah dalam maintenance produk yang dikembangkan.
3. Meskipun tidak banyak, tetapi programmer Ruby biasanya adalah orang yang benar-benar suka membuat program
Sederhananya, karena jumlah lowongan kerja Ruby jauh lebih sedikit dibandingkan lainnya, biasanya orang-orang mempelajari Ruby bukan untuk memperoleh pekerjaan, melainkan karena telah berinteraksi dengan dunia pemrograman cukup lama dan tidak puas dengan bahasa yang mereka sudah kenal. Hal ini melahirkan dua paradoks:
Paradoks 1: “Apabila perusahaan mengembangkan program dalam bahasa yang tidak umum, maka perusahaan itu berpeluang untuk merekrut programmer berkualitas baik, karena programmer bahasa tersebut adalah orang-orang yang peduli untuk mempelajari dan mendalami bahasa pemrograman tersebut (bukan sekadar orang-orang yang mencari pekerjaan)”
Paradoks 2: “Bahasa yang baik untuk dipelajari apabila Anda ingin mendapat pekerjaan, adalah bahasa yang dipelajari tidak hanya untuk mendapat pekerjaan”
Kedua paradoks diatas memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Faktanya, tidak banyak perusahaan yang menyadari hal tersebut. Namun menariknya, perusahaan yang menyadari hal ini adalah perusahaan yang memang dicari oleh orang-orang. Tengok saja Twitter, Groupon, Github, Scribd, dan lain-lain yang berbasiskan Ruby. Singkatnya, meskipun jumlah lowongan ataupun SDM Ruby sedikit, kemungkinan besar kualitasnya akan berada diatas rata-rata.
4. Poin tambahan bagi startup
Mungkin sebagian dari pembaca terlibat dalam startup, entah itu founder, tim, ataupun setidaknya pemerhati
Dunia startup memang booming di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir, dan salah satu karakteristik penting di dalam bidang ini adalah “all or nothing”. Artinya, tidak seperti perusahaan besar yang grafik pertumbuhannya tidak tajam, startup dapat tumbuh sekian kali lipat dalam waktu singkat, tetapi sebaliknya dapat hancur seketika. Dalam kondisi seperti ini, memiliki sesuatu yang berbeda bagi suatu startup adalah salah satu nilai lebih apabila dibandingkan dengan kompetitor, dan memiliki sistem berbasis Ruby adalah salah satu contohnya.
Suitmedia sendiri mengalami beberapa poin diatas, contohnya ketika Nugroho harus berfokus di Bukalapak.com sehingga proyek-proyek yang sebelumnya ditanganinya di Suitmedia harus dialihkan ke programmer lain (dalam hal ini yaitu Dimas), hal tersebut dapat berjalan lancar dan cepat. Pun ketika Dimas harus berfokus di produk lain sehingga ia harus menyerahkan kembali proyek-proyek tersebut ke programmer lain (dalam hal ini yaitu Agung).
Tentunya, pembaca dapat mengalami hal-hal berbeda (ataupun sama) dengan yang tertulis disini. Oleh karena itu, silakan komentari, terima kasih
Menuruti pasar atau membuat pasar menuruti kita?
Tulisan ini saya buat ketika sedang di dalam bus dari Jakarta menuju Pekalongan. Saya terpikir setelah tidak tahu lagi harus berbuat apa karena setelah saya naik, hingga satu setengah jam kemudian pun bus belum berangkat melihat penjual makanan ringan yang entah sudah berapa kali lewat. Bagi pembaca yang biasa naik bus atau kendaraan umum lainnya, atau mengunjungi terminal, pasti familiar dengan makanannya: hampir selalu mereka menjual tahu sumedang, lontong, telur puyuh, kacang, nangka, dan beberapa jenis makanan kecil lainnya.
Pertanyaan lantas muncul, kenapa hampir di semua tempat mereka kompak menjual makanan kecil tersebut (kalaupun ada variasi, tidak banyak) – bukankah jenis makanan kecil lain masih banyak? Apakah mereka menurut kemauan pasar (saya memang suka tahu Sumedang
tapi saya tidak tahu seberapa persen pengguna kendaraan umum yang suka) atau mereka memang inginnya membuat itu sehingga pasar menurut mereka?
Saya tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut – saya tidak sempat menanyakan kepada mereka karena ternyata bus berangkat tidak lama setelah saya mulai menulis
Tapi saya ingin melanjutkan tulisan ini pada dua kemungkinan di atas yang dapat berlaku di industri lain – yaitu menuruti pasar dan membuat pasar menuruti kita.
Strategi menuruti pasar merupakan strategi yang sangat umum dalam memberikan layanan kepada pelanggan (entah itu produk ataupun jasa). Mudahnya, juallah barang yang memang dicari pelanggan – contohnya orang yang menjual paying di musim hujan dan beralih menjadi penjual kacamata hitam atau topi lebar di musim kemarau / panas. Strategi ini merupakan strategi yang low risk (karena produk kita hampir pasti dicari oleh konsumen) namun tentu saja karena akan banyak orang yang berpikiran seperti ini, maka kita akan berhadapan dengan banyak sekali pesaing.
Sebaliknya, strategi membuat pasar menuruti kita merupakan strategi yang sangat berisiko dan jarang dilakukan orang. Berbeda dengan orang kebanyakan, orang yang menjalankan strategi ini tidak terlalu memedulikan hal yang saat ini disukai oleh pasar / masyarakat. Sebaliknya, ia hanya berfokus pada membuat suatu layanan yang ia yakini akan digandrungi oleh masyarakat. Steve Jobs dengan salah satu produknya iPad merupakan salah satu contoh paling jelas. Saat ia meluncurkan iPad, orang lebih familiar dengan notebook. Namun, karena ia yakin iPad dapat diminati oleh banyak orang, ia tetap meluncurkannya dan benar saja, iPad cukup laris dan bahkan banyak perusahaan lain yang meluncurkan produk serupa.
Lantas, mana yang lebih baik? Tiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menuruti pasar memang cara yang lebih mudah namun karena itulah akan timbul banyak pesaing – oleh karena itu untuk bisa sukses dengan cara ini, kita harus unggul entah itu dalam hal kualitas, biaya, ataupun waktu. Sebaliknya, membuat pasar menuruti kita merupakan cara yang lebih sulit dan lebih berisiko – karena bisa saja ternyata produk yang dikembangkan ternyata tidak diminati oleh masyarakat. Untuk bisa sukses dengan cara ini, yang terpenting adalah bisa mengatasi masalah yang melanda kebanyakan masyarakat saat ini, atau yang lebih sulit lagi, yaitu menciptakan kebutuhan masyarakat akan produk tersebut.
Selamat mengembangkan produk / jasa yang digunakan masyarakat banyak!
Bunga Berbunga dan Menghitung Kebutuhan Pensiun
Albert Einstein pernah berujar, “The most powerful force in the universe is compound interest.” Sedikit banyak saya sepakat dengan itu, meskipun saya bukan fisikawan #abaikan.
Jadi sejak beberapa bulan terakhir saya semakin concern soal perencanaan keuangan terutama setelah penghasilan turun karena gak lagi kerja di BCG
Oke, intinya kita semua tahu bahwa biaya hidup itu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun, saya punya pertanyaan yang lebih spesifik, seberapa naik sih? Misalnya biaya hidup saya 2 juta rupiah per bulan (ini misalnya saja ya
dan anggap saja usia saya saat ini 25 tahun), berapa biaya hidup saya per bulannya ketika saya pensiun kelak – ketika usia saya 55 tahun? Menurut saya kita perlu mengetahui informasi ini supaya bisa mempersiapkan dana pensiun agar nantinya kita bisa hidup layak ketika tua.
Masih belum tahu jawabannya? Oke, katakanlah kenaikan biaya hidup – dalam bahasa kerennya inflasi – besarnya 10 persen per tahun (meskipun bang Aidil Akbar sang perencana keuangan tersohor itu menyarankan menggunakan angka 12,64 persen per tahun, tapi mari kita coba di angka 10 persen agar memudahkan perhitungan). Sudah bisa dihitung? Apakah biaya hidup saya nantinya menjadi 2 juta ditambah 10 persen x 30 tahun (55 – 25 tahun) atau sekitar 8 juta rupiah?
Nope. Mungkin banyak diantara pembaca yang tahu bahwa perhitungan ini salah karena hal ini mengasumsikan kenaikan 10 persen per tahun itu tetap secara absolut. Padahal, kenyataannya kenaikan 10 persen per tahun itu selalu dihitung berdasarkan biaya di tahun sebelumnya. Artinya besar absolut kenaikan itu akan semakin besar setiap tahunnya. Sebagai contoh, misalnya biaya hidup saya saat ini 2 juta rupiah, maka kenaikan biaya hidup saya tahun depan adalah 200 ribu rupiah. Sementara itu, 2 tahun berikutnya kenaikan biaya hidup saya tidak lagi 200 ribu rupiah melainkan 10 persen dari (2 juta + 200 ribu) atau 220 ribu rupiah.
Kembali ke pertanyaan semula: berapa biaya hidup saya ketika saya pensiun 30 tahun lagi? Jreng jreng.. 35 juta rupiah per bulan. Bercanda nih? Gak kok. Seperti disebutkan Einstein di awal, itulah hebatnya konsep yang disebut compound interest atau bunga berbunga atau bunga majemuk, dimana semakin tinggi bunga atau kenaikan, maka nilai yang terjadi akan berkali-kali lipat lebih besar dari nilai semula. Contoh lagi nih, kalo saya gunakan asumsi Aidil Akbar yang 12,64 persen dan bukan 10 persen, maka biaya hidup saya ketika pensiun yaitu 71 juta rupiah per bulan. Wow!
Hehe.. udah mulai kepikiran buat menyisihkan penghasilan buat hari tua kelak? Gimana dong caranya biar pas hari tua punya dana 71 juta rupiah per bulan padahal sudah gak kerja lagi? Jawabannya ya tetap bunga berbunga lagi
Kalau dengan asumsi kenaikan 10 persen maka biaya hidup kita dari 2 juta menjadi 35 juta rupiah, maka jawaban paling sederhana adalah, pikirkan bagaimana caranya penghasilan Anda bisa berkembang lebih dari 10 persen tersebut. Menabung di bank baik dalam bentuk tabungan ataupun deposito jelas bukan solusi, karena pertumbuhannya “hanya” 8 persen atau bahkan kurang. Oleh karena itu, putarlah dana Anda di tempat lain jika ingin bertujuan agar uang Anda tumbuh, entah itu di saham, reksa dana, emas, properti, maupun yang paling saya anjurkan namun paling sulit – usaha riil
Di bawah ini saya lampirkan link dokumen simulasi menghitung kebutuhan dana pensiun yang bisa pembaca gunakan untuk mengatur dana yang perlu disisihkan per bulannya agar bisa hidup nyaman ketika sudah tidak bekerja. Pembaca bisa memasukkan sendiri data-data seperti biaya hidup per bulan, investasi yang dibutuhkan per bulan, kenaikan biaya hidup, kenaikan investasi, usia saat ini, usia mulai investasi, usia pensiun, dan usia harapan hidup. Lalu pembaca dapat melihat apakah investasi yang disisihkan per bulan cukup untuk membiayai pensiun kelak
http://www.4shared.com/document/WErQ4siL/FR_dana_pensiun.html
Selamat mempersiapkan diri dan silakan bertanya atau berkomentar (apabila ada yang kurang jelas atau merasa ada yang keliru).
Semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket
Kejadian ini baru saya alami beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 6 Mei 2011. Saya bermaksud pulang ke Pekalongan dari Jakarta dengan menaiki kereta Argo Anggrek dengan jadwal keberangkatan pukul 21.30. Saya tahu, akan lebih baik jika memesan kereta api beberapa hari sebelumnya karena sangat riskan untuk memesan tiket langsung pada hari H karena ada risiko tidak kebagian tiket, calo, dan sebagainya. Namun, dikarenakan kesibukan dan lain hal (ciee yang baru pindah kerja
), saya baru bisa ke stasiun sekitar 1 jam sebelum jam keberangkatan kereta.
Nah, di sanalah, untuk pertama kalinya saya mengalami secara langsung “dikerjai” oleh pihak-pihak yang berusaha memungut keuntungan dari calon penumpang seperti saya – meskipun saya tetap tidak mau mengikuti permainan mereka
Silakan pembaca membaca sampai habis dan menilai, apakah hal seperti ini memang wajar terjadi di perusahaan sekelas PT KAI?
Jadi, saya tiba di stasiun sekitar 20.45 dan menanyai petugas berpakaian hitam berhelm putih (petugas keamanan?) mengenai ketersediaan tiket Argo Anggrek malam itu. Dia mengatakan sudah habis dan mempersilakan saya untuk melihat ke layar besar yang menampilkan ketersediaan semua tiket kereta api untuk hari itu dan beberapa hari ke depan. Surprisingly, disitu tercantum jelas bahwa masih ada 3 tiket kosong tersisa. Saya lantas menanyakan hal ini dan dia nampak bingung, lantas mendatangi petugas lain dan berdiskusi entah apa.
Karena saya merasa saya harus segera memesan tiket karena takut kehabisan, saya langsung mendatangi loket yang saat itu kosong untuk memesan tiket tersebut. Ternyata si petugas di loket tersebut langsung menjawab bahwa tiket tersebut habis. Saya komplain dengan menyebutkan bahwa di layar besar disebutkan masih ada 3 tiket tersedia. Dia lantas mengetik sesuatu di komputer lagi (entah apa, saya tidak dapat melihatnya), menelepon entah siapa, lalu kembali mengatakan kepada saya bahwa tiket tersebut memang habis. Dia lantas mempersilakan saya untuk kembali melihat layar besar tadi.
Ternyata di layar besar terpampang bahwa tiket sudah habis. Oke, saya mulai merasa aneh. Namun saya tetap mencoba berpikir positif bahwa mungkin 3 tiket tersebut terjual di sela waktu antara ketika saya melihat layar besar pertama kali dan ketika saya memesan tiket (meskipun selang waktunya kurang dari 3 menit dan seingat saya saat itu loket kosong). Nah, di tengah kebingungan saya dalam memutuskan alternatif untuk pulang, petugas lain yang berpakaian kuning (petugas pembawa barang?) menawarkan apabila saya mau membeli tiket. Dia meminta saya mengikutinya menuju ke temannya di luar stasiun, dan berhubung saya memang perlu pulang ke Pekalongan, saya coba mengikuti mereka. Ternyata mereka menawarkan tiket seharga 450 ribu rupiah dari harga normal 280 ribu rupiah. Tanpa menjawab sepatah kata pun, saya berbalik meninggalkan mereka :p
Saya kembali ke layar besar, dan memutuskan untuk mengambil kereta terpagi keesokan harinya. Saya lantas menuju loket untuk memesan tiket tersebut – saat itu pukul 21.15. Namun, alangkah terkejut ternyata sang petugas loket menanyakan kepada saya, apakah saya mau naik kereta malam itu juga, dia bilang masih ada tiket. Saya refleks bertanya, mengapa tadi dibilang habis? Dia tidak bisa memberikan jawaban selain bahwa ternyata masih ada tiket
Hahaha. Baru kali ini saya dipermainkan dalam hal pengurusan tiket ini, meskipun mohon maaf saja, saya tetap tidak mau membayar lebih. Apa yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini? Lagi-lagi mohon maaf kepada PT KAI, tetapi sekarang yang ada di dalam benak saya adalah, apabila calon penumpang memesan tiket kereta api di hari H terutama di jam-jam menjelang keberangkatan, tiket akan dianggap habis supaya calon penumpang hanya membeli melalui pihak lain dengan harga yang jauh lebih mahal. Nah, baru jika tiket tersebut tidak laku, di menit-menit terakhir tiket tiket akan kembali dijual di loket, untuk meladeni calon penumpang yang desperate (termasuk saya ketika itu, akhirnya saya tetap naik kereta api malam itu dengan harga normal
). Itulah yang saya alami malam itu, dan mungkin saja banyak dialami oleh calon penumpang lain.
Oh ya, saya tegaskan disini saya tidak mendiskreditkan pihak manapun. Siapa yang mengambil keuntungan pun saya tidak tahu. Saya hanya mengemukakan fakta yang terjadi kepada saya malam itu, yang melibatkan pihak-pihak tersebut diatas. Apabila pembaca ada yang mengalami hal serupa atau bahkan lebih parah, silakan dishare. Akhirnya, semoga PT KAI dapat membenahi metode penjualan tiket
Tentang Konsultan, Tentang BCG (Boston Consulting Group)
“Kamu coba deh daftar BCG”
Begitu kata salah satu sahabat terbaik saja, Zaky, ketika kami mengobrol-ngobrol sekitar 2 tahun lalu, soal pilihan apa yang ingin ditempuh setelah lulus dari ITB. Saat itu saya tidak tahu apa itu BCG – yang belakangan saya ketahui merupakan singkatan dari Boston Consulting Group. Yang saya pikirkan soal opsi buat saya ketika itu adalah bekerja di perusahaan IT (terutama yang besar) agar dapat memperoleh banyak pengalaman sebelum melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan kembali untuk membagikan ilmu dan pengalaman tersebut di tanah air.
Akhirnya saya telusuri situs BCG (saya benar-benar telusuri setiap halaman dan dokumen yang ada disana), bertanya-tanya kepada rekan dan senior (kebetulan saat itu ada senior yang bekerja disana) hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa BCG adalah salah satu perusahaan terbaik di dunia yang bergerak di bidang konsultan manajemen strategis, yaitu memberikan jasa konsultasi dalam mendesain dan implementasi berbagai strategi bisnis, misalnya meningkatkan pendapatan, ekspansi ke bidang industri atau negara lain, akuisisi, dan sebagainya.
Awalnya saya sedikit ragu untuk mencoba karena latar belakang pendidikan yang sepertinya kurang nyambung (IT). Meskipun demikian, sepertinya disana banyak analisis mendalam (mengolah data, mengambil kesimpulan, dsb) yang perlu dilakukan dalam pekerjaan yang sepertinya pun bisa mengasah otak saya, dan ini menbuat saya tertarik. Hal lain yang membuat saya condong untuk mendaftar yaitu informasi bahwa konsultan akan terekspos dengan pimpinan perusahaan-perusahaan besar (terutama klien), hal yang langka untuk seorang lulusan S1.
Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar BCG. Mungkin ada yang bertanya, kenapa saya tidak consider perusahaan konsultan manajemen lainnya seperti McKinsey, AT Kearney, dsb? Sederhana saja, selera
Saya menelusuri situs BCG, datang ke presentasi mereka di Shangrilla, bertanya ke orang-orang disana, dan akhirnya merasa ini gue banget hehe. Maka setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan persiapan untuk masuk kesana. Saya akan menceritakan soal persiapan ini pada kesempatan lain (beserta tips yang saya tahu), namun intinya itu bukan proses yang gampang, sehingga pastikan kalau Anda ingin masuk BCG, lakukan persiapan matang
Dan bulan November 2009, saya memulai perjalanan saya di BCG – dan apa yang saya duga sebagian besar ternyata benar. Kalau saya boleh rangkum, ada dua hal yang membuat BCG perusahaan yang menurut saya sangat baik untuk menjadi pilihan teman-teman yang baru lulus S1. Poin pertama adalah eksposur yang sangat tinggi. Setelah dua hari pertama orientasi, saya langsung ditempatkan di proyek bagi perusahaan dunia yang bergerak di bidang consumer goods (bagi yang belum tahu, perusahaan ini membuat produk makanan/minuman/alat perawatan diri yang dapat ditemukan di supermarket/warung). Dan dalam proyek tersebut, saya berinteraksi dengan kepala perusahaan dunia tersebut untuk cabang Indonesia, dan pada akhirnya dengan kepala cabang Asia Pasifik. Wow, saya tidak membayangkan saya dapat berinteraksi dengan mereka pada usia demikian apabila saya bekerja di bidang lain.
Contoh lainnya adalah ditempatkan dalam proyek bagi salah seorang terkaya di Indonesia. Pada akhir proyek, saya beserta tim BCG duduk satu meja dengan orang tersebut (yang saya sering dengar namanya, namun baru pertama kali ini melihat dalam jarak dekat). Dan yang lebih istimewa, kami berdiskusi dalam konteks sejajar, artinya bukan hanya saya mendengarkan beliau berbicara, melainkan saya dan tim BCG mempresentasikan hasil proyek kami, lalu beliau menanggapi dan berdiskusi. Sekali lagi, ini kesempatan langka yang saya yakin sulit ditemui di perusahaan lain.
Poin kedua adalah mobilitas yang tinggi, baik dalam bidang pekerjaan maupun dalam wilayah pekerjaan. Dalam bidang pekerjaan, selama 1,5 tahun ini saya sudah menangani proyek di bidang industri consumer goods, industrial goods, sektor publik, IT, retail, dan perbankan. Saya merasa beruntung karena saya saat ini, meskipun tentunya masih jauh dari ahli, tetapi cukup familiar dengan tiap bidang industri tersebut – bagaimana bisnis berjalan, apa-apa yang harus diperhatikan dalam tiap industri, dan sebagainya.
Mengenai wilayah pekerjaan? Semenjak kerja di BCG, saya lumayan familiar dengan penerbangan beberapa kali dalam satu minggu hehe. Pernah dalam satu proyek, saya harus mewawancarai dua orang berbeda di dua kota berbeda – Medan dan Denpasar – dengan selisih satu hari! Jadilah saya pada hari Rabu malam terbang dari Jakarta ke Denpasar, lalu melakukan wawancara di hari Kamis, lalu malam harinya terbang dua kali – dari Denpasar ke Jakarta lalu dari Jakarta ke Medan, dan pada hari Jumat saya melakukan wawancara di Medan, lalu malam harinya kembali ke Jakarta. Pada proyek lainnya, saya bahkan harus berada di tiga negara dalam tiga hari (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) – kurang mobile apa coba
Menurut saya dua poin tersebut sangat bermanfaat terutama bagi orang-orang yang baru lulus S1 karena hal tersebut tidak akan membuat bosan
Malahan, saya dituntut untuk selalu belajar cepat (terutama ketika memulai proyek baru yang pasti akan sangat berbeda dengan proyek sebelumnya). Karena tiap proyek rata-rata berdurasi 3 bulan, besar kemungkinan setelah kita familiar dengan proyek tersebut (sehingga mulai jenuh), kita akan ditempatkan di proyek lain dengan tantangan dan hal yang sama sekali baru.
Apakah ada trade-off? Tentu saja tidak ada pekerjaan yang sempurna. Pekerjaan di BCG menuntut hasil kerja berkualitas tinggi, sehingga waktu kerja kami cenderung lebih tinggi daripada pekerja kantoran pada umumnya. Tetapi hey, karena saya menyinggung orang yang baru lulus S1, bukankah sudah terbiasa dengan tuntutan seperti ini? Hehe.
Sampai kapan saya berencana untuk bekerja di BCG? Untuk saat ini, bulan ini adalah bulan terakhir saya di BCG. Bukan, bukan karena ada hal yang tidak saya sukai di BCG. Malahan, saya merasa sangat bersyukur bisa kerja di BCG, dan saya merekomendasikan BCG sebagai tempat kerja bagi mereka yang ingin tantangan karir terutama terkait dua poin diatas (dan remunerasi tinggi hehe
). Namun, ternyata saat ini saya memiliki passion lain yang ingin saya kembangkan, yaitu merintis usaha sendiri. Ke depannya, mulai Mei 2011 saya akan menjadi direktur di http://www.suitmedia.com bersama sahabat saya Zaky yang saya sebut di awal dan teman-teman lain disana (cerita tentang perusahaan yang satu ini pun akan saya tulis pada kesempatan lain
).
Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada BCG, terutama cabang Asia Tenggara, dan lebih khusus lagi cabang Indonesia, untuk pengalaman yang luar biasa selama 1,5 tahun ini. Semoga BCG bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Untuk saat ini, adios!
Menghitung kerugian macet Jakarta
(Catatan: Sebenarnya versi ringkas postingan ini pernah saya tweet beberapa waktu lalu, namun saya tuliskan kembali disini supaya memperjelas)
Oke, resolusi saya tahun ini adalah menulis minimal tiap dua minggu, jadilah saya sekarang menulis soal satu kata yang tidak enak didengar ini. Macet. Siapa sih yang tidak kenal. Apalagi bagi penduduk Jakarta, macet sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Jarak yang seharusnya ditempuh selama 15-30 menit dapat menjadi 2-3 jam. Bahkan menurut saya, macet nampaknya adalah salah satu masalah terbesar yang melanda ibukota (selain masalah kemiskinan dan pemukiman).
Sebelumnya saya hanya merasakan kerugian emosional akibat macet ini. Kesal karena kendaraan yang saya naiki tidak jalan-jalan, khawatir datang terlambat karena waktu tempuh yang diluar perkiraan, dan semacamnya. Saya lantas berpikir (sambil meratapi nasib terkurung di tengah kemacetan), bahwa macet ini pasti juga menimbulkan kerugian materi.
Akhirnya saya mencoba menghitung-hitung dan terpikir akan dua kerugian utama yang ditimbulkan oleh kemacetan. Pertama, waktu produktif, yaitu waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja/beraktivitas yang terpotong gara-gara kemacetan. Kedua, pemborosan bensin, yaitu bensin yang terbuang gara-gara kendaraan terjebak di dalam kemacetan. Mari kita lihat satu per satu – oh iya, saya disini tidak mencari data di luar yang saya tahu (karena hanya hasil menghitung-hitung sambil nunggu si kendaraan bergerak). Kebanyakan berupa asumsi, jadi kalau ada yang keliru, silakan dikoreksi
Nah, mengenai waktu produktif yang terbuang. Seorang rekan kerja dari pinggiran Jakarta bilang dia membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di kantor (padahal biasanya di akhir pekan dia hanya menghabiskan sekitar 20 menit untuk jarak yang sama). Dengan demikian, ada 1 jam 40 menit waktu yang terbuang di setiap perjalanan, atau 3 jam 20 menit di setiap harinya (dikali dua karena setiap hari tentunya bolak balik). Mari kita buat asumsi rata-rata menjadi 2 jam (karena ada orang-orang yang tidak separah itu mengalami kemacetan, ”hanya” sekitar 45 menit hingga 1 jam setiap perjalanan).
Dengan asumsi setiap hari orang rata-rata bekerja 8 jam, dan gaji rata-rata penduduk Jakarta lebih kurang 2,5 juta rupiah per bulan, berarti per bulan terdapat kerugian waktu efektif dari kemacetan senilai 2 jam / 8 jam x 2,5 juta rupiah atau sebesar 625.000 rupiah. Apabila kita asumsikan ada 5 juta penduduk Jakarta yang bekerja, berarti total waktu efektif yang terbuang dalam setahun adalah 625.000 rupiah x 12 bulan x 5 juta jiwa = 37,5 triliun rupiah. WoW. Saya kaget.
Hitungan belum selesai. Sekarang mari kita hitung kerugian yang ditimbulkan akibat pemborosan bensin. Mari kita asumsikan terdapat 10 juta kendaraan di Jakarta (ada yang tahu jumlah pastinya?) dan rata-rata kendaraan memboroskan 0.5 liter per hari akibat kemacetan (ada yang punya data pastinya lagi?). Dengan kedua asumsi tersebut, maka bensin yang terbuang per tahun adalah 10 juta x 0.5 liter x 250 hari kerja = 1,25 miliar liter. Dengan harga premium sebesar 4500 rupiah per liter, ini berarti sekitar 5,6 triliun rupiah. WoW lagi.
Artinya, jika dijumlahkan berarti total kerugian akibat macet di Jakarta dalam satu tahun itu 43,1 triliun rupiah. Jumlah yang sangat besar. Sebagai gambaran, jika jumlah rakyat miskin di jakarta ada 1 juta orang, maka uang 43,1 triliun dapat digunakan untuk memberi subsidi kepada rakyat miskin di Jakarta sebesar 43,1 juta rupiah per tahun. Sangat sangat Wow. Bayangkan potensi yang dapat disalurkan apabila kemacetan Jakarta dapat diatasi. Saya pasti akan mendukung gubernur yang memiliki program jelas untuk mengatasi masalah ini (berhubung tahun depan Pilkada DKI, mohon kepada para calon untuk sangat-sangat memikirkan hal ini
).
Oh, sebagai penutup, sebelum saya mempublish postingan ini, saya mencoba googling dan menemukan artikel-artikel yang menyatakan kerugian Jakarta berkisar antara 28 hingga 46 triliun. Bahkan setelah membaca artikel ini http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/09/05/29/53013-kerugian-kemacetan-jakarta-rp-43-t ternyata ada pengamat politik yang mengeluarkan estimasi kerugian yang sama dengan saya
Jadi yah, estimasi saya tidak keliru-keliru amat lah, meskipun tentu saja berapa jumlah pastinya, hanya Yang Di Atas yang tahu. Meanwhile, mari yuk berkontribusi untuk mengurangi kemacetan, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke sarana transportasi umum atau sepeda









Recent Comments